Allah, Masalah & Musibah

Allah SWT yang Maha Segala, mengatur alam semesta dengan menentukan hukum-hukum-NYA. Planet Bumi tempat kita hidup ini, hanyalah noktah kecil di alam semesta raya yang tak terkirakan besarnya. Dan alam semesta itu masih terus berkembang entah sampai kapan. Itu karya-NYA yang luar biasa besar. Sebaliknya, Allah Swt juga menciptakn karya-NYA yang sangat kecil, superkecil. Manusia membutuhkan bantuan mikroskop yang super, untuk dapat melihatnya. Allahu Akbar …

Semua itu adalah sunattullah. Allah menentukan hukum-NYA. Setelah itu  derivatif dari hukum-hukum itulah, yang mengatur kehidupan alam semesta dan memberi hidup dan kehidupan bagi mahluk-mahluk ciptaan-NYA. Terlalu banyak ciptaan-NYA yang begitu sangat luar biasa. Marilah kita perhatikan yang tampak paling sederhana dari hukum-hukum-NYA yang dapat kita lihat dan amati, sebab diluar itu masih begitu sangat banyak yang di luar akal kita!

Bumi diciptakan dan berputar pada porosnya. Dan bumi beredar mengelilingi matahari dengan kemiringan tertentu. Dari dua sunatullah itu, ternyata muncul ribuan derivatifnya, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di bumi.

Rotasi bumi membuat udara bergerak. Lalu terciptalah angin dengan berbagai macam karakternya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.

Matahari yang menyinari khatulistiwa memanaskan daratan dan udara memuai. Udara yang memuai menjadi lebih ringan, sehingga naik. Tekanan udara pun turun, karena udaranya berkurang. Udara dingin di sekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi. Udara yang naik tadi lalu, menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Terus menerus begitu, ini dinamakan konveksi. Hukum alam itu terjadi karena sunatullah.

Ada yang lain. Matahari yang memanasi khatulistiwa, juga menimbulkan arus laut. Kok bisa? Sinar matahari membuat wilayah di sekitar khatulistiwa cenderung lebih hangat. Air ini lalu bergerak ke arah daerah dingin, ke arah kutub. Dan air pada dasar laut di khatulistiwa bergerak ke atas, mengisi air yang bergerak ke kutub tadi, disebut sebagai (upwelling).

Kemudian air dari khatulistiwa ketika mencapai daerah kutub menjadi lebih dingin, sehingga memiliki massa jenis yang lebih berat. Air pun lalu bergerak ke dasar laut (downwelling). Setelah itu bergerak kembali kekhatulistiwa. Begitu seterusnya, tanpa  berhenti.

Lalu apa maknanya? Dengan dua fenomena itu saja, telah tercipta ribuan kehidupan di muka bumi. Hujan yang terjadi oleh arus konveksi udara, membuat kehidupan di permukaan bumi. Pepohonan dan tanaman tumbuh, menciptakan oksigen, menjadi makanan bagi hewan, manusia memakan hewan dan sebagainya. Tanpa adanya arus konveksi, kehidupan akan terhenti!

Di laut, arus laut membuat kehidupan di samudera luas. Berbagai macam satwa dan tumbuhan laut hidup karena siklus arus tersebut. Arus laut menghasilkan nutrisi laut seperti : plankton dan koloni ikan, pertumbuhan batu karang, membuat komposisi kimia laut dsbnya. Adanya mikronutrisi, komposisi kimia air laut, dan plankton sangat penting dalam kelangsungan rantai makanan di laut. Jika arus laut berhenti, kehidupan laut akan terhenti!

Para ahli mengatakan, 70 % oksigen di atmosfer berasal dari hasil fotosintesis plankton. Jika arus ini rusak atau berhenti bekerja, maka oksigen akan berkurang! Dan bumi akan mengalami anoxic event atau kondisi minim oksigen, yang akan mengancam kehidupan makhluk hidup.

Jadi itu menjelaskan mengapa global warming, membahayakan kehidupan manusia. Kutub menjadi hangat. Dan tidak ada lagi “downwelling”. Arus ke khatulistiwa berhenti. Akhirnya kehidupan dan rantai makanan di laut terganggu.

MASALAH

Hukum alam yang diatas itu berlaku pada setiap kondisi, tidak memilih situasi. Dan pada setiap waktu, pada setiap kondisi hukum alam itu berhubungan dengan manusia. Jika ketentuan-NYA dalam hukum alam itu sesuai dengan keinginannya, manusia meyebutnya sebagai Anugerah. Sebaliknya jika membuat kondisinya menjadi susah, maka disebutnya sebagai Masalah.

Sesuai kodratnya manusia suka mengeluh. Manusia sering sekali mengeluh dapat masalah. Untungnya mereka berusaha tabah, dan menganggap itu kehendak Allah. Padahal Allah tidak pernah menciptakan masalah. Allah hanyalah menentukan segala sesuatu! Manusia saja yang menganggap, jika ada ketentuan-NYA yang tidak sesuai dengan kemauannya, lalu disebut sebagai Masalah.

Sebenarnya manusia membuat masalahnya sendiri! Lalu ketika ia menjadi susah karena masalah itu, dia lalu “menyalahkan” seakan-akan itu akibat dari Allah. Dalam konotasi yang positif, manusia menganggap itu sebagai cobaan dari Allah. Manusia memang maunya enak sendiri  …

Barangkali kejadian banjir dapat menjadi sebuah contoh kecil. Allah menjatuhkan air dari langit. Itu adalah hukum alam. Hujan yang deras ini membawa akibat. Oleh karena manusia tidak peduli, lalai dan tidak mampu “mengurus” alam, lalu mendapat “masalah” berupa banjir, tanah longsor, bangunan roboh dan sebagainya.

Seyogyanya manusia berusaha agar tidak terkena masalah, dengan melakukan penghijauan, membuat drainase, mengalirkan air, meninggikan rumah. Sayangnya sebagian manusia justru lalu menyalahkan penyebabnya adalah hujan. Kemudian menganggap hujan sebagai “masalah”. Padahal jika menyalahkan hujan, itu sama saja menyalahkan dan mencela Sang Pembuat Hujan.

Manusia mendapat masalah karena ulahnya sendiri. Dan manusia tidak bersiap untuk menghadapi masalah yang timbul dari ulahnya sendiri. Malah kemudian menyalahkan gegara hujan, dia jadi susah. Astaghfirullah  …

MUSIBAH

Musibah adalah ketentuan Allah yang dialami manusia, dapat berupa sesuatu yang baik maupun yang buruk. Musibah diturunkan Allah, sebab masih ada hubungannya dengan perbuatan manusia. Allah berfirman :

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)“. (QS. Asy-Syura: 30)

Oleh sebab itu musibah semestinya disikapi dengan sabar dan lapang dada. Memang tidak mudah, dan beberapa orang menerima musibah dengan berbagai macam sikap. Ada empat kategori manusia dalam menerima musibah, adalah :

  1. Mereka yang lemah : selalu mengeluh terhadap setiap keadaan. Alih-alih mengadu kepada Allah Swt, tetapi mengasu kepada sesama manusia.
  2. Mereka yang bersabar : senantiasa bersabar menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah Swt. Selalu berdoa agar Allah menghilangkan atau meringankan musibah yang tengah dialami.
  3. Mereka yang ridha : berlapang dada ketika menghadapi musibah. Mereka ridha dan menyadari, yang terjadi adalah kehendak Allah Swt. Mereka seakan tidak merasa mendapatkan cobaan. Ridha peringkatnya lebih tinggi dari sabar.
  4. Mereka yang bersyukur : merasa musibah adalah sesuatu yang harus dinikmati. Pada peringkat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah dan mereka yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam.

Sayyidina Ali berkata, “Jika engkau bersabar, takdir akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan pahala. Jika engkau berkeluh kesah, takdir juga akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan dosa.”

Musibah bertingkat ke level yang semakin berat. Peringkat berikutnya setelah Musibah adalah Bala. Bala mutlak diturunkan Allah Swt sebagai ujian bagi manusia, baik berupa kebaikan atau keburukan. Bala bukan disebabkan oleh reaksi, atas aksi manusia.

Dan yang terberat adalah Adzab. Itu adalah hukuman dari Allah, yang diturunkan untuk dijadikan sebagai pelajaran. Kebanyakan Adzab berhubungan dengan pembalasan, pada hari akhir kelak.

Wallahu’alam  …

KMO, Kamis 30 Jan 2020
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *