Khutbah Idul Fitri 1441 H Di Rumah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji kepada Allah Sang Maha Segala Yang Awal dan Yang Akhir yang tidak dapat diserupakan dengan sesuatu apapun. Marilah kita bersyukur kepada Allah atas semua rezeki dan nikmat yang telah dberikan kepada kita. Sungguh tidak terhitung apa yang sudah kita terima dalam hidup ini. Satu tarikan nafas saja nilainya sungguh luar biasa, yang tidak dapat disetarakan dengan semua yang kita miliki.

Kita membaca di medsos. Ketika ada seorang kaya-raya dari Italia. Uangnya berlimpah dan dapat membeli apa saja dengan mudah. Dia menderita karena virus corona. Dan hanya untuk menghirup udara yang gratis saja, dia tidak bisa. Dan uangnya sia-sia. Tidak mampu menolong dirinya.

Marilah kita melakukan introspeksi apa yang sudah dilakukan. Orang hidup tempatnya salah dan khilaf. Tidak ada yang terbebas dari hal itu. Tetapi Allah SWT memberikan kesempatan, untuk bertobat dan memperbaiki diri. Marilah kita gunakan kesempatan itu. Saatnya melakukan revisi dan memperbaiki atas semua yang sudah terjadi, dan melakukan perbaikan untuk masa mendatang. Memperbaiki segala kesalahan dan kekhilafan yang bersifat fisik.

Selain itu yang jauh lebih penting adalah membersihkan dosa tersembunyi yang berada di dalam hati. Dosa yang diri sendiri yang tahu, orang lain tidak tahu! Itu seperti kegelapan yang menutupi hati, sehingga hati tidak bersinar, kehilangan cahayanya. Wujudnya dapat berupa : melakukan sesuatu bukan karena Allah, merasa diri lebih pintar, lebih baik, lebih suci dari orang lain, tinggi hati, riya’, benci, dengki, irihati, arogan dan sombong dan yang serupa itu..

Marilah dengan penuh kesadaran kita membasuh hati kita. Caranya? Dengan melakukan introspeksi pada diri sendiri. Mencuci hati dan membuang segala yang mengotori hati. Agar hati kita menjadi bersih, bening dan dapat menerima pancaran Cahaya Illahi. Dan dapat menjadi cermin yang dapat memantulkan Cahaya Illahi, Nur-Illahi menerangi diri sendiri dan orang lain.

Syekh Abdul Mansyur Al-Hallaj Sufi Besar yang namanya fenomenal itu mengajarkan agar manusia berusaha mendekati cahaya Illahi, yang berada dalam dirinya. Jika mendekati cahaya, akan menjadi lebih terang. Cahaya Allah mampu membuat manusia melihat segala sesuatu dari cara pandang Allah Swt.

Tanpa cahaya semuanya menjadi gelap. Kebenaran itu cahaya. Mata kita bisa melihat karena cahaya. Manusia yang berilmu menjadi syarat agar disinari cahaya. Jadi ilmu, menjadi syarat untuk mendapat cahaya. Tanpa cahaya, engkau tidak akan dapat melihat. Dan jika Allah tidak menyalakan Cahaya-NYA, Nur-NYA, maka engkau tidak akan dapat melihat apa-apa. Gelap! Engkau akan berada dalam kegelapan. Semuanya akan menjadi gelap, karena cahaya tidak menjangkau. Tetapi jika mendekat, engkau akan mendapat cahaya. Semakin dekat cahaya, akan semakin terang. Begitu juga dengan manusia.

Ibnu Arabi Sufi Besar Islam mengatakan ada 3 jenis ilmu pengetahuan : Ilm Al-Aqli, Ilm al-Ahwal dan Ilm Al- Asrar. Ilmu Aqli bersifat empiris, rasional dan berdasarkan akal. Diperoleh dari luar dirimu. Ilmu Ahwal adalah ilmu batin, rasa, intuisi dan firasat. Ilmu ini diperoleh dari dalam dirimu. Dan Asrar ilmu ghaib, yang dimiliki oleh umat dengan maqam tertinggi seperti para Nabi, Rasul, Aulia dan para Wali pilihan Allah. Ilmu ini diperoleh dari dalam diri manusia, tetapi sumbernya dari luar diri manusia yaitu dari ridha Allah Swt.

Jangan mudah menyalahkan dan jangan mudah mencaci-maki atas suatu kesalahan seseorang. Jadilah orang yang rendah hati dan mohonlah ridha Allah atas segala sesuatu yang engkau lakukan. Manusia wajib untuk berusaha. Allah yang menentukan hasilnya. Contohnya : membaca adalah usaha manusia, faham adalah hidayah Allah. Mengobati adalah usaha dokter, yang menyembuhkan adalah Allah. Puasa adalah usaha manusia, tetapi pahalanya terserah Allah.

Jangan pernah berfikir dan merasa, yang engkau peroleh semata-mata adalah atas dari hasil usahamu. Ada tangan Allah dibalik semua keberhasilanmu. Jadi berdoalah sebelum melakukan sesuatu dan bersyukurlah sesudahnya.

Dan ingatlah, jangan terikat kepada dunia. Dunia bukan tujuan utama kita. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya. Semua yang engkau lakukan harus berorientasi kepada kehidupan setelah kematian. Manfaatkan dan gunakan dunia, seperlunya saja.

Akhirnya tetaplah optimis, melakukan segala dengan suka cita dan berfikir positif. Selalu bersandar kepada ketentuan Allah. Yakinilah bahwa segala sesuatu berada dalam Sunatullah. Sebelum berusaha, mulailah berdoa dan memohon ridha-NYA. Sesudah itu biarlah Allah yang menentukan hasil akhir usahamu.

Wallahu’alam bishshawab . . . .
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

KPA – Kemayoran,
Ahad Kliwon 24 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *