Catatan Akhir Tahun 2019

Tahun 2019 hampir berakhir, tinggal menghitung hari. Dunia aviasi terus berkembang dan menjadi sarana transportasi yang menjadi andalan karena cepat dan akurat. Di antara kesibukan transportasi udara yang terus  berkembang, rasanya menarik jika sekedar melakukan flash back beberapa kejadian penting di dunia aviasi ini.

Marilah kita mulai dengan mengingat kembali musibah mengerikan yang membawa korban nyawa begitu banyak, yang dialami oleh pesawat Lion Air Boeing B-737 Max 8.

Pesawat Lion Air JT-610 tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta tanggal 29 Oktober 2018 pukul 06:20 WIB dengan tujuan Bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Hanya berselang sekitar 13 menit, pesawat jatuh di lepas pantai Tanjung Karawang sekitar 63 di lepas pantai Tanjung Karawang di perairan berkedalaman 35 meter.

Pesawat membawa 181 penumpang, 6 awak kabin dan 2 pilot, semua yang berada di pesawat tewas. Kapten pesawat Bhavje Suneja adalah warga negara India memiliki pengalaman terbang 6.000 jam. Dan kopilot Harvino dengan 5.000 jam terbang.

Hanya berselang 5 bulan, pesawat Boeing 737 Max-8 kembali mengalami kecelakaan. Kali ini dialami oleh Ethiopian Airlines. Flight ET-302 dalam penerbangan dari Bandara Bole Addis Ababa ke Bandara Jomo Kenyatta Nairobi Kenya, pada hari Minggu 10 Maret 2019. Pesawat jatuh diperbukitan Bishoftu hanya 6 menit setelah tinggal landas. Akibat kecelakaan itu, 149 penumpang dan 8 kru pesawat tewas.

Dan setelah investigasi, biang dari musibah itu adalah Maneuvering Characteristic Augmented System (MCAS). Oleh sebab input yang salah, MCAS bereaksi menurunkan hidung pesawat, membuat pesawat menukik mengurangi ketinggian. Pada ke dua kasus kecelakaan tersebut Captain dan Copilot tidak berdaya mengatasi MCAS yang bekerja di luar kendalinya. Sungguh mengerikan! MCAS seakan “pilot ketiga” yang mengendalikan pesawat, dalam kedua musibah penerbangan itu.

Dua musibah itu menelan korban 346 orang. Tentu saja dunia penerbangan heboh dan mengundang reaksi keras dunia penerbangan internasional.

Musibah itu membuat pesawat B-737 MAX 8 dilarang terbang di seluruh dunia. Ini membuat Boeing pusing tujuh keliling. Pelarangan terbang itu mengacam reputasinya sebagai pabrikan pesawat yang handal, juga berpengaruh kepada kinerja finansialnya. Bagaimana tidak, jumah pesanan pesawat B737 MAX sampai dengan akhir Januari 2019, sebanyak 4.661 unit, dengan harga US$ 117,1 juta atau Rp 1,67 triliun per unit.

Itulah mengapa setelah lebih dari 8 bulan dilarang terbang, Boeing mulai membuat manuver dan berencana untuk menerbangkan kembali pesawat B-737 Max. Boeing minta ijin FAA agar sambil menunggu approval, Boeing akan menyerahkan pesanan pesawat yang sudah dipesan. Tetapi tampaknya FAA tidak bergeming. Rasanya Boeing butuh waktu panjang, untuk meyakinkan banyak fihak sebelum menerbangkan kembali pesawat B-737 Max ini. Padahal targetnya itu akan dilakukan Januari tahun depan.

KNKT mengeluarkan laporan akhir tetang musibah B-737 Max 8 setebal 322 halaman, dan menyimpulkan sebab kecelakaan dalam 9 butir penting. Kemudian Greg Feith mantan investigator NTSB mengkritisi KNKT yang menurut dia tidak fair dalam menilai kualitas pilot dan juga maintenance maskapai Lion Air. Geoffrey Thomas dalam www.airlineratings.com, mengatakan :

 Feith questions the NTSC’s silence regarding “the oversight by the Indonesian DGCA and the accountability of Lion Air, especially after the airline had several serious incidents and accidents in the past 6 years”.

Selain itu juga laporan panjang lebar dari Hannah Beech dan Muktita Suhartono di The New York Times edisi 24 Nov 2019 membahas Lion Air, dengan nada miring. Tanpa bermaksud memihak, sebaiknya otoritas penerbangan kita mendengarkan masukan yang tajam tetapi penting dari kedua wartawan New York Times itu. Demi keselamatan penerbangan, masih banyak hal yang harus diperbaiki.

Tiket Pesawat

Topik berikutnya adalah mengenai tarif tiket pesawat. Pada awal tahun tiba-tiba saja harga tiket pesawat naik. Sudah tentu ini mengganggu sebagian besar pengguna jasa penerbangan, terutama penerbangan dengan tiket murah, atau Low Cost Carrier (LCC).

Biaya pengoperasian pesawat atau Total Operating Cost (TOC) dihitung dengan rumus sebagai berikut :

TOC = A+C+M+I+Fuel+Airport Charges

Dimana :
A=Pesawat C=Cockpit & Cabin Crew, M=Maintenance, I=Insurance,
Fuel = Avtur/Avgas Airport Charges=Biaya Jelajah, Biaya Pendaratan, Biaya Parkir Pesawat

Dari 6 faktor yang memengaruhi biaya total pengoperasian pesawat, rasanya tidak ada yang dapat diturunkan secara signifikan, sehingga memang sulit jika ingin menurunkan biaya. Kecuali jika komponen-komponen yang membentuk harga itu juga diturunkan. Dan itu tidak mudah kan?

Oleh karenanya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berusaha mengendalikan harga tiket dengan menentukan Tarif Batas Atas (TBS) dan Tarif Batas Bawah (TBB). TBA untuk melindungi penumpang, sedangkan TBB untuk melindungi airline. Meskipun demikian tampaknya airline tetap kesulitan untuk mengendalikan komponen-komponen dari tarif, sehingga tidak terhindarkan lagi harga tiket pun naik cukup tajam. Jika arline dipaksa memberikan harga murah, dikhawatirkan akan mengorbankan faktor keselamatan. Ini benar-benar harus dijaga, agar jangan sampai terjadi!

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio pada saaat menjadi panelis dalam sebuah diskusi pada Rapat Umum Anggota INACA di Hotel Borobudur yang lalu, mengatakan bahwa era tiket murah sudah berakhir. It’s over!

Dan ini akan mengubah tagline menjadi : Now not everybody can fly. Sekarang tidak semua orang bisa terbang, karena tiket pesawat mahal.

Bandara Baru

Pembangunan bandara baru sedang marak terjadi, untuk menyebut beberapa diantaranya adalah Bandara Inernasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Bandara APT Pranoto-Samarinda, Bandara Raja Sisimangaraja XII -Silangit, Bandara baru di Kulonprogo Yogyakarta Internasional Airport.

Sebuah bandara baru akan mampu berkembang jika diwilayah sekitarnya ada salah satu dari 3 hal yaitu : Trade, Tourism & Investment (TTI). Jika tidak ada salah satu dari ketiga hal tersebut, maka bandara akan idle tidak maksimal.

Memang ada adagium : The trade follow the ship, or the ship follow the trade. Jika kegiatan perekonomian ada diwilayahnya, maka bandara akan berkembang. Dan sebaliknya kegiatan perekonomian akan berkembang jika ada sebuah bandara di wilayah itu.

Beranjak dari hal tersebut, menjadi menarik ketika mengamati fenomena yang dialami oleh BIJB-Kertajati. Setelah selesai dibangun. Bandara yang memiliki lahan yang luas ini sampai sekarang belum juga dimanfaatkan dengan baik. Dari sisi pembangunan BIJB sukses. Memiliki landasan pacu yang panjang untuk penerbangan jarak jauh, fasilitas yang memadai, juga lahan luas untuk pengembangan bandara dan airport city.

Tetapi apa yang terjadi? BIJB gamang menanti penumpang yang tidak kunjung datang. Beberapa airline terbang sebagai pionir. Salut dan sekaligus prihatin atas pengorbanan airline, yang memaksakan terbang dengan kursi yang hanya terisi beberapa saja.

Pemerintah juga sudah membantu sepenuhnya untuk menciptakan demand bagi BIJB, dengan memberi fasilitas transportasi darat dengan bus DAMRI gratis. Dan menyelesaikan Tol Cisumdau, mengalihkan penerbangan jet ke BIJB dari Bandara Husein Sastranegara. Sayangnya itu semua belum menunjukkan hasil yang baik. Malah ada tuntutan masyarakat agar penerbangan dikembalikan ke Bandara Husein Sasranegara. Dan memang akhirnya beberapa penerbangan beralih kembali ke Husein Sastranegara. Because demand is still there, not in BIJB.

Mudah-mudahan fenomena ini tidak terjadi juga pada Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kulonprogo. YIA sekarang melayani rata-rata 10 flight per hari, sementara Bandara Adisutjipto melayani sekitar 75 flight per hari.

YIA akan terus berbenah diri termasuk mengatasi masalah transportasi antar moda dari dan ke Jogyakarta dan sekitarnya. Ini salah satu yang harus terus diperbanyak dan dipercepat waktunya. YIA bersiap-siap akan full operation pada tanggal 1 April 2020 yang akan datang. Sejak tanggal  itu, semua penerbangan dengan pesawat jet akan beralih ke YIA, yang tinggal di Adisutjipto adalah pesawat berbaling-baling.

Sementara itu Bandara APT Pranoto di Samarinda perlahan mulai mengambil alih sebagian porsinya Bandara SAMS Sepinggan di Balikpapan. Terjadi shifting demand, sesuatu yang bagus bagi pemerataaan wilayah, hanya saja itu adalah “ancaman” bagi Sepinggan yang penumpangnya sebagian mulai beralih ke APT Pranoto.

Yang terbaru adalah Bandara Kediri. Tahun depan direncanakan akan mulai dibangun dengan luas lahan 400 HA. FS-nya sedang diajukan untuk mendapat approval. Semoga semua aspek dievaluasi dengan baik. Bandara Kediri sangat berdekatan dengan Lanuma Iswahyudi. Ini sudah pasti membatasi manouver pesawat yang terbang dari dan ke situ.

Akhirnya, sebenarnya banyak masalah lain yang penting untuk dievaluasi, tetapi agar lebih fokus biarlah ke tiga hal tadi menjadi fokus perhatian dunia penerbangan kita. Masih banyak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Ini sebuah proses untuk menjadi the best.

Walaupun ada yang berkata : if better is still possible, best is not enough.

Kemayoran, 27 Nov 2019
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *