Asuransi dan Kecelakaan Pesawat Terbang

Pusat Studi Air Power Indonesia tanggal 22 Juli 2020 yang lalu melaksanakan Virtual Meeting yang ke tiga kalinya. Kali ini pembicaranya adalah Bapak Sofian Pulungan Mantan Direktur Utama PT. Asuransi Tugu Pratama Indonesia dan juga pernah menjabat Direktur Utama PT. Citra International Underwriters.

Pembahasan yang menarik dengan topik “APBN Tergerus Operasi SAR. Apa Kabar Ganti Rugi Korban Kecelakaan Pesawat Terbang”. Sofian Pulungan dengan jelas memaparkan kasus claim asuransi kecelakaan pesawat terbang, yang konon sampai sekarang belum juga tuntas.

Kemudian beliau menjelaskan proses claim asuransi dalam hal terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Bagaimana seharusnya asuransi diberlakukan dalam kasus tersebut.

Jika terjadi suatu kecelakaan pesawat, maka Badan SAR Nasional segera melakukan operasi SAR. Dana Operasi SAR dibiayai oleh APBN. Menurut  Sofian sebenarnya dana ini bersifat dana talangan APBN kepada Basarnas. Sebenarnya yang harus menyelesaikan biaya oerasi SAR itu adalah pihak Asuransi dari Airline yang pesawatnya mengalami kecelakaan.

Pihak Asuransi dari Airline yang bersangkutan berkewajiban menangung semua biaya yang berkaitan dengan Operasi SAR. Ketentuan ini terdapat Kontrak Asuransi Supplementary Payments Clause pada pasal-pasal dalam AVN 76, mengenai keharusan membayar ongkos SAR yang ditalangi oleh Negara. Pasal-pasal tersebut antara lain adalah :

“Any reasonable expenses incurred for the purpose of SAR operations for an aircraft insured hereunder determined to be missing and unreported after the computed maximum endurance of the flight has been exceeded.

Semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan operasi SAR, untuk pesawat yang diasuransikan  yang dinyatakan hilang atau tidak melakukan laporan setelah melewati batas waktu maksimal yang dihitung dari bahan bakar yang tersedia.

“Any reasonable expenses incurred for the purpose of attempted or actual
raising, removal, disposal or destruction of the wreck of an aircraft insured hereunder and the content thereof”

“Semua biaya yang terjadi untuk usaha atau mengangkat, memindahkan, memusnahkan atau menghancurkan bangkai pesawat yang diasuransikan beserta isinya”

“Any reasonable expenses which the insurance may be called upon to pay in respect of any public inquiry or inquiry by the Civil Aviation Authority or any other relevant authority into an Accident involving an Aircraft insured hereunder”

Semua biaya yang mungkin dibayarkan oleh pihak asuransi untuk hal yang berhubungan dengan pertanyaan masyarakat atau pertanyaan dari Otoritas Penerbangan Sipil atau otoritas lainya yang relevan, terhadap kecelakaan pesawat yang diasuransikan.

Sumber : Sofian Pulungan mantan Dirut. PT. Asuransi Tugu Pratama Indonesia.

Pasal-pasal Kontrak Asuransi Supplementary Payments Clause AVN 76 itu sangat jelas. Hanya saja pada prakteknya proses claim asuransi ini tidak segera dapat diselesaikan dengan tuntas. Hal inilah yang seyogyanya menjadi perhatian bersama. Negara sebenarnya hanya memberi dana talangan, jika terjadi Operasi SAR. Dan pada saatnya Institusi Penjamin Asuransi dari Airline yang bersangkutan lah yang harus mengganti biaya asuransi yang telah dikeluarkan oleh Negara tersebut.

PENUMPANG

Bagaimana dengan penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan pesawat terbang? Pada kebanyakan kasus, para penumang dan para ahli warisnya sangat awam mengenai proses claim asuransi ini. Ini menjadi salah satu sebab proses penyelesaian claim asuransi berlarut-larut dan tidak kunjung tuntas.

Secara garis besar jumlah claim asuransi untuk korban meninggal dunia adalah sebesar Rp. 1,28 milyar per orang. Dan itu harus dibayarkan tanpa ada syarat apa pun. Jumlah itu adalah santunan murni.

Mengenai hal ini Sofian Pulungan mengatakan bahwa santunan harus diberikan tanpa ada embel-embel dengan tambahan syarat tertentu. Misalnya pada kasus Boeing B-737 Max 8, yang jatuh di Tanjung Karawang, ada klausul bahwa para penerima claim asuransi tidak akan menuntut Boeing mengenai terjadinya kecelakaan. Yang semacam itu sebenarnya tidak ada.

Sudah tentu para lawyer dari Perusahaan Asuransi akan berusaha keras membantu Airline client-nya. Dan ini dimungkinkan akan merugikan para pihak yang semestinya memperoleh ganti rugi dari suatu kecelakaan pesawat terbang.  Itulah mengapa hal itu menjadi salah satu sebab, claim asuransi tidak pernah tuntas sampai sekarang.

Semoga apa yang dibahas dan dipaparkan oleh Bapak Sofian Pulungan dalam Virtual Meeting Pusat Studi Air Power Indonesia itu, akan memberi tambahan pengetahuan, wawasan dan informasi yang bermanfaat bagi perbaikan proses claim asuransi di negara kita tercinta.

HL : KMO – Kamis, 23 Juli 2020
Stay At Home

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *