Enam Puluh Lima

Time flies. Waktu terbang begitu cepat sekali. Tidak terasa sekonyong-konyong sudah enam puluh lima. Rasanya semuanya baru saja kemarin terjadi. Seperti tayangan video, semua seakan bergerak ulang, play-back. Ketika merangkak dari bawah, berjuang keras, jungkir balik dan jerih-payah. Ketika panik, bingung, hilang arah dan hilang kendali.

Sudah aku alami pengembaraan raga. Telah aku singgahi lima bemua. Juga ku datangi dari Sabang sampai Merauke sana. Aku susuri sungai, laut, menjelajah lembah, bukit dan mendaki ke puncak-puncak gunung. Dan mengalami pencerahan di salah satu puncaknya, Rinjani.

Sudah pua aku alami pengembaraan jiwa. Ketika merasa ketakutan, pesimis, kecewa, putus asa, tidak percaya dan hilang kendali. Pernah juga merasa besar kepala, arogan merasa pintar dan hebat. Walaupun begitu tetap berusaha, mencari dan mendekati DIA Yang Maha Segala.
Dan akhirnya sempat juga sampai di peringkat berhasil dan sukses. Pernah eksis dan terhormat. Cieh … (kata siapa?!)

Rasanya semua itu baru kemarin. Dan sekarang tahu-tahu semua itu sudah lalu. Dan perlahan tetapi pasti, menuju tirai terakhir. Walaupun entah kapan? Tetapi itu pasti terjadi! Ibarat suatu pengembaraan. Setelah kesana-kemari, pasti akan sampai juga pada akhirnya. Dan mesti berhenti. Full stop! Dan semua kehebatan itu hanya tinggal bayangan dan kenangan belaka. Bunga-rampai kehidupan.

Dan sebuah renungan membersit dengan kuat. Mesti menyadari sudah semakin tua, tidak lagi gagah dan perkasa lagi. Jadi harus bagaimana? Lalu seperti bicara kepada diri sendiri. Seperti ada AKU, yang menasehati aku :

“Sudah tua, sadarkah kamu? Mesti mampu membaca isyarat dan ibarat yang tersirat. Bukan hanya yang tersurat saja. Kurangilah semua yang bersifat sebentar dan kasar. Dan mulai melatih untuk memahami yang halus : batin dan ruh”

“Waktumu sudah tidak banyak lagi. Jangan hanya sibuk mengurusi tubuh saja. Tubuh hanya akan mengantarkan kamu sampai ke liang lahat. Sesudah itu ruh yang akan mengambil-alih dan menjalani kehidupan berikut. Lalu? Apa yang sudah engkau jalani secara spiritual? Apa yang sudah kamu perbuat dengan ruhmu?

AKU terus berkata : “Semakin tua. Sadarkah kamu ternyata banyak lalai, tidak pernah atau jarang peduli kepada ruh. Kamu lebih sibuk mengurus tubuhmu. Padahal life-time tubuhmu, sudah akan habis!”

Baiklah. Semua nasihat AKU itu pasti akan aku lakukan. Namun sebelum tirai itu tertutup, masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku tak kan berhenti. Dan masih tetap akan berusaha agar berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain. Sesuai kapasitas dan kekuatan, yang masih dizinkan Allah kepadaku.

Akhirnya, terimakasih dan rasa syukur yang tak terkatakan dilangitkan ke Illahi Rabbi. Tunduk, penuh rendah hati. Mohon ampun atas kekhilafan di masa silam.

Mohon ridha-MU, berilah manfaat semua yang sudah dan akan dikerjakan. Limpahkan cahaya-MU yang maha cemerlang, lapangkanlah jalan, mudahkanlah, terangilah, kecilkanlah rintangan mendekati-MU dan sampai kepada-MU. Amin.

Bismillah …

Ki Pandan Alas
Kemayoran, Sabtu Pahing 16 Mei 2020
Dari Rumah Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *