Ibn Arabi

Membaca kisah para filosof Islam, sungguh menarik. Bagaimana para aulia itu berjuang, meniti kehidupan, melewati ujian dan cobaan, sampai mencapai maqam yang tinggi. Itu sungguh kisah yang luar biasa. Juga heroik dari sisi spiritual. Para filsuf pada jaman dulu adalah orang bijaksana yang memiliki banyak kemampuan. Hampir semua bidang ilmu mampu dikuasai : seni, astronomi, fisika, kedokteran, matematika, penyair dan penulis handal.

Dari membaca berbagai bahan bacaan dan literatur, saya mencoba menangkap dan memahami eksistenssi sosok seorang filsuf, sufi besar Islam yang fenomenal dan kontroversial. Beliau adalah Ibnu Arabi (1165-1240). Seorang sufi dan mistikus dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam.

Lahir pada 28 Juli 1165 M di Murcia, Andalusia, Spanyol. Nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Hatimi at-Tha’i. Dalam katalog karya-karyanya, ia mencantumkan namanya sebagai Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi. Pengikut dan masyarakat pada jamannya menjulukinya dengan sebutan Muhyiddin, yang berarti orang yang menghidupkan agama. Tetapi ia lebih terkenal dengan nama Ibn Arabi.

Ibn Arabi mengkategorisasikan ilmu pengetahuan menjadi tiga : Ilm Al-Aqli, Ilm Al Ahwal dan Ilm Al Asrar. Pertama Ilm Al-Aqli pengetahuan empiris, rasional, dan intelektual. Imu ini di peroleh dari luar dirinya. Contohnya : sebelum melakukan haji, ilmu ini membuat orang mejadi tahu tata-cara melakukannya.

Kedua Ilm Al-Ahwal pengetahuan tentang batin, rasa, intuisi dan firasat. Ilmu ini didapat manusia dari eksplorasi dan mencari ke dalam dirinya sendiri. Pemahamannya diperoleh dengan  melakukan. Contohnya : yang sudah pernah melakukan haji, tahu cara melakukannya. Juga dapat merasakan sensasinya, bukan hanya dalam bacaan dan teori saja.

Ketiga Ilm Al-Asrar diperoleh dari dalam dirinya sendiri, tetapi sumbernya dari luar dirinya. Ini adalah maqam para nabi, wali dan aulia. Mereka yang sudah melupakan dunia dan menyerahkan hidupnya semata-mata hanya tertuju kepada Allah.

Semasa hidupnya Ibn Arabi menulis lebih dari 200 buku. Luar biasa. Ibn Arabi tekenal sebagai Sufi yang mudah khasyaf. Begitu mudah memasuki alam ghaib. Jika sedang khasyaf beliau mampu menulis buku hanya dalam beberapa jam saja. Kecerdasan dan pengembaraan batinnya menuntun Ibn Arabi menulis bukunya yang sangat terkenal Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyah juga Tarjuman as-Asywaq.

 Wahdatul Wujud

Mungkin Ibn Arabi adalah sufi paling kontroversial yang pernah dimiliki umat Islam. Banyak orang mengaguminya. Selain itu yang mengecam dan mencacinya sepanjang zaman juga tidak sedikit. Mereka ini yang menentang dan selalu berusaha menghalangi penyebaran ajarannya.

Dalam kitabnya “Al-Futuhat al-Makkiyah” terkandung ajaran mengenai wihdatul wujud. Paham itu cukup kita kenali. Sejarah Islam tanah Jawa pernah memiliki tokoh sufi yang menjalankan paham itu, yaitu Syeikh Siti Jenar yang hidup pada masa awal kesultanan Demak dan jaman Wali Songo.

Tiga gagasan besar Ibnu Arabi yang paling berpengaruh pada perkembangan tasawuf adalah wahdah al-wujud (kesatuan wujud), alam al-khayal (dunia imajinasi), dan al-insan al-kamil (manusia sempurna). Ungkapan wahdah al-wujud sebenarnya tidak pernah digunakan oleh Ibnu Arabi sendiri. Para pengikutnya mengadopsi ungkapan ini untuk menjelaskan pemikiran Ibnu Arabi.

Setiap kali menggunakan kata wujud, Ibnu Arabi selalu memperhatikan asal-usul etimologisnya. Baginya, wujud tidak hanya berarti “menjelma” atau “mengada”, melainkan juga berarti “menemukan” dan “ditemukan”.

Dalam konteks ketuhanan, kata ini berarti bahwa Tuhan “Ada” dan tidak pernah “Tidak Ada”. Dan hanya Dialah yang “menemukan” diri-Nya dan segala sesuatu selain-NYA. Dengan kata lain, wujud tidak hanya bermakna keberadaan (existence), melainkan juga awareness, kesadaran, dan pengetahuan.

Ibn Arabi memakai kata khayal (imajinasi) untuk mengacu kepada segala sesuatu yang berada di posisi pertengahan, bukan sekadar kepada daya khayal yang melengkapi kerja nalar (reason) dalam pikiran manusia (mind).

Contoh umum dari realitas khayali (imaginal) adalah pantulan cermin. Cermin maupun pantulannya tidak menggambarkan realitas yang seutuhnya. Kombinasi dari keduanya yang bisa menghadirkan keutuhan realitas. Yang berada didalam cermin adalah bayangan, bukan realitas sesungguhnya. Tetapi bayangan di dalam cermin adalah gambaran siapa yang di luar cermin. Jika tidak ada cermin, maka tidak ada gambaran apapun juga.

Fenomena lain adalah seperti matahari dan sinarnya. Sinar matahari dan benda yang terlihat karena sinar itu, adalah bukti adanya matahari. Tanpa ada sinarnya dan benda yang dapat dilihatnya, maka orang tidak akan tahu bahwa ada matahari yang menjadi sumber sinar tersebut. Semuanya gelap!

Ibn ‘Arabi wafat pada 10 November 1240 di Damaskus. Tidak ada penjelasan mengenai peristiwa kematiannya. Namun ada sebuah legenda turun-temurun di Damaskus bahwa Ibn ‘Arabi meninggal dunia karena dibunuh oleh fuqaha’ ortodoks yang sangat menentang ajaran-ajarannya. Walauun begitu, tidak ada satupun pencatat biografi Ibn ‘Arabi yang membenarkan legenda ini.

Yang jelas para filsuf dan sufi yang mengajarkan kesadaran mengenai Persatuan Dengan Allah, hampir semua mengalami nasib yang mengenaskan. Penyebaran ajaran dan pemahaman itu menimbulkan kontroversi di mayarakat, sehingga bergeser dari agama ke sentimen politik. Para penguasa pada jamannya merasa terganggu, sehingga menjatuhkan hukuman eksekusi mati.

Seperti yang dialami Al-Hallaj (866-931), seorang Sufi di Iran, yang terkenal dengan ucapannya : “Anna al-Haqq!”. Ajarannya dianggap meresahkan masyarakat dan membuat kehebohan. Akhirnya dihukum gantung, dipotong tangan, kaki dan lehernya. Kemudian jasadnya dibakar dan abunya dibuang ke Sungai Tigris.

Juga di Iran seorang Sufi Yahya Ibn Habash Suhrawardi (1154-1191), menemui kematian tragis dan di eksekusi di Aleppo. Oleh karena itulah Suhrawardi sering disebut Guru yang Terbunuh (Al-Syaikh Al-Maqtul).

Di tanah Jawa kita mengenal Syekh Siti Jenar (1404-1517) di daerah Jepara. Ajarannya Manunggaling Kawulo Gusti. Dunia ini adalah alam kematian, kehidupan sebenarnya adalah ketika jasad manusia sudah mati. Faham ini diterima pengikutnya dengan tidak tepat. Mereka mencari mati. Dan itu menimbulkan kehebohan.

Syekh Siti Jenar kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Dewan Wali Songo. Menurut kisah Sang Syaikh tidak mau dihukum mati. Dia melepaskan nyawanya sendiri. Konon setelah nyawanya lepas, jasadnya mengeluarkan sinar yang terang dan menguarkan bau harum.

Akhirnya itulah sosok Ibn Arabi yang dapat saya fahami. Mudah-mudahan bermanfat. Dan mendorong pembaca untuk mencari sumber dan rujukan yang lebih akurat. Ini sekedar pengenalan sekilas. Seperti tester yang akan memicu pembaca untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi. Semoga …

Wallahu’alam bishshawab …

KMO,  1 Juni 2020
KPA DI Rumah Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *