Sunan Kalijaga

Hampir semua orang Indonesia mengenal Sunan Kalijaga (1450-1586). Salah satu dari Wali Songo yang fenomenal. Nama kecilnya Raden Said, putera dari Tumenggung Wilwatikta Tuban dengan Dewi Retno Dumilah. Ketika muda Raden Said terkenal bengal dan berandalan. Merampok dan membongkar gudang logistik milik Kadipaten, kemudian membagikan hasilnya bagi rakyat kecil.

Suatu saat Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang dan akan merampas tongkatnya, yang terlihat terbuat dari emas. Sunan Bonang menasehati : “Bukan begitu caranya berbuat baik. Kalau mau emas, ambil itu saja!” Dan buah kelapa yang dtunjuk Sunan Bonang, berubah menjadi emas. Raden Said tunduk dan akhirnya diangkat menjadi murid Sunan Bonang. Kehidupannya berubah setelah itu.

Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putera: Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah. Maulana Ishak memiliki anak bernama Sunan Giri dan Dewi Saroh.

Suatu prestasi tersendiri bagi Wali Songo. Sejarah mencatat sejak abad 7 sampai ke 12, tidak banyak pemeluk Islam di Jawa. Setelah abad ke 12 dan Wali Songo masuk dengan metode dakwahnya, maka dalam waktu 2 abad hampir seluruh Jawa memeluk Islam.

Sunan Kalijaga salah satu dari Wali Songo, yang dianggap memiliki darah Jawa. Walaupun ada yang mengatakan Sunan Kalijaga berdarah Arab, bahkan ada yang menulis keturunan China. Sumber lain mengatakan Songo itu bukan bahasa Jawa untuk angka sembilan. Songo berasal dari kata Sang Ha, yang artinya mulia atau kumpulan para wali. Jadi Wali tidak selalu berjumlah sembilan.

Sunan Kalijaga berusia panjang, lebih dari 100  tahun. Beliau terlibat dalam politik dan perubahan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Jawa. Sejak masa akhir kerajaan Brawijaya, Demak, Banten, Cirebon, Pajang sampai naiknya Sutawijaya menjadi Panembahan Senopati raja pertama Mataram.

GURUNYA ORANG JAWA

Kelebihan Sunan Kalijaga adalah kemampuannya memasukkan ajaran Islam melalui proses akulturisasi, melalui kebudayaan dan seni. Alih-alih menimbulkan kekerasan, beliau berhasil membuat Islam dapat masuk dengan lembut dan mengubah masyarakat memeluk Islam. Sunan Kalijaga anti konfrontasi. Metodenya ibarat mengambil ikan di kolam. Ikannya dapat, kolamnya tidak keruh.

Sunan Kalijaga memasuki budaya Jawa dengan berbagai cara : menciptakan wayang, mengarang cerita, membuat gamelan, menciptakan tembang, menulis Suluk Dewaruci, Suluk Linglung dan yang serupa dengan itu. Termasuk mistik. Pada masa itu dunia mistik masih kuat di Jawa. Dan Sunan Kalijaga sesekali menunjukkan karomahnya untuk meyakinkan para ummat dan pengikutnya.

Cara berdakwah dengan berbaur dengan budaya setempat di Jawa, membuat Sunan Kalijaga diangap sebagai Guru Tanah Jawa.

Lir ilir
Tandure
wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro Dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako surak hiyoo

Tembang ilir-ilir menggambarkan kehidupan baru, setelah Islam memasuki tanah Jawa. Pengantin baru diibaratkan raja-raja Jawa yang mulai memeluk Islam. Cah Angon adalah para imam dan pembimbing yang mampu membawa kaumnya ke arah kebaikan. Ikutilah keyakinan baru Islam. Dan belimbing bersegi 5, tegakkan Rukun Islam yang lima. Walau sesulit apapun. Belimbing itu untuk mencuci pakaian yaitu iman. Iman yang robek harus dibersihkan dan diperbaiki untuk menghadap Sang Khalik. Mumpung hidayah masih terbuka, mumpung kesempatan masih ada. Marilah bersorak, mengikuti seruan Rasulullah.

Itu sebuah makna yang sungguh sangat dalam yang tersembunyi dengan apik, dibalik syair-syair tembang yang tampak sederhana. Seperti tembang guyonan saja.

Sunan Kalijaga mempunyai pedoman : Anglaras ilening banyu. Angeli nanging ora keli. Merasakan aliran air. Ikut hanyut mengikuti arus, tetapi tidak terhanyut.

Salah satu yang cukup fenomenal yang masih ada sampai sekarang adalah Kidung Rumeksa Ing Wengi. Kidung ini dianggap sebagai penolak bala. Nenek saya di Gombong, dulu selalu mendendangkan Kidung ini sebelum tidur atau ketika menidurkan cucu-cucunya.

Dalam dakwah, Sunan Kalijaga mempunyai pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Pahamnya cenderung “sufistik berbasis salaf”, bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Oleh sebab itu mereka harus didekati secara bertahap : mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Beliau menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa tembang suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Sunan Kalijaga menggagas Baju Takwa, perayaan Sekatenan, Garebeg Maulud dan lakon carangan wayang : Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu.

Konsep lansekap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Gundhul gundhul pacul cul
gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul
Gembelengan
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar

Seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang memiliki mahkota (kekuasaan) melainkan orang yang membawa kesejahteraan bagi rakyat. Sayang si pemimpin tidak hati-hati, sehingga congkak atau sembarangan. Bukan menjunjung amanah rakyat, malah menjadi sombong dan sembarangan. Akibatnya amanah rakyat jatuh karena sikap sombong si pemegang amanah. Hasil yang sudah diperoleh menjadi sia-sia dan tidak bermanfaat.

 MITOS

Banyak mitos mengenai Sunan Kaljaga. Salah satu tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal  (potongan-serpihan kayu), konon dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Kisah lainnya. Pada suatu hari Jum’at Sunan Kalijaga melihat para santrinya masih asyik mencari ikan di sungai. Sunan menegur dan menyuruh para santrinya untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Jumat. Tetapi sampai shalat Jumat selesai, para santrinya masih berada di sungai  Sunan Kalijaga pun jengkel dan berkata : “Hanya monyet yang tidak mau beribadah”.

Dan para santrinya pun berubah menjadi monyet! Jumlah kera berekor panjang itu 99 ekor. Konon jumlahnya tidak pernah berubah, tetap 99 ekor. Sampai sekarang monyet-monyet itu masih hidup di sekitar lokasi itu. Situsnya ada di Taman Kera Kalijaga, Harjamukti – Cirebon.

 SULUK LINGLUNG

Suluk Linglung tulisan Sunan Kaljaga ini tersimpan sangat lama. Baru “ditemukan” oleh seorang Kyai keturunan Sunan Kalijaga yang ke 14, melalui isyarat dalam mimpi. Melalui petunjuk dalam mimpinya, Kyai tersebut dapat menemukan bentuk fisik catatan Syair Suluk Linglung dalam bentuk tembang Jawa. Bisa dibayangkan berapa jarak waktu sejak suluk itu ditulis, sampai diketemukan? Lama sekali. Isinya mengisahkan proses Sunan Kalijaga mencari dan menemukan dirinya.

Suluk yang ditulis dalam bahasa Jawa ini ini menginspirasi banyak orang. Pada tahun 1884 seorang pujangga dari Surakarta bernama Iman Anom yang masih keturunan Sunan Kalijaga, menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Konon Suluk Linglung merupakan salah satu karya sastra Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih jarang ditemukan dalam literatur Jawa.

Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga menjelaskan guru-gurunya adalah Sunan Bonang dan Nabi Khidir. Mengingat ini bersifat batiniah dan spiritual, barangkali pertemuan dengan guru-gurunya itu bukan secara fisik. Bisa jadi itu pertemuan di alam batin.

Syair Suluk Linglung terdiri dari 6 pupuh tembang dan 198 bait. Berisi penjelasan yang penuh makna dan metafora. Isinya tidak dapat dimaknai begitu saja seperti yang tersurat. Banyak yang tersirat yang baru dapat ditangkap maknanya, dengan pemahaman yang tinggi.

Isinya adalah sebagai berikut  : (alangalangkumitir.blogspot.com)

  1. Bramara Ngisep Sari – Pupuh I Dhandhanggula (8 bait) : tentang Syekh Malaya (Sunan Kalijaga) berhasrat besar mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi Wali. Ibarat kumbang ingin menghisap madu / sari bunga.
  2. Kasmaran Branta Pupuh II Asmaradhana (23 bait) : isinya tentang Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, serta wejangan-wejangan yang diterimanya.
  3. Pupuh III Durma (22 bait) : Episode III : Sunan Kalijaga diperintahkan ibadah haji ke Mekah dan bertemu dengan Nabi Khidir di tengah samudera.
  4. Sang Nabi Khidir  – Pupuh IV Dhandhanggula (26 bait) : dialog antara Syekh Malaya dengan Nabi Khidir. Isinya wejangan tentang Hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya.
  5. Pupuh V Kinanthi (67 bait) : berisi ajaran Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu Yakin, Ainul Yakin, Ma’rifatul Yaqin dan Iman Hidayat serta sifat-sifat yang terpuji.
  6. Pupuh VI Dhandhanggula (52 bait) : isinya Sunan Kalijaga menerima wejangan dari Nabi Khidir.

Dalam pupuh ke tiga tentang pertemuan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir, isinya hampir persis sama dengan bertemunya Sang Bimasena dengan Dewaruci. Cerita wayang yang sarat dengan metafora dan makna hidup.  Dalam Suluk Linglung, kisah itu adalah pertemuan antara Syekh Malaya (Sunan Kaljaga) dengan Nabi Khidir. 

Ini menjadi bukti kecerdasan Sunan Kalijaga dalam menciptakan cerita, sebagai sarana dakwah. Beliau piawai dalam membuat metafora, mengibaratkan sesuatu dengan sangat cerdas, cermat dan menjelaskan dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan difahami.

Beberapa bait dalam Suluk Linglung mengajarkan tentang proses pencapaian mengenal diri, bagian dari proses Manunggaling Kawulo-Gusti. Marilah kita mencoba menyimak beberapa diantaranya :

  • “Kalau tidak ada dirimu, saya Allah tidak akan dikenal / disebut; Hanya dengan sebab adanya kamulah yang menyebutkan akan keberadaan-KU; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu, Adanya Aku, Allah, menjadikan ada dirimu. Dan wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-KU”. (Pupuh Kinanthi)
  • Janganlah seperti itu orang hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya blencong itu. Ibarat panggung kehidupan. Lampunya bulan purnama. Layarnya ibarat alam jagad raga yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir / kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat mukimnya wayang / manusia. Hidupnya ditunjang oleh yang nanggap. (Pupuh Dhandhanggula)
  • Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak diganggu siapa pun boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang premana dalangnya / sutradaranya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara, ke selatan dan barat serta ketimur. Seluruh gerakannya. Digerakkan oleh sutradara. Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang. (Pupuh Dhandhanggula)

Akhirnya, semoga kita dapat mengambil manfaat dari apa yang telah disampaikan Sunan Kalijaga lebih dari 5 abad lalu. Semoga Allah melimpahkan rakhmat dan hidayah-NYA kepada Guru Tanah Jawa dan memberi ridha-NYA bagi Tanah Jawa dan negara Indonesia. Amin YRA.

Wallahu’alam bishshawab …

KMO, Jumat Pahing 5 Juni 2020
KPA – Nang Omah Wae

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *