Semarang Selayang Pandang

Semarang kaline banjir. Ojo sumelang ra sah dipikir. Itu salah satu bait dari lagu Jawa ang cukup populer tentang Kota Semarang. Walaupun banjir, jangan khawatir, nggak perlu dipikir. Barangkali semangat itulah yang membuat Semarang terus bergairah, semarak, semringah dan positif. Halaahh … mosok iyo? Bener iki mas. Mari kita jalan-jalan ke Semarang, yuuk.

Yang jelas, setelah sekian tahun saya baru sempat exploring Semarang lagi. Dan jika anda termasuk tipe yang suka ingin tahu dan suka akan masa lalu, datanglah ke Semarang. Jejak sejarah menyisakan begitu banyak bekas dan peninggalan yang seakan menjelaskan bahwa sejak dari dulu negeri ini sudah dikenal di dunia.

Indonesia sejak dahulu kala sudah diperhitungkan dalam pergaulan dunia internasional. Nusantara atau kepulauan diantara dua benua, dan dua lautan ini memiliki posisi strategis. Dan alamnya yang kaya raya dan hasilnya berupa rempah-rempah, mengundang para saudagar untuk mengunjunginya. Sejak dulu kala! Begituu …

 KELENTHENG SAM PO KONG

Siapa yang tidak mengenal Laksamana Cheng Ho? Tanggal 11 Juli 1405 adalah hari pertama kapal-2 China di bawah komando Laksamana Cheng Ho memulai pelayarannya ke gugusan negeri antah-berantah.

Nama aslinya adalah Zheng He kemudian dikenal sebagai Cheng Ho. Lahir di Yunnan pada 1371. Ia adalah orang Suku Hui. Kebanyakan orang Hui memeluk Islam, karena sering berhubungan dengan saudagar Persia dan Arab sejak abad 7.

Armadanya luar biasa. Sebanyak 307 kapal mengangkut 27.800 orang lebih, terlibat dalam petualangan besar itu. Ada 62 kapal besar, dan 190 kapal lain yang berukuran lebih kecil. Cobalah sejenak kita membayangkan alangkah rumitnya mengelola dan mengendalikan armada yang begitu besar itu. Bagaimana pemeliharaan kapal jika ada yang rusak? Logistiknya? Bagaimana menyiapkan peralatan pendukung dsbnya. Pasti rumit dan ruwet.

Apalagi armada besar ini bergerak dan berpindah selama berbulan-bulan ke negeri-negeri yang jauh, sangat jauh! Negeri-negeri yang sangat berbeda kebudayaan dan perilaku masyarakatnya. Sungguh luar biasa …

Periode pertama 1405-1407 armada Cheng Ho mengarungi Laut Cina Selatan dan mencapai Jawa, setelah terlebih dulu merapat di Champa (sekarang wilayah Vietnam).

Dan sekarang di Kelenteng Sam Po Kong, Cheng Ho berdiri tegak menjulang, sebagai patung setinggi 12,7 meter. Dulu tingginya hanya 1,8 meter. Tangan kirinya memegang pedang, yang menyilang dibalik badannya diantara badan dan jubahnya. Tangan kanannya memegang gulungan surat yang terikat seutas tali.  Gagah, berwibawa dan santun …

LAWANG SEWU

Sejarah Lawang Sewu nggak lepas dari sejarah perkeretaapian di Indonesia. Dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch–Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), yaitu perusahaan KA swasta di masa Hindia Belanda. NIS pertama kali membangun jalur KA di Indonesia, menghubungkan Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta. Jalur pertamanya, Semarang – Temanggung dibangun tahun 1867.

Awalnya, administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat dan kebutuhan ruang kerja, maka diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru.

Lalu dipilihlah lahan di pinggir kota, dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg (Jl. Pemuda sekarang) Semarang. Arsitek gedung  ini semula adalah Ir. P. de Rieu, tetapi pembangunannya terlambat. Kemudian ditunjuk Prof. Jacob F. Klinkhamer & B.J. Ouendag dibantu oleh C.G. Cintroen.

Tanggal 27 Feb 1904 pembangunan dimulai dan selesai Juli 1907. Kondisi tanah harus diperbaiki, digali sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis.

Disebut Lawang Sewu karena pintunya sangat banyak. Para arsiteknya membangun gedung kantor modern, sesuai iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu alam, dan kayu jati. Arsitektur gaya Belanda sangat terasa.

Lawang Sewu sebenarnya hanya memiliki 429 pintu. Dan daun pintunya lebih dari 1200. Sebagian memiliki 2 daun pintu. Ada pintu yang memiliki 4 daun pintu.

Ketika berada halaman di dalamnya yang berbentuk segitiga, saya membayangkan betapa sibuknya kantor pusat ini pada jamannya. Bisa dibayangkan. Stasiun Kereta Api pada jaman itu rasanya begitu bergengsi. Dan menjadi semacam display teknologi. Lokomotif mengundang decak kagum siapa yang melihatnya,pada saatnya dahulu.

GEREJA BLENDHUK

Kota Lama masih menyisakan gaya Belanda. Untunglah masih ada yang mau memelihara bangunan lama itu. Termasuk Gereja Blenduk. Gereja Blendhuk adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun masyarakat Belanda pada 1753, dengan bentuk oktagonal (persegi delapan).

Gereja ini bernama Gereja GPIB Immanuel. Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini.

Nama Blenduk adalah julukan masyarakat setempat yang menyebut bentuk kubah dalam bahasa Jawa. Gereja ini masih dipergunakan setiap hari Minggu.

Jadi … ? Datanglah ke Semarang, pasti anda senang mengenang masa belakang. Pulangnya jangan lupa bungkus wingko babad dan lunpia. Eh lunpia apa lumpia sih yang bener?

HL, 5 Maret 2020
TSI Yogya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *