Mengenang Kembali Curug

Pada tahun 1975-an dapat sekolah di Curug pada waktu adalah sesuatu yang masih langka. Orang ngertinya itu adalah sekolahnya para pilot. Masyarakat di luar Curug kebanyakan tidak tahu, bahwa di Curug itu ada berbagai macam pelatihan keahlian di bidang penerbangan. Itulah mengapa namanya PLP singkatan dari Pendidikan Pelatihan Penerbangan, adaptasi dari Civil Aviation Training Centre.

PLP Curug berada dalam suatu wilayah bersama dengan Bandara Budiarto, bandara khusus untuk melatih pilot. Sebuah papan besar  melintang di pintu masuk Bandara Budiarto, yang pasti diingat semua siswa Curug : The best pilots are trained here! Tetapi sekarang, statemen itu mesti dikonfirmasi lagi. Masih benar nggak tuh?

PLP benar-benar menghasilkan tenaga kerja ahli yang siap pakai. Dilatih paling lama 1,5 tahun. Lulusannya benar-benar langsung dapat bekerja di lapangan. Tahun segitu, tetapi fasilitas pendidikannya sangat lengkap. Untuk pilot fasilitasnya seperti sebuah bandara, dilengkapi dengan simulator, flops, hanggar dan lainnya. Bagi siswa jurusan lain tidak kalah juga. Ada ruangan kelas, ruangan film, laboratorium bahasa, bengkel praktek, perpustakaan, fasilitas olahraga, kolam renang, ruangan makan bersama, barak tempat tinggal siswa.

Oh iya, buku-buku pelajaran 90% dalam Bahasa Inggris. Buku-buku cetak dipinjamkan gratis. Dari 23 buku yang kami terima, hanya satu yang berbahasa Indonesia, yaitu manajemen. Barangkali karena sebab itu, dan juga agar lebih mudah memasuki dunia penerbangan, maka kami mempunyai guru Bahasa Inggris yang native speaker.  Bule beneran!

PLP Curug berjarak sekitar 50 km dari Jakarta, tetapi terasa lokasinya jauh dari mana-mana. Curug waktu itu mempunyai banyak lahan terbuka, udara yang sejuk, suasana hening dan sunyi. Suara yang menjadi background kehidupan sehari-hari adalah deru mesin pesawat latih bermesin tunggal dan suara helikopter latih. Dan suara mesin pemotong rumput, yang karena luasnya lahan hampir tidak pernah berhenti …

Curug yang terpencil benar-benar tempat ideal untuk belajar dan untuk melatih anak-anak muda yang cerdas dan berbakat. Seleksi masuknya begitu ketat. Dan pada setiap semester selalu ada beberapa orang siswa yang fail alias gagal.

JUNIOR ATC Co. VIII

Awak tahun 1975 selepas beberapa bulan lulus SMA, saya beruntung masuk ke PLP-Curug. Diterima sebagai siswa Junior Air Traffic Controller (JATC) Course VIII. Terus terang, pada waktu masuk saya nggak ngerti apa itu ATC. Pokoknya bisa sekolah dan gratis. Bangganya bukan main!

Dan mulailah kenangan masa di Curug itu kembali bermunculan. Kami semua ada 20 orang dalam satu course JATC Co. VIII. Rekan-rekan kami berdatangan dari seluruh wilayah Indonesia. Benar-benar sebuah bukti, bhineka tunggal ika. Sudah tentu karakter dan perilakunya bermacam-macam.

Kehidupan di barak penuh dengan retorika dan suka-duka. Para senior kami panggil dengan sebutan Tuan Senior. Mereka galak, atau paling tidak sengaja memasang tampang galak, maksudnya biar punya wibawa kepada kami yang masih yunior. Untunglah tidak sampai parah seperti kasus di STPDN itu.

Seminggu pertama adalah semacam pengenalan kampus. Itu masa “neraka” bagi siswa baru. Tuan senior meraja-lela, mengerjai kami habis-habisan. Kami dipaksa berjalan jongkok, dengan mata tertutup sapu tangan. Tangan kiri diselipkan diantara kaki dibawah pantat dan dipegang rekan kami yang dibelakang. Tangan kanan memegang tangan kiri rekan yang diselipkan diantara kakinya. Bisa dibayangkan sulitnya kan? Itu adalah jalan jongkok “ujung tetek”. Tangan kami tidak boleh putus antara satu dan yang lain. Jika putus, ada hukuman dari Tuan Senior. Menyiksa banget deh!

Prosesi makan, selalu menjadi semacam hiburan dari hal yang rutin. Makan pagi hampir selalu roti dengan selai mentega, atau nasi dengan kecap dan abon. Makan siang yang ditunggu, jika ada pisangnya. Siswa yang cerdik menyembunyikan pisang dibawah piring yang tertelungkup. Terus berteriak kepada mamang yang melayani : “Maangg … pisangnya belum!” Tapi mamang yang berpengalaman dengan kalem menjawab : “Ada dibawah piring tuh!”  Sialan tahu juga dia.

Ibu dapurnya baik-baik, Bu Ripto dan Bu Made. Semua siswa Curug mesti mengenal beliau berdua. Ibu-ibu itu pasti juga tahu, para siswa banyak yang nakal dan mengakali mamang-mamang dapur, agar dapat jatah makanan yang lebih banyak.

Yang menarik jika kebetulan mendapat giliran jaga sebagai duty taruna. Dapat satu termos kopi dan makanan ringan. Pada jaman itu, itu benar-benar sesuatu banget.

 Extra fooding diberikan seminggu satu kali dalam bentuk bubur kacang-hijau, setiap hari Kamis. Jadi setiap Kamis, siswa-siswa menaruh gelasnya di meja di tengah-tengah deretan kamar-kamar barak. Lalu mamang dapur, mengisi gelas-gelas itu dengan bubur kacang hijau. Namanya juga siswa yang masih muda, makannya banyak. Buru-buru bubur kacang hijau dimakan, lalu gelasnya diantrikan lagi. Untunglah  mamangnya baik hati, mau mengisi gelas yang antri kedua kali.

Oh iya untuk hiburan, para siswa mendapat jatah nonton bioskop di Tangerang. Kami diantar-jemput memakai bus. Ada 4-5 bus sekali jalan. Juga pada waktu week-end.

Siapa yang mau week-end mesti mendaftarkan diri lebih dahulu. Ada bus yang mengantar-jemput sampai di Lapangan Banteng pada waktu itu. Yang tidak pergi week-end, mereka tinggal di barak dan menghabiskan hari Sabtu dan Minggu di barak. Mereka ini kemudian disebut sebagai “setan barak”.

Diantara kami ada 4 orang siswa yang sudah menjadi karyawan di Bandara Ngurah Bali. Salah seorang diantara mereka, dipanggil “kakek” oleh teman kami Tobing. Akibatnya ybs menjadi marah, dan ternyata dia marah betulan. Jadi setelah kejadian itu, malah dipanggil “kakek” beneran sama teman-temannya.

Baju seragam juga dicuci dan diseterika oleh Pengurus Barak. Ada jadwal cuci baju. Jadi kami tinggal menaruh baju dan celana di depan pintu barak. Nanti ada mamang yang mengambil cucian kotor. Dan dalam 2-3 hari cucian sudah  bersih dan rapi diseterika.

Acara di luar kehidupan rutin di barak, biasanya kami keluar dan berjalan keliling kompleks. Istilahnya “ngampung”. Siswa-siswa yang tinggal lama di barak, biasanya dari siswa teknik radio, teknik listrik dan teknik pesawat, lebih sering “ngampung” karena lamanya waktu pendidikan. Dan mereka sering kemudian terlibat “cinlok” dengan gadis-gadis di luar kompleks.

Terutama jika ada acara pagelaran cokek di dekat kompleks. Tandanya mudah saja. Jika terdengar rentetan suara mercon, pasti ada acara cokek. Dan itulah waktu yang pas untuk “ngampung” dan mendapatkan hiburan di sana.

Sekarang Tinggal Kenangan

Itulah kehidupan kampus Curug yang penuh warna. Semuanya serba ada dan tersedia. Kami hanya tinggal datang dan belajar dengan serius. Dan semuanya sudah disediakan oleh pemerintah. Luar biasa …

Ketika dulu  baru masuk ke Curug, ada mitos lulusan ATC kelak akan menjadi Kapelud (Kepala Pelabuhan Udara). Entah kebetulan atau tidak, diantara kami akhirnya ada 4 orang yang benar-benar menjadi Kapelud atau Kepala Bandara Udara, sekarang lazim disebut Airport General Manager.

Rekan saya Alexius Kismoyo sempat menjadi GM Palembang. Sabar Tarigan GM Bandara Husein Sastranegara. Nur Muhammad Dwi Hermanto, sempat menjadi GM Bandar Udara Patimura Ambon, tetapi kemudian mengundurkan diri karena barangkali jenuh di daerah timur sana.

Dan rekan senior kami, I Gusti Made Dhordy ketika teman-temannya masih jadi ATC, sudah menjadi Kapelud di Bandara Satartacik – Ruteng. Sesudah itu lalu pindah ke Bandara Selaparang-Lombok. Terakhir menjadi GM Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Beliau malah akhirnya sempat menjabat sebagai Direktur Operasi PT. Angkasa Pura II. Saya akhirnya juga mengikuti jejak beliau, menjadi GM di Selaparang. Dan berakhir sebagai GM Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, sebelum akhirnya mendapat “tendangan kehormatan” beralih ke PT. Gapura Angkasa..

Beberapa teman sudah mendahului kami. Anderson Pangaribuan dulu pada waktu orientasi siswa, dia juara lari maraton dari Tangerang ke Curug. Terakhir Anderson adalah salah satu safety auditor di PT. Garuda Indonesia.

Kemudian Hendarto yang waktu orientasi siswa dipanggil Unyil, lebih mendahului kami. Terakhir Hendarto menjadi salah satu pejabat teras dan pakar ATC di Divisi Lalu Lintas Udara Bandara Soekarno-Hatta. Kemudian Sabar Tarigan. Terakhir kali rekan kami Sabar Tarigan menjabat GM Bandara Husein Sastranegara.

Rekan-rekan yang lain ada yang menyeberang keluar dari ATC. Ujang Sukarman teman satu kamar saya, menjadi auditor dan pejabat di BPKP. Setelah pensiun menjadi Komisaris di Bank Swasta di Prabumulih. M. Lumban Tobing, juga teman satu kamar saya di Barak E7; kabarnya menjadi Dokter kemudian kerja di Bank. Sayang tidak ada contact lagi.

Kemudian Darimin teman kami yang tidak lulus pada phase ke dua, kabarnya bekerja di United Tractor dan menjadi boss disana.

Rekan-rekan yang lain saya monitor tetap sehat, semangat dalam menjalankan masa final approach-nya dengan ceria. Tidak terasa kami semua sudah pada menjadi kakek, tetapi masih gagah dan berdaya muda. Semoga selalu optimis, semangat dan bermanfaat. Suatu saat rasanya perlu juga saling bertemu lagi.

Reuni gitu loh  …

KMO, Jumat Pahing 13 Des 2014
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *