Keledai Membaca

Nasruddin atau Nasreddin adalah seorang sufi satirikal dari Dinasti Seljuk, dipercaya hidup dan meninggal pada abad ke-13 di Akshehir, dekat Konya, ibu kota dari Kesultanan Rûm Seljuk, sekarang di Turki. Ia dianggap orang banyak sebagai filsuf dan orang bijak, dikenal akan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Lahir tahun 1208, dan meninggal pada tahun 1284.

Nasruddin sangat terkenal di seluruh dunia. Digambarkan sedang naik keledai tetapi menghadap ke belakang. Itu adalah metafora. Seorang yang membelakangi dunia. Juga tidak mau membelakangi murid-murid dan pengikutnya. Dia menguasai egonya, sehingga sangat percaya keledainya. Dan membiarkan keledainya akan mengantarnya ke tujuan.

Nasruddin adalah seorang Sufi yang menjelaskan pikiran-pikirannya dengan cara humor. Tetapi dibalik humor-humornya itu, mengandung hikmah yang sangat penting dan mendasar. Mereka yang tajam daya-nalarnya, mampu mengambil mutiara yang terpendam dalam humor-humornya yang lucu dan seringkali membingungkan itu.

Nasruddin disebut Manusia Alternatif Sebab dia mampu memberikan jawaban dan solusi alternatif, diluar yang kaidah-kaidah biasa. Berbeda dari jawaban-jawaban dari kaum cendekia sekali pun.

Nasruddin “mengajarkan” agar menghadapi dunia yang sementara ini dengan santai, jangan tegang, senyum dan tertawa. Mereka yang mampu tertawa dan menertawakan dirinya sendiri, biasanya ilmu dan pemahamannya sudah tinggi.

Kita lihat para pemimpin, para ustadz dan aulia, mereka memiliki rasa humor tinggi. Para Kyai sepuh malah biasanya mesti lucu dalam memberikan tausiah-tausiahnya. Bahasanya sederhana, tidak terkesan menggurui, tetapi yang mendengar mengerti apa yang disampaikan.

Marilah kita berusaha mencoba memahami salah satu anekdot Nasruddin, tentang Keledai Membaca dibawah ini :

——————————————————————
Alkisah Timur Lenk menghadiahi Nasruddin seekor keledai. Nasruddin menerimanya dengan senang hati. Timur Lenk berkata : “Engkau adalah guru yang terkenal dan tentunya kau dapat mengajari keledai ini membaca. Kalau kau sanggup melakukannya, aku akan memberimu hadiah yang besar. Tetapi kalau gagal, aku akan menghukummu” kata Timur Lenk.

“Itu permintaan yang sulit Yang Mulia. Tetapi baiklah, aku akan mengajarinya membaca. Beri aku waktu tiga bulan, ditambah biaya yang cukup,” kata Nasruddin.

Timur Lenk memenuhi permintaan Nasruddin dan tiga bulan kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasruddin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu.

Dan tidak lama kemudian, mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasruddin. “Demikianlah,” kata Nasruddin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk bertanya : “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?” Nasruddin menjelaskan, “Di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku. Dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman buku, untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

Timur Lenk tidak puas, “Tapi … Bukankah keledai itu tidak mengerti apa yang dibacanya?” Nasruddin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman, tanpa mengerti isinya”

Timur Lenk merasa senang atas jawaban Nasruddin itu, lalu memberinya hadiah yang banyak.
——————————————————————-

HIKMAH

Apa hikmah yang dapat dipetik dari cerita anekdot itu? Banyak diantara kita yang membaca buku, tetapi tidak mengerti isinya! Semua halaman sudah dibaca, tetapi dia tidak mengerti juga apa makna yang tertulis pada buku itu!

Kok begitu? Sebabnya ada dua : Bahasa dan Logika. Mereka yang membaca tetapi nggak mengerti bahasanya, sudah pasti nggak akan faham isinya. Seandainya naskah dalam Bahasa Inggris dan kemampuan bahasa si pembaca tidak bagus, sudah pasti kurang dapat menangkap apa yang ditulis dalam buku itu.

Yang kedua, jika logikanya kurang atau tidak sampai, maka apa yang dibacanya juga tidak akan dapat dimengerti dan difahaminya. Kalaupun dapat pasti tidak maksimal. Dua kendala tersebut bahasa dan logika, akan membuat pembaca menyimpulkan sesuatu yang tidak benar atau tidak tepat. Dan ini akan berakibat fatal dan dapat sangat berbahaya, jika menyangkut sesuatu yang penting dan strategis.

Lalu bagaimana? Pembaca model begini membutuhkan guru atau pembimbing, agar dapat memahami apa yang dibacanya dengan benar dan tidak bias. Dia membutuhkan orang lain untuk meng-klarifikasi pemahamannya terhadap apa yang telah dibacanya.

Jadi orang yang membaca dengan cara  eperti itu, mirip dengan keledainya Nasruddin … (Maaf).

Mudah-mudahan anda yang membaca ini, mengerti apa yang disindirkan Nasruddin itu …

KPA – Kemayoran
Senin 18 Mei 2020
Dari Rumah Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *