Menikmati Dunia dan Mempersiapkan Akhirat

Namanya Leksmono Santoso, kami biasa memanggilnya Mon. Di lingkungan bisnisnya dikenal sebagai Leks Santoso. Dia lahir di Malang, putra pamanku yang ke dua dari empat bersaudara. Isterinya bule dari Amerika, namanya Linda Hahn. Mon semula bekerja sebagai Tour Leader.

Pada tahun 1990 Mon mendirikan perusahaan tour sendiri, yang  diberi nama Remote Destinations Indonesia (Redestin Tours). Perusahaannya bergerak di bidang tour yang bersifat adventur di daerah-daerah destinasi terpencil di bagian timur  Indonesia. Selain itu juga destinasi di dunia. Di Asia Tenggara : Myanmar, Vietnam, Kamboja, Afrika Timur dan Tengah, Eropa Timur dan Tengah, China, Mongolia, Russia, Bhutan, Antartica, Arctic, India, Nepal, Amerika Latin, Asia Timur, termasuk Iran dan Kyrgysztan, Israel, Cuba, Yunani, Georgia, Mesir dan Jordania.

Selain sebagai pemilik, Mon juga seringkali menjadi Tour Leader dan memimpin perjalanan tour itu sendiri. Hampir seluruh pelosok Indonesia dan dunia sudah pernah dia jelajahi. Dia bahkan sudah sampai ke Antartica di Kutub Selatan dan memotret beruang es di Kutub Utara. Luar biasaa …

Mon dan Linda tidak punya anak. Yang aku salut, Mon berhasil membawa Linda masuk Islam, bahkan mereka sudah menunaikan ibadah Haji berdua. Mon selalu serius dan profesional dalam bekerja. Juga dalam mengembangkan Islam. Dia memiliki beberapa pesantren. Di Madura kalau tidak salah ada 2 pesantren dan di Pemalang, bekas rumah neneknya diubah menjadi pesantren. Sudah puluhan santrinya hafal Al Qur’an, Hafiz Qur’an. Dia sudah seperti anak dengan Habib Lutfi Pekalongan, beliau menjadi pembina dan pelindung pesantren-pesantrennya.

Mon berambut panjang. Memakai banyak asesori di pergelangan tangan dan dilehernya menggantung kalung-kalung antik dari segala penjuru dunia. Dia menulis buku, juga bermain musik dan menciptakan lagu. Mon sempat membagikan buku dan CD musiknya kepadaku.

Rumahnya di Lebak Bulus bertingkat tiga, dibuat dan diatur seperti sebuah museum. Hampir seluruh barang dari negara-negara yang disebut diatas ada di dalam rumah tersebut. Oh ya ada puluhan keris, bukan keris sembarangan yang menjadi koleksinya. Suatu saat dia mendemonstrasikan bagaimana dia mendirikan keris dengan ujungnya di bawah. Ternyata dia bisa! Hebaatt …

Jadi apa yang ingin aku sampaikan? Mon adalah personifikasi orang yang serba bisa dan diberkahi Allah Swt. Fidunnya wal akhirah. Hidup tampaknya mudah, uang tidak masalah dan bisa berkeliling dunia setiap saat. Memiliki pesantren. Puluhan santri-santrinya adalah penghafal Al-Qur’an, Hafiz Qur’an. Dia memberikan sarana dan fasilitas, sehingga anak-anak itu mampu menghafal Al-Qur’an. Semua rasanya dimudahkan Allah bagi dia.Dia menjalankan dunia dan akhiratnya begitu seimbang, dinamis dan harmonis. Kalau sedang bercerita tentang keberhasilannya, dia menceritakan pengalamannya yang bagi orang lain itu sesuatu yang luar biasa, dengan biasa-biasa saja, tidak pernah arogan dalam menunjukkan kehebatanannya.

Rasanya banyak yang diambil hikmah dari seorang Leksmono Santoso. Sukses di dunia dan mempersiapkan akhiratnya dengan serius. Semoga Mon tetap sehat, semangat dan berkah atas doa dari para santrinya di Madura dan Pemalang sana. Amin YRA …

KMO, 29 Nov 2019
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *