KEMELEKATAN

Manusia diciptakan mempunyai keterikatan yang sangat kuat kepada apa saja yang disenangi dan dicintainya. Begitu kuatnya keterikatan itu, sehingga berubah bukan lagi hanya terikat, tetapi kemudian menjadi melekat dengan sangat kuat. Akibatnya manusia (sesuai dengan takdirnya), sulit melepaskan diri dari keterikatan yang begitu kuat itu. Dan keterikatan itu kemudian berubah menjadi kemelekatan. Melekat dan sulit melepaskannya. Selanjutnya karena tidak mampu melepaskan, maka semua yang melekat itu justru menjadi beban bagi dirinya.

Kemelekatan yang begitu kuat itu biasanya kepada tiga hal pokok. Itu sering disebut dengan metafora “Tiga TA” yaitu : harta, takhta dan wanita. “Tiga TA” tadi sering menjadi lambang keberhasilan dan pencapaian seorang laki-laki dalam menjalani kehidupan ini. Oleh sebab itu orang berusaha keras untuk mencapai apa yang akan menjadikannya eksis, dihargai dan diperhitungkan masyarakat, dimana dia berada. Wajar saja.

Pada suatu periode memang seyogyanya demikian, tetapi pada masa berikutnya kemelekatan itu akan menjadi beban. Dan akan terus menariknya untuk tetap berkutat dengan urusan dunia. Padahal ibarat suatu perjalanan, tujuan utama bukan dunia.  Dunia hanyalah tempat persinggahan semata.

Sesungguhnyalah ada alam setelah dunia ini, yang akan dijalani dan menjadi tujuan manusia. Oleh marenanya seyogyanya manusia menyiapkan diri sebelum memasukinya. Akan tetapi walaupun sudah tahu begitu, manusia lebih suka berkutat dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Wajarlah jika kemudian sulit melepaskan diri dari kemelekatan kepada dunia yang telah begitu kuat mempengaruhi dan membelenggunya.

Kemelekatan adalah penyebab dari semua derita dan stress. Mengapa? Sebab ketika tidak dapat melepaskan dari sesuatu, orang menjadi sangat tergantung kepadanya. Padahal semua itu pada saatnya pasti akan meninggalkan dia. Semua yang berbentuk pada waktunya pasti akan terurai dan lenyap. Jika tidak siap menerima kehilangan ini, maka itu akan menciptakan penderitaan.

Pada saat memiliki uang orang bisa membeli apa saja, membeli keinginan, mendapat kesukaaannya. Adakalanya orang takut kehilangan uang atau takut jika uangnya dicuri orang. Pada saat kehilangan uang, kenikmatannya lenyap. Eksistensinya ikut hilang. Dan itu akan membuat menderita, bahkan bisa hilang ingatan. Itulah kemelekatan.

Yang lain jika mengasihi seseorang dan mulai berusaha memiliki. Misalnya kita semua pasti sangat mengasihi anak-anak. Namun jika itu melekat pada mereka, maka tidak mudah jika pada suatu saat dia meninggalkan kita, atau benar-benar meninggal dunia! Itu akan membuat menderita dan stress. Itulah kemelekatan.

Begitu pula dengan kekuasaan atau jabatan. Banyak yang menderita, stress, gila, atau menderita post power syndrome, ketika jabatan itu lepas dari dirinya. Sayangnya manusia tanpa sadar dan terus-menerus menggendong beban itu dalam hidupnya. Jika tidak melepaskan beban itu, dia akan menderita.

 

ZUHUD

Islam mengenal Zuhud. Dan mengajarkan agar manusia melakukannya. Zuhud adalah suatu sikap terpuji, di mana seseorang lebih mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan dunia atau harta kekayaan. Walaupun demikian zuhud sering dimaknai secara salah. Sebagian besar orang menganggap zuhud adalah usaha untuk meninggalkan semua urusan dunia dan semata-mata hanya konsentrasi ke akhirat saja.

Padahal sebenarnya bukan demikian. Zuhud terhadap dunia bukan berarti meninggalkannya. Zuhud yang benar adalah menjadikan dunia hanyalah sebagai sarana dan akhirat adalah tujuannya. Zuhud meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat, untuk kehidupan akhirat. Di luar kepentingan akhirat, pada hakikatnya hanyalah sementara dan sekedar sebagai alat bantu menuju akhirat.

Ada 4 tingkatan dalam Zuhud, menurut Ibnu Al Qoyyim dan para ulama lainnya adalah:

  1. Zuhud Wajib : zuhud terhadap perkara haram dan meninggalkannya.
  2. Zuhud Sunnah (mustahabbah) : zuhud terhadap perkara makruh dan mubah yang melebihi kebutuhan, baik makan, minum, pakaian dan semisalnya.
  3. Zuhud Menuju Allah, ada dua macam.
    a.  Zuhud dunia : mengosongkan hati, sehingga tidak tergoda oleh duniawiah.
    b.  Zuhud terhadap diri sendiri : adalah yang terberat.
  4. Zuhud Perkara Syubhat : meninggalkan perkara yang belum jelas, apakah halal atau haram. Ini zuhudnya orang yang wara’ (menjaga kehormatan).

Akhirnya marilah merenungi dan mengevaluasi, apakah atau sampai dimana kemelekatan ini masih membebani? Kehilangan jabatan, uang berkurang banyak, anak-anak bersikap yang tidak sesuai dengan kemauan kita, kehilangan eksistensi dan yang semisalnya itu. Jangan-jangan itu membuat menderita.

Sangat dimengerti tidak banyak yang mampu melakukan ini. Hanya mereka yang sadar dan mengerti, yang dapat melakukan perenungan dan introspeksi ini.

Apakah hal-hal itu membuat was-was, khawatir, membuat berdebar-debar, takut, putus asa dan lain-lain. Jika masih begitu, berarti kita mesti masih terus berlatih melepaskan diri dari kemelekatan dunia. Perlu sediit waktu lagi untuk memahami. Mudah-mudahan.

Itu syarat mutlak untuk perjalanan berikutnya.

Wallahu’alam  …

KMO, Ahad Kliwon, 9 Feb 2020
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *