Syukur & Terimakasih

Pada suatu saat ketika duduk di meja makan dan bersiap menyuapkan makanan ke dalam mulut, setiap orang yang beriman pasti mengucapkan syukur. Baik terucap maupun di dalam hati. Rasa syukur dilangitkan sebab atas karunia-NYA lah, rezeki berupa makanan itu sekarang berada di depan meja dan siap untuk dinikmati. Selanjutnya diteruskan dengan doa, semoga yang akan dimakan berguna bagi tubuh dan kesehatannya.

Sungguh ritual yang tampak sederhana, tetapi menenteramkan hati. Sampai disitu “adegan” itu hanya seperti kesalehan spiritual biasa. Padahal jika direnungkan lebih dalam, proses itu tidaklah tampak sederhana seperti itu. Lho kok bisa?

Marilah kita mencoba mengamati dan memahaminya. Makanan yang hendak disuapkan ke dalam mulut, – misalnya saja sesuap nasi – sebelum siap dimakan, nasi itu telah melalui proses yang panjang. Sangat panjang!

Nasi yang sekarang ada di piring itu, ketika masih berujud tanaman padi barangkali ditanam di  Cianjur, Krawang, Wonosobo atau entah dimana. Jika itu beras impor, berarti di suatu tempat di Kamboja atau Thailand; entah dimana? Dalam proses penanaman padi itu, melibatkan banyak orang. Setelah ditanam, perlu pemeliharaan agar padi dapat dipanen dengan baik.

Proses berikutnya ketika panen. Ini juga membutuhkan kerja banyak orang. Dari memetik bulir-bulir padi, mengumpulkan, mengeringkan, memasukkan ke dalam gudang. Lalu menjaganya agar tidak rusak.

Setelah itu proses mengubah bahan baku padi menjadi beras yang siap untuk dikonsumsi. Baik secara manual, maupun dengan bantuan mesin. Lalu proses packaging. Memasukkan beras ke dalam kantong-kantong beras. Sekarang beras siap untuk dipasarkan. Untuk sementara dimasukkan lebih dahulu ke gudang penyimpanan, menunggu pesanan dari pembeli.

Kemudian proses selanjutnya adalah distribusi. Jika target penjualan hanya di sekitar lokasi, lebih mudah dan tidak begitu ribet. Lain lagi halnya jika harus dikirim ke daerah lain atau malah ke negara lain. Lebih banyak proses distribusi yang mesti dilakukan. Lagi-lagi proses ini melibatkan banyak orang dan institusi.

Beras dalam kantong-kantong sekarang sudah didistribusikan dengan baik. Beras itu sekarang berada di lapak-lapak penjual beras di pasar tradisional. Atau juga dengan manis berada di rak-rak toko, di Indomaret, Alfamart, Carrefour atau TransMart. Menunggu pembeli datang.

Sampai disini kita bisa membayangkan alangkah panjangnya proses itu. Dari tanaman padi di hamparan sawah di Cianjur, Krawang, Wonosobo atau entah dimana itu, sampai menjadi beras dan berada di rak-rak toko penjualan.

Kemudian kita datang membeli beras itu. Bisa kita sendiri yang membeli, atau mungkin dibantu orang lain. Seluruh proses itu yang dinamakan Rantai Pasok, atau Supply Chain.

Semua proses panjang Supply Chain itu berlaku pada semua produk. Ketika anda sempat membaca tulisan ini, prosesnya juga panjang. Mulai  dari proses tulisan ini sampai ke layar HP anda. Sampai dengan bagaimana HP anda mampu menampilkan tulisan ini. Termasuk juga bagaimana HP anda dibuat. Sejak mulai dari masih bahan mentah, sampai menjadi HP yang canggih. Semua itu adalah suatu supply chain, yang membutuhkan begitu banyak proses.

Segala hal yang tampak sederhana ternyata membutuhkan banyak usaha dan kerja yang diberikan oleh banyak orang. Barangkali kita sering melupakan tentang hal ini. Sebab kita dapat dengan mudah membeli apa saja, dengan uang. Sekedar metafora saja, meskipun punya berjuta-juta uang kita tidak bisa hanya untuk mendapat segelas air, jika berada diatas puncak gunung sana.

Begitulah. Allah telah menciptakan algoritma yang canggih, yang membuat setiap orang berhubungan dan berkelindan dengan begitu ruwet dan rumit. Yang jelas setiap dari mereka mengambil bagian dari proses tersebut. Dan tanpa mereka sadari kontribusinya sangat bermanfaat dan penting bagi siapa pun, apalagi bagi konsumen akhir yang menikmati produk.

Akhirnya kita mesti bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya. Selain itu juga, marilah juga berterimakasih kepada setiap orang entah siapa dan dimana, yang telah memungkinkan sesuap nasi telah berada dalam jemari kita. Dan kita siap untuk memakannya. Tanpa partisipasi mereka semua, sesuap nasi itu tidak mungkin berada di dalam piring di hadapan kita.

Wallahu’alam  …

KMO, 9 Desember 2019
HL

 

Wallahu’alam  …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *