Bandara Jenderal Ahmad Yani

Akhirnya setelah sekian lama diresmikan, saya sempat juga melihat Bandara Jenderal Ahmad Yani. Jangan lupa sekarang namanya Jenderal Ahmad Yani, ada tambahan kata “Jenderal”. Sebab ada Ahmad Yani yang lain, kan? Presiden Joko Widodo meresmikan terminal baru Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani dan Gedung Menara Pengawas ATC Airnav itu, pada Kamis 7 Juni 2018.

Memasuki areal bandara, di tenggah hujan gerimis. Dari jauh patung Jenderal Ahmad Yani, berdiri gagah di tepi jalan masuk ke bandara. Tongkat komandonya mengacung ke samping badannya. Salah satu jenderal hebat dan fenomenal yang tercatat sejarah.

Turun dari mobil dan memasuki terminal. Kesan pertama Terminal bandara ini sungguh keren. Cantik dan apik. Dibangun dengan konsep Terminal Terapung, sebab “mengapung” diatas rawa & tambak. Ini adalah konsep Bandara Terapung yang pertama di Indonesia. Jadi terminal ini alih-alih berada diatas tanah, tetapi berdiri diatas puluhan tiang-tiang pancang yang menghujam ke dalam tanah yang ber rawa. Konon kedalamannya mencapai 36 meter. Dalam sekali …

Di depan terminal ada replika Kapal Borobudur. Replika Kapal 3 dimensi ini dibuat oleh Seniman Titarubi, berdasarkan relief Candi Borobudur. Kapal bercadik ganda ini yang terbuat dari kayu. Dan diperkirakan adalah kapal abad ke 8 yang digunakan untuk melakukan perdagangan dan penguasaan wilayah.  Diperkirakan kapal sejenis itulah yang digunakan Kerajaan Siriwijaya menguasai wilayah hegemoninya, pada ke 7 sampai abad ke 13.

Terminal baru ini 9 kali lebih besar dari terminal lama. Luasnya lebih dari 55 ribu M2. Terminal ini mampu menangani 20 ribu penumpang per hari, atau 7,5 juta penumpang per tahun. Tersedia 30 counter check in, untuk proses penumpang. Dan 3 garbarata. Apronnya memiliki 12 parking stand. Pembangunan terminal ini membutuhkan biaya sebesar Rp 932 milyar. Dan total biaya seluruhnya Rp 2,2 Trilyun.

Sebelum memasuki terminal para penumpang dapat melihat replika Kuil Sam Po Kong yang berwarna merah menyala. Sam Po Kong adalah salah satu icon Kota Semarang. Bagi yang tidak sempat mengunjungi Sam Po Kong, paling tidak dapat melihat replikanya di sini.

Memasuki terminal suasanana terasa cozy dan homy. Bersih dan cantik. Terkesan agak terlalu luas. Barangkali karena jumlah penumpangnya belum begitu banyak. Apalagi ada kasus Corona Covid-19 yang membuat jumlah penumpang menurun cukup drastis.

Konsesioner yang menyediakan barang-barang dan souvenir tampaknya cukup bonafide. Penampilannya menarik dan cukup atraktif. Tampilan yang apik dan progesional ini, mudah-mudahaan banyak mengundang penumpang untuk membeli.

Di toilet ada stiker yang tertempel diatas toilet yang menjelaskan bahwa air pembilas ini adalah air dari proses daur ulang. Konon air itu diproses dan di daur ulang dari air tambak. Wah keren ini. Salah satu bentuk kesadaran dan peduli lingkungan dan eco green.

Ruangan Waiting Lounge terasa begitu luas. Barangkali lagi-lagi, karena jumlah penumpang yang belum begitu banyak, sehingga kesannya over capacity dan under utilized. Mudah-mudahan pada saatnya nanti ruangan yang luas ini benar-benar terisi penumpang, sehingga dapat dimanfaatkanp dengan optimal.

Oh ya … ada beberapa masukan, mengenai papan petunjuk ke terminal. Mesti lebih banyak papan petunjuk yang jelas untuk menuju ke terminal, bagi mereka yang dari luar bandara. Beberapa teman bilang ketika salah jalur masuk ke terminal, bakal kehilangan petunjuk untuk kembali. Dan mesti mengulang ke luar bandara dari pos masuk lagi.

Kasus yang terjadi dan dialami. Mau ke drop zone eh keliru ke gedung parkir. Mau balik menuju ke pick up zone, harus ke luar bandara dulu. Jauh sekali mencari putar baliknya. Kemudian ketika masuk bandara lagi harus mengambil tiket lagi. Kasus yang lain rekan saya mau ke kantor Angkasa Pura, tetapi keterusan dan tidak berbelok lebih awal. Akibatnya dia masuk ke gedung parkir. Dan harus ke luar bandara lagi dan lalu masuk kembali. Repot sekali.

Lalu Lintas Udara

Sebagai mantan ATC. Saya menyempatkan naik ke atas Menara Pengawas ATC. Dan diatas sana ruangannya terasa lapang dan luas. Pandangan lepas ke segala arah. Sayangnya malam hari. Kalau siang hari pasti keren pemandangan dari ketinggian 43 meter ini.

Ganes, Happy & Bambang adalah para ATC yang on duty malam itu. Di apron di sebelah kiri Tower ada 8 pesawat yang sedang parkir. Dari parking stand 12. Berarti cukup padat juga. Menurut Ganes rata-rata traffic 150 gerakan pesawat take off & landing. Jika pesawat latih yang touch & go dihitung setiap kali touch & go, jumlah pergerakan bisa mencapai sekitar 350 setiap hari. Wah ! Sebagai mantan ATC, saya cukup faham bagaimana sibuknya mereka para ATC pada waktu ada training flight yang melakukan touch & go.

Menurut Ganes ada wacana bahwa Approach Control-nya akan digabung dengan Jogja. Dalam waktu dekat barangkali akan direalisasikan. Sekarang ini masih dalam proses.

Terimakasih dan apresiasi kepada senior saya Mas Suhartadi dan Airport Duty Manager Mas Irwan yang menyempatkan diri mengantarkan saya keliling bandara. Malah sampai naik ke atas Tower. Suatu kesempatan luar biasa … It was really valuable moment.

Malam itu sekitar jam 9 malam saya meninggalkan Bandara Jenderal Ahmad Yani. Gerimis sudah reda. Mudah2an kecantikan bandara ini bermanfaat penuh bagi Semarang dan Jawa Tengah. Menjadi pemicu perekonomian daerah. Dan yang penting, mampu mencari pendapatannya untuk menutup investasi yang sudah dikeluarkan.

Semoga  ….

HL, 2 Maret 2020
TSI Yogya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *