Pertemuan Awal Adventure To Flores

Awal bulan April 2020 yang akan datang, para purna tugas – sebutan lain dari pensiunan – berencana untuk melakukan touring ke Flores dari Jakarta dengan mobil, nyetir sendiri bergantian. Saya diberitahu oleh Mas Untung Rahayu. Surprise juga. Hebat nih bapak-bapak yang masih punya semangat, kesehatan dan juga yang penting adalah : biaya.

Rencana touring ini rasanya disemangati oleh keberhasilan para senior itu ketika melakukan perjalanan darat dari Jakarta sampai ke Sabang dan kilometer nol di  Pulau Weh, ujung utara Indonesia. Berangkat dari rute pantai barat dan pulangnya melalui jalur timur Sumatera. Luar biasa !

Untuk mematangkan rencana tersebut kami ber lima, berkumpul di MGK Kemayoran : Untung Rahayu, Yon Sugiono, Eko Diantoro, Rian Hadihito dan saya. Saya senang para senior itu tampak sehat, ceah dan penuh semangat. Modal yang sangat baik untuk melakukan kegiatan semacam ini.

Rencananya Tour ini akan dimulai tanggal 1 April dan memakan waktu selama 12 hari. Perjalanan akan dilakukan dengan menggunakan mobil, ferry dan kapal laut. Saya membayangkan ini bakal menarik dan menyegarkan kelesuan.

Oleh sebab itu saya mengusulkan agar perjalanan ini bukan hanya touring semata-mata, melainkan mesti ada unsur adventure-nya. Jika hanya touring  saja hanya sepenuhnya menikmati perjalanan saja Akan tetapi jika adventure kita dapat memahami nuansa dan energi wilayah setempat. Itulah kelebihan  satu adventure.

Dari semangat itulah, saya mengusulkan agar pada hari kedua dari Lembar kita akan mampir ke Gili Tangkong, Gili Sudak, Gili Kedis. Lokasinya sekitar 35 km di selatan Lembar. Lalu dari Sekotong dengan perahu menyeberang selama 15 menit, kita akan mengunjungi ke pulau-pulau kecil itu. Pulau-pulau kecil itu tidak ada penduduknya. Jadi kalau datang kesana kita benar-benar sendiri! Kita seperti pemilik dari pulau-pulau itu. Keren kan? Sukurlah usul saya mendapat respons positif. Jadi Gili Tangkong menjadi tujuan pertama setelah Lembar.

Berikutnya mengenai rencana mengunjungi Wae Rebo. Ini adalah sebuah desa adat di Manggarai, Ruteng. Tempatnya di ketinggian dan diantara perbukitan, Dari Labuan Bajo ke Wae Rebo sekitar 4-5 jam. Kemudian mendaki sekitar 2-3 jam, jaraknya + 5 km, dari jalan aspal terakhir. Treknya menanjak menuju ke Pos 1 dan ke Pos 2. Menurut informasi menuju Pos 3 trek sudah lumayan. Nah mendaki ini yang perlu difikirkan dengan seksama, pasti tidak mudah berjalan kaki dengan medan yang tidak biasa selama 3 jam! Kita mesti waspada dan menyiapkan diri dengan serius.

KAPAL LAUT

Pembicaraan berikut mengenai jadwal ferry dan kapal. Harus dapat dipastikan dengan benar, karena jika meleset bisa menganggu dan mengacaukan rute berikutnya. Dari googling dan mencari informasi dari teman-teman, diperoleh informasi dari Tanjung Perak ke Lembar ada 2 kapal Legundi dan Oasis DLN, dengan hari yang berbeda. Jadi setiap hari pasti ada kapal ke Lembar. Legundi setiap Selasa, Kamis dan Sabtu berangkat jam 14.00. Biaya per orang Rp. 87 ribu dan Mobil Rp. 1.525 juta. Dan Oasis Setiap Senin, Rabu, Jumat, berangkat jam 18.00. Biaya per orang Rp. 65 ribu dan mobil Rp. 1,5 juta. Aman deh.

Untuk perjalanan pulang, Yon memberi tambahan informasi ada kapal Swasta yang dioperasikan oleh ASDP dari Labuhan Bajo ke Tanjung Perak. Jadi untuk menghemat waktu di laut, kita punya aternatif selain naik kapal langsung dari Ende. Hanya saja apakah waktunya pas dengan keberangkatan kapal? Nanti didetailkan lagi.

Oh iya, Mas Untung Rahayu mengingatkan lagi mengenai biaya. Sedapat mungkin kita berhemat dan mengurangi biaya yang dapat dikurangi. Jumlah yang relatif besar dapat membuat yang semula ingin ikut jadi mundur. Wajar saja lah. Apalagi kita sudah paska tugas, ya kan?

Akhirnya semoga rencana yang spektakuler ini mudah-mudahan dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Jaga kesehatan dan semangat. Semoga semuanya tetap sehat dan semangat juga bermanfaat.

Amin  …

KMO, 15 Feb 2020
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *