Wuhan Corona Virus

Wuhan salah satu kota tertua di daratan China. Ter letak 1.150 km di selatan Beijing dan 840 km sebelah barat Shanghai. Wuhan berpenduduk lebih dari 11 juta jiwa. Kota tua ini tiba-tiba menjadi terkenal ke seantero dunia. Pada tanggal 31 Desember 2019, suatu virus ditemukan di sebuah pasar daging yang juga menjual binatang untuk dikonsumsi atau dibuat menjadi obat. Virus itu disebabkan karena mutasi virus kelelawar dan ular kepada manusia, melalui persentuhan atau memakan dagingnya. Virus ini dinamakan Corona sebab di bawah mikroskop, bentuknya mirip dengan mahkota.

Dunia pun geger. Masa inkubasi Virus Corona ini adalah selama 14 hari. Artinya ada jeda waktu yang cukup lama, untuk mengetahui orang yang terkena virus, setelah gejalanya tampak bahwa dia sudah terkena virus Corona itu. Dalam waktu 14 hari sejak orang terkena, dia bisa saja berada di mana saja di bagian dunia ini dengan membawa virus yang belum aktif.

Wuhan memiliki jaringan transportasi yang baik. Kebetulan juga menjelang Tahun Baru dan menyambut Imlek, sehingga banyak penduduknya bepergian keluar kota. Dan sebaliknya juga banyak turis dan pendatang memasuki kota tua Wuhan. Berarti Virus Corona sudah bergerak ke mana-mana, melalui pergerakan orang-orang itu.

Pemerintah China bergerak cepat. Menutup dan mengisolasi kota Wuhan. Jaringan trasnsportasi berhenti atau dihentikan. Tidak ada supply BBM ke pompa-pompa bensin, sehingga penduduk tidak dapat bebas kemana-mana. Menutup kota di jaman yang modern ini, dampaknya sungguh begitu besar.

Dunia pun waspada. Dan bersiaga menghadapi epidemi yang menyebar dengan cepat ini. Penerbangan ke Bandara Internasional Tianhe berkurang bertahap atau bahkan ditutup sama sekali. Tercatat ada 25 airline di seluruh dunia mengurangi dan menghentikan penerbangannya ke Wuhan dan ke China.

Dapat dibayangkan bagaimana dampak dari penutupan penerbangan ini. Yang jelas terpengaruh adalah industri pariwisata, kegiatan bisnis dan perekonomian. Dapat

dibayangkan bagaimana ribuan turis yang sudah booking hotel dan itinerary yang sudah dirancang dengan rinci, menjadi batal dan semuanya berantakan.

Pada sisi lain Corona Virus, menjadi semacam media yang memunculkan kehebatan teknologi dan kemampuan eksekusi China dalam menyelesaikan suatu masalah. Salah satu bentuknya Pemerintah China segera membangun RS Huoshenshan di Wuhan, dengan kapasitas 1.000 tempat tidur pasien, hanya dalam sepuluh hari. Ini adalah bukti pernyataan Presiden China Xi Jinping, yang berjanji akan mengalahkan virus yang disebutnya “iblis” ini.

World Health Organization (WHO)

WHO sebenarnya tahu dampak dari Virus Corona ini, tetapi cenderung bergerak lambat. Setelah tiga kali mengadakan rapat, Sekjen WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus WHO baru menyatakan Virus Corona ini sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), di Jenewa tanggal 30 Januari 2020. Setelah pernyataan itu dunia pun bersiaga penuh. Dan setiap negara mulai bersiap mengevakuasi warganya yang di Wuhan.

Presiden Jokowi memerintahkan untuk mengevakuasi WNI yang berada di Wuhan. Ada sebanyak 250 WNI dari Wuhan. Pemerintah menunjuk Batik Air untuk melakukan misi itu. Dan sempat terjadi kont roversi mengapa bukan Garuda Indonesia sebagai flag carrier yang melakukan misi evakuasi ini? Atas pertimbangan Batik Air sudah memiliki jadwal penerbangan ke Wuhan. Dan atas usul Pemerintah China, yang memberikan izin berupa resumption slot bagi pesawat yang secara reguler sudah melayani rute tersebut; maka diputuskan Batik Air yang melakukan misi evakuasi itu.

Kemudian Batik Air ID-8618 dengan 18 crew dan 30 tenaga medis terbang ke Bandara Internasional Tianhe Wuhan. Dan hari Minggu 2 Februari Batik Air dengan nomor penerbangan ID-8619 kembali dari Wuhan, mendarat di Bandara Hang Nadim Batam pukul 08.30 WIB. Membawa 238 WNI dari Wuhan. Ada empat orang WNI yang menolak dievakuasi dan tiga orang tidak lolos persyaratan imigrasi.

Dalam situasi wabah virus corona, banyak pilot maskapai penerbangan dunia yang menolak terbang ke Wuhan. Apresiasi layak diberikan kepada crew pesawat Batik Air tersebut. Bravo Captain Destyo Usodo, Captain Suyono Suwito, First Officer Hendra Tjin dan Taufan Widya.

Semua WNI yang dievakuasi i tu kemudian dibawa ke Natuna dengan pesawat Hercules A-1315 dan dua pesawat Boeing A-7304 dan A-7306. Dan di Pangkalan Udara Raden Sadjad Ranai mereka dikarantina. Mereka akan berdiam di sana kurang lebih dua minggu atau sampai waktu dirasakan aman. (CNN Indonesia, Minggu, 2 Februari 2020).

Keberadaan WNI yang dievakuasi dari Wuhan ini sempat menimbulkan keberatan dari warga Natuna. Ini sempat menimbulkan kericuhan, sebab ada penolakan dari warga Natuna yang khawatir terkena imbas dan tertular Corona Virus ini.

Berita terakhir (Liputan6, 3 Februari 2020) korban Corona Virus di Propinsi Hubei sudah mencapai 563 orang. Dan masih mungkin untuk bertambah lagi. Sebanyak 505 orang dapat disembuhkan. Penderita terbanyak di China Daratan sebanyak 17.302 orang terinfeksi. Provinsi Hubei di China mencatat 11.177 orang terkena virus ini. Sejumlah 350 orang tewas dan 295 sembuh. Jumlah korban tewas akibat Virus Corona di China Daratan sudah melewati jumlah tewas akibat SARS. Ketika wabah SARS merebak, ada 349 orang tewas di China.

Perang Masa Depan

Di tengah-tengah hebohnya Virus Corona, beredar isu yang mencurigai ada usaha untuk mengacaukan China. Konsulat Jenderal AS di Wuhan dievakuasi penuh pada Dewan Khusus Angkatan Udara AS, karena virus baru itu. Setelah itu pada 30 Januari 2020, ditemukan delapan kontainer berwarna kuning bertuliskan “biohazard”. Dan Kementerian Luar Negeri China secara resmi menuntut agar Amerika Serikat menjelaskan mengenai kontainer biohazar yang ditemukan terkubur di konsulat jenderal yang dievakuasi di Wuhan itu.

Memperhatikan dampaknya yang meluas, ada spekulasi dari ilmuwan Rusia, Virus Corona adalah salah satu usaha untuk mengembangkan senjata masa depan. Walaupun ini ditolak dan dibantah oleh para ilmuwan China.

Dengan perkembangan jaman, perang masa depan sudah tidak seperti yang ada dalam gambaran di benak kita selama ini. Perang generasi berikut sungguh mengerikan.

Seperti kita baca di media, hari Jumat 3 Januari 2020 Amerika Serikat telah menghebohkan dunia. AS membunuh Mayor Jenderal Qasim Soleimani, ketika Jenderal Iran yang menjadi orang kedua di Iran itu, sedang berada di Baghdad. Hanya dengan sebuah drone yang dikendalikan dari jarak jauh, AS berhasil mencapai target dan sasarannya dengan tepat. Tanpa susah payah.

Salah satu alternatif lain perang masa depan barangkali adalah dengan virus. Dan Virus Corona barangkali menjadi awal gambaran ke arah itu.

Wallahu’alam

HL, 20 Feb  2020
Kemayoran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *