Hukum Sebab-Akibat

Di alam semesta ini Allah sudah menetapkan hukum-hukum-NYA yang luar biasa canggih. Saling kait-mengait berkelindan, ruwet dan jauh di luar akal manusia. Tujuannya mengatur alam semesta, agar berjalan teratur dan berada dalam irama dan harmoni, yang serba sistematis dan otomastis. Bukan hanya alam semesta, segala perilaku kehidupan yang mengisi alam semesta tidak luput dari algoritma Allah yang Super, yang di luar akal manusia.

Di alam semesta Hukum “Sebab-Akibat” dan “Jika-Maka” yang dikenal manusia, berjalan dengan kualitas dan intensitas yang lebih canggih, begitu teratur dan harmonis.

Di alam semesta ini tidak ada energi yang hilang, hanya berubah bentuk! Dalam ilmu fisika, hukum kekekalan energi menyatakan bahwa jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah, akan tetap sama. Energi tersebut tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Tetapi ia dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Contohnya, energi kimia dapat diubah menjadi energi kinetik dalam sebuah ledakan dinamit.

Continue reading “Hukum Sebab-Akibat”

Catatan Pas Lebaran

Lebaran kali ini istimewa. Tidak seperti biasanya. Gegara Covid-19, semuanya berubah. Kami mengikuti anjuran MUI, jadi shalat Idul Fitri di rumah saja. Konsekuensinya menjadi imam, walaupun makmumnya cuma 4 orang. Dan diledekin anakku : “Inilah Imam Besar, di mushala yang kecil!” Hehehe … betul juga ya?

Shalat Idul Fitri di rumah selesai. Lancar. Lalu saling bermaaf-maafan dulu. Mohon maaf atas sesama kesalahan. Semoga semua saling ikhlas-mengikhlaskan semua kesalahan yang sudah pernah dibuat. Namanya juga manusia! Suka emosi, marah, bersikap negatif, nggak jujur dan … banyak deh. Inilah waktu yang afdol untuk meminta dan memberi maaf. Baik bagi yang tua, apalagi yang masih muda.

Continue reading “Catatan Pas Lebaran”

Khutbah Idul Fitri 1441 H Di Rumah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji kepada Allah Sang Maha Segala Yang Awal dan Yang Akhir yang tidak dapat diserupakan dengan sesuatu apapun. Marilah kita bersyukur kepada Allah atas semua rezeki dan nikmat yang telah dberikan kepada kita. Sungguh tidak terhitung apa yang sudah kita terima dalam hidup ini. Satu tarikan nafas saja nilainya sungguh luar biasa, yang tidak dapat disetarakan dengan semua yang kita miliki.

Kita membaca di medsos. Ketika ada seorang kaya-raya dari Italia. Uangnya berlimpah dan dapat membeli apa saja dengan mudah. Dia menderita karena virus corona. Dan hanya untuk menghirup udara yang gratis saja, dia tidak bisa. Dan uangnya sia-sia. Tidak mampu menolong dirinya.

Continue reading “Khutbah Idul Fitri 1441 H Di Rumah”

Keledai Membaca

Nasruddin atau Nasreddin adalah seorang sufi satirikal dari Dinasti Seljuk, dipercaya hidup dan meninggal pada abad ke-13 di Akshehir, dekat Konya, ibu kota dari Kesultanan Rûm Seljuk, sekarang di Turki. Ia dianggap orang banyak sebagai filsuf dan orang bijak, dikenal akan kisah-kisah dan anekdotnya yang lucu. Lahir tahun 1208, dan meninggal pada tahun 1284.

Nasruddin sangat terkenal di seluruh dunia. Digambarkan sedang naik keledai tetapi menghadap ke belakang. Itu adalah metafora. Seorang yang membelakangi dunia. Juga tidak mau membelakangi murid-murid dan pengikutnya. Dia menguasai egonya, sehingga sangat percaya keledainya. Dan membiarkan keledainya akan mengantarnya ke tujuan.

Nasruddin adalah seorang Sufi yang menjelaskan pikiran-pikirannya dengan cara humor. Tetapi dibalik humor-humornya itu, mengandung hikmah yang sangat penting dan mendasar. Mereka yang tajam daya-nalarnya, mampu mengambil mutiara yang terpendam dalam humor-humornya yang lucu dan seringkali membingungkan itu.

Nasruddin disebut Manusia Alternatif Sebab dia mampu memberikan jawaban dan solusi alternatif, diluar yang kaidah-kaidah biasa. Berbeda dari jawaban-jawaban dari kaum cendekia sekali pun.

Nasruddin “mengajarkan” agar menghadapi dunia yang sementara ini dengan santai, jangan tegang, senyum dan tertawa. Mereka yang mampu tertawa dan menertawakan dirinya sendiri, biasanya ilmu dan pemahamannya sudah tinggi.

Kita lihat para pemimpin, para ustadz dan aulia, mereka memiliki rasa humor tinggi. Para Kyai sepuh malah biasanya mesti lucu dalam memberikan tausiah-tausiahnya. Bahasanya sederhana, tidak terkesan menggurui, tetapi yang mendengar mengerti apa yang disampaikan.

Marilah kita berusaha mencoba memahami salah satu anekdot Nasruddin, tentang Keledai Membaca dibawah ini :

——————————————————————
Alkisah Timur Lenk menghadiahi Nasruddin seekor keledai. Nasruddin menerimanya dengan senang hati. Timur Lenk berkata : “Engkau adalah guru yang terkenal dan tentunya kau dapat mengajari keledai ini membaca. Kalau kau sanggup melakukannya, aku akan memberimu hadiah yang besar. Tetapi kalau gagal, aku akan menghukummu” kata Timur Lenk.

“Itu permintaan yang sulit Yang Mulia. Tetapi baiklah, aku akan mengajarinya membaca. Beri aku waktu tiga bulan, ditambah biaya yang cukup,” kata Nasruddin.

Timur Lenk memenuhi permintaan Nasruddin dan tiga bulan kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasruddin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya. Si keledai menatap buku itu.

Dan tidak lama kemudian, mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasruddin. “Demikianlah,” kata Nasruddin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk bertanya : “Bagaimana caramu mengajari dia membaca?” Nasruddin menjelaskan, “Di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku. Dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman buku, untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

Timur Lenk tidak puas, “Tapi … Bukankah keledai itu tidak mengerti apa yang dibacanya?” Nasruddin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca, hanya membalik-balik halaman, tanpa mengerti isinya”

Timur Lenk merasa senang atas jawaban Nasruddin itu, lalu memberinya hadiah yang banyak.
——————————————————————-

HIKMAH

Apa hikmah yang dapat dipetik dari cerita anekdot itu? Banyak diantara kita yang membaca buku, tetapi tidak mengerti isinya! Semua halaman sudah dibaca, tetapi dia tidak mengerti juga apa makna yang tertulis pada buku itu!

Kok begitu? Sebabnya ada dua : Bahasa dan Logika. Mereka yang membaca tetapi nggak mengerti bahasanya, sudah pasti nggak akan faham isinya. Seandainya naskah dalam Bahasa Inggris dan kemampuan bahasa si pembaca tidak bagus, sudah pasti kurang dapat menangkap apa yang ditulis dalam buku itu.

Yang kedua, jika logikanya kurang atau tidak sampai, maka apa yang dibacanya juga tidak akan dapat dimengerti dan difahaminya. Kalaupun dapat pasti tidak maksimal. Dua kendala tersebut bahasa dan logika, akan membuat pembaca menyimpulkan sesuatu yang tidak benar atau tidak tepat. Dan ini akan berakibat fatal dan dapat sangat berbahaya, jika menyangkut sesuatu yang penting dan strategis.

Lalu bagaimana? Pembaca model begini membutuhkan guru atau pembimbing, agar dapat memahami apa yang dibacanya dengan benar dan tidak bias. Dia membutuhkan orang lain untuk meng-klarifikasi pemahamannya terhadap apa yang telah dibacanya.

Jadi orang yang membaca dengan cara  eperti itu, mirip dengan keledainya Nasruddin … (Maaf).

Mudah-mudahan anda yang membaca ini, mengerti apa yang disindirkan Nasruddin itu …

KPA – Kemayoran
Senin 18 Mei 2020
Dari Rumah Saja

Menikmati Lebih Sedikit

Puasa Ramadhan memasuki tahap akhir, tinggal seminggu lagi. Menahan kebutuhan lahiriah, ternyata adalah proses meningkatkan kualitas batin. Ritual menahan diri dari kebutuhan badan kasar ini, menjadi sarana membasuh dan menjernihkan batin. Sebenarnyalah yang berharga adalah apa yang dapat direnungkan dan mampu mencerahkan batin.

Semua yang dilakukan pada masa berpuasa, seyogyanya bermuara kepada meningkatnya ketajaman batin. Jika tidak sampai ke situ, rasanya masih berada pada peringkat fisik, lahiriah semata. Dan itu yang dimaksud bahwa orang berpuasa hanya dapat lapar dan dahaga saja. Menahan diri dan mengurangi kebutuhan jasmani, sudah sejak dahulu diwejangkan oleh para filsuf, aulia, sufi dan nabi. Bahkan sudah  disarankan Socrates (469-399 SM).

Continue reading “Menikmati Lebih Sedikit”

Enam Puluh Lima

Time flies. Waktu terbang begitu cepat sekali. Tidak terasa sekonyong-konyong sudah enam puluh lima. Rasanya semuanya baru saja kemarin terjadi. Seperti tayangan video, semua seakan bergerak ulang, play-back. Ketika merangkak dari bawah, berjuang keras, jungkir balik dan jerih-payah. Ketika panik, bingung, hilang arah dan hilang kendali.

Sudah aku alami pengembaraan raga. Telah aku singgahi lima bemua. Juga ku datangi dari Sabang sampai Merauke sana. Aku susuri sungai, laut, menjelajah lembah, bukit dan mendaki ke puncak-puncak gunung. Dan mengalami pencerahan di salah satu puncaknya, Rinjani.

Sudah pua aku alami pengembaraan jiwa. Ketika merasa ketakutan, pesimis, kecewa, putus asa, tidak percaya dan hilang kendali. Pernah juga merasa besar kepala, arogan merasa pintar dan hebat. Walaupun begitu tetap berusaha, mencari dan mendekati DIA Yang Maha Segala.
Dan akhirnya sempat juga sampai di peringkat berhasil dan sukses. Pernah eksis dan terhormat. Cieh … (kata siapa?!)

Rasanya semua itu baru kemarin. Dan sekarang tahu-tahu semua itu sudah lalu. Dan perlahan tetapi pasti, menuju tirai terakhir. Walaupun entah kapan? Tetapi itu pasti terjadi! Ibarat suatu pengembaraan. Setelah kesana-kemari, pasti akan sampai juga pada akhirnya. Dan mesti berhenti. Full stop! Dan semua kehebatan itu hanya tinggal bayangan dan kenangan belaka. Bunga-rampai kehidupan.

Continue reading “Enam Puluh Lima”

Sugeng Tindak Mas Didi Kempot

Didi Kempot Maestro Campur Sari. Lagu-lagunya mampu membawa anak-anak millenial ikut hanyut dan histeris, terbawa irama dan beat-nya yang membuat bergoyang.

Lagu-lagunya berbahasa Jawa, kebanyakan bertema cinta dan putus cinta. Lagu yang sederhana. Terasa mengalir, polos dan apa adanya. Seperti wewakili perasan anak-anak muda, yang tengah mengalaminya. Oleh sebab itu, anak-anak muda menjulukinya : The God Father of Broken Heart.

Lagu-lagu dengan syair Jawa, Meskipun bercerita tetang kepedihan, tetapi entah mengapa iramanya riang. Barangkali semacam isyarat dari Didi Kempot, agar meskipun patah hati, tetapi tidak boleh kehilangan semangat! Dalam Bahasa Jawa : “Sing uwis yo uwis,  Lara ati oleh, ning tetep kerja lho ya. Sebab urip ora bisa diragati nganggo tangismu!” Artinya?  “Yang sudah ya sudahlah. Sakit hati boleh, tetapi tetap bekerja ya? Sebab hidup tidak bisa dibiayai dengan tangisanmu!”
Kereeen banget  …

Dan sepertinya beat dan iramanya ccok dengan anak-anak muda. Lagu-lagunya itu bagaikan sihir. Sewu Kutho, Pamer Bojo, Banyu Langit  dan lainnya mampu menggerakkan anak-anak muda  berjoget. Cendol dawet, cendol dawet, jirolupatmonempituwolu  … Mereka ikut menyanyikannya dalam bahasa Jawa. Walaupun saya yakin, nggak semua ngerti apa artinya. 

Continue reading “Sugeng Tindak Mas Didi Kempot”