Belajar Dari Nabi Nuh

Nabi Nuh Alaihi Salam (3993 SM-3043 SM), berusia 950 tahun. Wilayah dakwahnya di sebelah selatan Irak. Berputera 4 orang : Sam, Ham, Yafits dan Kan’an. Wafat di Mekkah. Namanya diisebut dalam Al-Qur’an sebanyak 43 kali.

Kisahnya yang fenomenal adalah Perahu Nabi Nuh. Bagaimana atas perintah Allah, Nabi Nuh membangun kapal berukuran besar. Perahu ini digambarkan memiliki panjang 360 hasta, kira-kira 157 meter panjangnya. Lebarnya 50 hasta.

Perahu ini memiliki 3 tingkat. Tingkat pertama untuk binatang. Tingkat ke dua untuk manusia dan yang ke tiga untuk burung-burung. Kapal ini jauh lebih panjang daripada kapal-kapal kayu terbesar, yang pernah dibangun dalam masanya. Para ahli yakin bahwa Nuh telah membangun Perahu itu dengan teknik-teknik yang telah maju dari masa setelah abad ke-19.

Kisah Perahu Nabi Nuh sudah berulang-kali kita dengar. Kisah ini sebenarnya sangat inspiratif, mengandung makna yang dalam. Bagaimana Allah membuktikan ancaman-NYA, barangsiapa yang tidak taat dan mengingkari-NYA akan mendapat bencana yang tidak biasa. Marilah kita mencoba memahaminya.

Banjir besar itu diperkirakan terjadi tahun 2349 SM. Kitab Yobel menyebut tahun 2309 SM. Sarjana fundamentalis Kristen, Gerhard F. Hasel mengatakan air bah itu terjadi antara tahun 3402 SM – 2462 SM.

Alkisah … setelah Nabi Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang masuk ke dalam perahu besar itu, maka pada hari itu terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi 40 hari 40 malam lamanya.

Banjir menutupi daratan. Bahkan gunung-gunung yang tertinggi sekali pun tenggelam. Dan segala makhluk di muka Bumi pun lenyap terendam air. Hanya Nabi Nuh dan mereka yang ada di dalam perahu yang selamat dan hidup.

Setelah 150 hari, perahu pun akhirnya berhenti di Gunung Ararat. Air terus menyurut. Dan setelah sekitar 70 hari berikutnya, puncak-puncak bukit pun bermunculan. Nuh melepaskan seekor burung gagak yang terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.

Kemudian Nabi Nuh melepaskan seekor merpati, tetapi burung itu kembali karena tidak menemukan tempat untuk hinggap. Setelah tujuh hari lagi, Nuh kembali mengeluarkan burung merpati, dan burung itu kembali dengan sehelai daun zaitun di paruhnya.

Nabi Nuh pun tahu bahwa air telah surut. Nabi Nuh menunggu tujuh hari lagi dan mengeluarkan burung merpati itu sekali lagi. Kali ini burung itu tidak kembali. Lalu Nabi Nuh, keluarganya dan 80 orang pengikutnya serta semua binatang meninggalkan perahu.  Menurut Kejadian 7:11-12, Nabi Nuh berada diatas kapal selama satu tahun dan 10 hari. Lama sekali!

Nabi Nuh tidak akan lagi meminta Allah untuk menghukum ummatnya. (QS. Nuh : 26-27). Ternyata pembalasan Allah, sungguh sangat mengerikan.

Itu kisah yang luar biasa. Allah mempunyai cara untuk memperbaiki kembali sesuatu yang rusak. Dan mengembalikan yang rusak menjadi baru dan lebih baik lagi. Sebelum Allah melakukan pembalasan, orang-orang yang berada dalam jalan-NYA, “diselamatkan” lebih dahulu. Baru bencana diturunkan.

Pada masa sekarang ini, dalam skala kecil beberapa kali terjadi proses “perbaikan” ini dilakukan, antara lain dengan : tsunami, gempa bumi, gunung meletus dan lainnya. Itu adalah sebagian dari cara Allah membersihkan alam semesta. Dan pasti ada orang yang diselamatkan-NYA lebih dulu dari bencana semacam itu.

 BELAJAR BARI NABI NUH

Rasanya kita dapat mengambil hikmah dari kejadian yang sangat luar biasa ini. Banyak hal yang dapat kita pelajari. DR. Fahrudin Faiz menyebutkan ada 8 hal yang dapat kita renungkan dan fahamkan lebih mendalam dari Kisah Perahu Nabi Nuh ini.

Pertama, jangan terlambat naik perahu. Pada suatu kondisi tertentu ada situasi semacam Perahu Nuh tadi. Jangan terlambat naik dan ikutlah bersama sang penyelamat. Penyelamat itu bisa saja orangtuamu, rekan dan sahabatmu, guru spiritualmu atau yang lainnya. Jika terlambat naik, lenyaplah kamu.

Ke dua, ingatlah kita berada dalam perahu yang sama. Mesti bekerjasama, saling mendukung, saling memberi semangat, saling bersinergi dan saling berbagi demi keselamatan bersama. Jangan egois, apalagi hanya mengurus kepentingan sendiri saja.

Ke tiga, biasakan membaca dan merencanakan masa depan. Perahu Nabi Nuh dibuat tidak pada musim hujan dan berada jauh di daratan. Semua persiapan mesti dilakukan untuk menghadapi masalah dan bersiap berpindah ke kehidupan yang baru.

Ke empat, jaga kesehatan. Sehat penting. Barangkali anda masih ditugasi untuk melakukan sesuatu hal yang penting, seperti halnya Nabi Nuh ketika membuat perahu; beliau sudah cukup tua.

Ke lima, jangan terpengaruh kritik. Betapa Nabi Nuh ditertawakan. Semua mencemoohkannya. Bahkan diangga gila. Sebab membuat perahu pada musim kemarau dan di daratan yang jauh dari laut. Tapi Nabi Nuh bergeming. Terus bekerja. Dan terus melanjutkan membangun perahunya, tanpa mempedulikan kritik. Kritik boleh didengar, tetapi jangan mematahkan semangat.

Ke enam, kunci keberhasilan adalah kebersamaan dan berpasangan. Nabi Nuh dengan 80 pengikutnya berada diatas kapal sangat lama. Dan faktor kebersamaan menjadi sangat penting ketika menghadapi semua situasi genting itu. Berpasang-pasanganan adalah kontinuitas untuk melanjutkan kehidupan berikut. Menurunkan generasi baru agar mereka mampu meneruskan hidup sebagai khalifah Allah.

Ke tujuh, kecepatan atau kelebihan tidak selalu sebagai keuntungan. Seekor kijang dan siput di dalam perahu sama saja kecepatannya. Jangan terlalu sombong dengan kelebihan dan kehebatanmu. Jangan arogan. Jangan sok. Hargailah orang lain. Kemampuan orang tidak sama, tetapi dapat dimanfaatkan untuk saling mendukung dan mengejar target bersama.

Ke delapan, perahu dibangun oleh amatir tetapi yang berpegang kepada panduan Allah Swt. Keahlian dan kepandaian tetap harus berpegang kepada kehendak Allah. Allah yang menentukan keselamatanmu. Sementara itu, Titanic dibangun oleh para profesional, dengan teknologi hebat. Pembuatnya begitu bangga sampai mengatakan : “Titanic tidak mungkin akan tenggelam!” Ternyata Titanic lumpuh! Terbenam ke dasar laut, terkubur oleh kebanggaannya.Mereka mengabaikan Allah Yang Maha Segala.

Akhirnya mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari kisah Nabi Nuh yang fenomenal ini. Dalam skala yang lebih kecil, banyak kasus “Perahu Nuh“ dalam kehidupan sehari-hari. Kita mesti cerdas dalam menghadapi, menyikapi dan  mengantisipasinya.

Wallahu’alam bishshawab  …

KMO, Senin 22 Juni 2020
KPA : Di Rumah Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *