Covid-19 Melumpuhkan Airline

Corona Virus Covid-19 mengubah semuanya. Memaksa ummat manusia berhenti melakukan kegiatan sementara. Berita positifnya membuat alam seperti beristirahat sejenak. Udara lebih cerah dan kualitasnya menjadi lebih bersih. Suhu di kutub menjadi lebih dingin. Malah saya dapat kiriman melalui WAG, foto udara cerah di Jakarta. Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak masih bisa kelihatan dari Jakarta. Pemandangan langka. Luar biasa.

Berita negatifnya, Covid-19 membuat Social Distancing, Physical Distancing, Lockdown, PSBB, Jaga Jarak, Work From Home dan Stay At Home. Dan membuat semua menurunkan bahkan menghentikan kegiatannya. Covid-19 membuat bisnis dan perekonomian tiarap. Semua kena dampaknya. Padahal jika satu sektor terganggu, pasti akan mengganggu sektor lainnya.

Sungguh suatu hal yang dilematis. Transportasi baik moda apapun juga, fungsinya adalah mengumpulkan orang sesuai kapasitas maksimalnya, lalu memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Ini bertentangan dengan Physical Distancing yang melarang orang berdekatan dalam jarak kurang dari 1 meter. Oleh sebab itu wajarlah jika kemudian penumpang transportasi, perlahan  tetapi pasti, menurun jumlahnya.

Marilah coba kita amati dampaknya bagi Airline.

Pada level dunia, International Air Transport Association (IATA) telah   memprediksi bahwa di seluruh dunia airline akan mengalami kerugian sebesar U$ 314 Milyar. Ini lebih besar 24,6% dari prediksi semula yang hanya U$ 252 Milyar.

Dan prediksi itu mulai menemui pembenarannya. Jumlah penumpang yang terus menurun telah memaksa airline mulai mengurangi jumlah penerbangannya, bahkan menutup sebagian rute penerbangannya. Air Asia bahkan sudah menghentikan seluruh penerbangannya di Indonesia. Garuda juga sudah meng-grounded 30 pesawatnya. Beberapa rute penerbangan ditutup dan dikurangi frekuensinya. Sebagai contoh penerbangan Garuda di Bandara Soekarno-Hatta yang biasanya sekitar 160-an flight setiap hari, sekarang sudah tinggal 40-an flight saja. Citilink juga mengalami nasib sama. Menutup penerbangan rute tertentu dan juga mengurangi penerbangannya.

Kondisi yang terus menekan ini membuat Garuda Indonesia mengurangi gaji pegawainya, melalui Surat Edaran yang ditanda-tangani Direktur Utama, tertanggal 15 April 2020. Suatu keputusan yang masuk akal. Apa boleh buat.

Penerbangan dihentikan dan jumlahnya terus menurun. Ini membuat efek domino. Semua yang berhubungan dan berkaitan dengan airline, satu demi satu terkena dampaknya.

Airnav mencatat jumlah traffic yang dilayani menurun antara 70%-80%. Di Jakarta jumlah pesawat yang biasa dilayani rata-rata sebanyak 1.200 sd 1.500 pesawat, sekarang turun drastis hanya tinggal 200-300 pesawat. Di Bali yang biasanya 400 pesawat, tinggal bersisa sekitar 60-80 pesawat saja (IATCA). Sudah pasti ini pada saatnya bakal mengurangi pendapatannya.

Bandar Udara juga mengalami hal yang sama. Jumlah penerbangan yang berkurang dan Load Factor yang turun drastis, mempengaruhi pendapatan bandara. Yang jelas dari sisi PJP2U saja (dulu Airport Tax), menurun drastis. Di Bandara Juanda yang biasanya ada 25.000 pembayar PJP2U per hari, sekarang tinggal 10.000-an orang. Malah pernah tercatat sebesar 3.000 orang saja. Para konsesioner menjerit, pendapatan parkir menurun tajam dan semacamnya. Dan itu mendorong manajemen Bandara Juanda memindahkan Operasi Terminal 2 ke Terminal 1. Jadi mulai tanggal 22 April yad, semua operasi penerbangan akan berpindah ke Terminal 1 (Tempo.co, 19 April).

Kemudian Ground Handling, sama saja. Jumlah penerbangan yang dilayani semakin berkurang dan para airline yang dilayani, Karena sedang mengalami krisis, menunda pembayarannya. Pasti ini berat sekali bagi pemberi jasa ground handling. Apaboleh buat terpaksa memberhentikan sebagian karyawan out-sourcing-nya dan memotong gajinya sebagian. Bagaimana lagi?

Penyedia jasa Catering pesawat juga mengalami hal yang sama. Mesti mengurangi jumlah makanan yang di upload ke pesawat, sesuai dengan jumlah penumpang; yang ternyata dari hari ke hari semakin menurun.

Pertamina di bandara yang menyediakan bahan bakar pesawat, juga begitu. Berita baiknya karena jarang melayani pengisian bahan bakar pesawat (refueling), stok cadangan cukup untuk jangka waktu 119 hari (Nicke Widyawati Direktur Utama Pertamina). Sebuah blessing in disguise. Hanya saja seperti yang lain, biasanya pembayaran dari airline yang dilayani, semakin lama tertunda. Berat juga sih.

Para vendor dan penyedia suku cadang pesawat mengalami yang sama juga. Menurunnya pesanan barang dan juga tertundanya pembayaran, membuat bisnis mereka terganggu juga. Semua serba sulit.

Bagaimana dengan Travel Agent & Hotel? Setali tiga uang. Travel Agent banyak menganggur, karena turis-turis tidak lagi ada yang datang. Di Bali semua tempat wisata di tutup. Padahal Bali adalah tujuan wisata terbesar di Indonesia. Jadi semua yang berkaitan dengan tempat wisata : travel biro, toko souvenir, pemandu wisata dan lainnya, ikut terganggu juga.

Dari sisi Hotel, Ketua PHRI mengatakan occupancy rate atau tingkat hunian hotel menurun 30-40%. Di seluruh Indonesia ada 698 hotel yang ditutup dan tidak beroperasi. Anda bisa membayangkan efeknya terhadap karyawan dan para supplier hotel tersebut, kan?

Dan semua yang telah disebut diatas itu mempengaruhi sektor Pariwisata. Di seluruh dunia sektor Pariwsata seperti mati suri. Indonesia baru saja ditimpa gempa besar di Lombok, dan efeknya masih terasa dan belum dapat mengembalikan turis seperti semula. Dan sekarang Covid-19 membuat turis tinggal di rumah dan tidak pergi pelesir. Untuk mengembalikan sektor Pariwisata kembali ke tingkat semula, membutuhkan waktu sekitar satu tahun (Jakarta Post, 2 April). Padahal kita belum tahu kapan Covid-19 ini akan  berakhir.

Akhirnya mudah-mudahan Covid-19 ini segera lewat. Dunia rasanya akan memasuki babak baru. Tidak bisa lagi kembali seperti semula. Covid-19 telah mengubah semua. Termasuk perilaku kita sekarang yang lebih mengarah kepada seusatu yang bersifat on-line. Perlahan dan pasti kita berubah ke arah yang baru.

Semoga …

KMO, 20 April 2020
HL Stay At Home

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *