INACA Annual General Meeting 2019

Diundang Sekjen INACA Pak Tengku Burhanuddin, saya hadir di Rapat  Umum Anggota INACA di Hotel Borobudur, tanggal 31 Okt 2019. Jadi semacam reuni bertemu teman-2 lama. Heboh ngobrol sana-sini.

Dapat Goody Bag isinya lengkap. Dan yang penting ada Buku “Menjelang Setengah Abad Industri Penerbangan Indonesia INACA Berkiprah” penulisnya Arifin Hutabarat. Di sampul luar belakang ada catatan dari  Chappy Hakim, Alvin Lie dan Agus Pambagio.

Jam 08.30 acara dimulai dengan sambutan dari Ketua INACA, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra. setelah beliau, kemudian Menteri Perhubungan memberikan sambutan. Intinya beliau mengatakan INACA yang “high profile”, mesti juga “high performance”.

Kinerja transportasi udara dinilai dari On Time Performance (OTP). Dan itu adalah hasil kolaborasi dari berbagai fihak : Airline, Airport, Airnav dan fihak terkait lainnya.

Presiden Jokowi minta agar menjaga konektivitas. Memberikan pelayanan dari titik ke titik ke seluruh penjuru Indonesia. Itu adalah salah satu cara menjaga NKRI. Konektivitas juga menjadi daya saing industri pariwisata, yang memberikan devisa nomor dua. Dan melalui konektivitas yang baik, kita akan mendorong menjadi nomor satu.

ini akan menjadi pendorong rencana pemerintah membentuk 5 destinasi wisata “Bali Baru” yaitu : Danau Toba, Bangka-Belitung, Borobudur, Mandalika-Lombok, Labuan Bajo dan Bunaken-Manado.

Itu adalah tugas kita. Sekaligus juga amanah. Sebab tidak semua titik itu menghasilkan, adakalanya justru merugi. Disitulah wujud amanah kita semua.

Kita akan terus berusaha agar yang kita kerjakan, bukan hanya “sent”  tetapi “delivered”. Dan itu butuh kerja keras, komitmen dan konsistensi.

Begitulah garis besar arahan Menteri Perhubungan.

Sesudah itu giliran James Gwee, pembicara, trainer dan motivator. Audiens terbawa gayanya berinteraksi. Bicara cepat, meledak-ledak dan penuh gesture. Semua mata terpaku ke panggung. Pokoknya heboh banget!

James Gwee diminta bicara mengenai Komunikasi. Dan dia mengawalinya menjelaskan hubungan antara WHAT-HOW-WHY.  Kata dia, kita cenderung terlalu banyak menjelaskan mengenai “WHAT”, tetapi seringkali “WHY” nya tidak begitu jelas!

Kebanyakan yang mengerti tentang “WHY” hanya para boss. Dan para boss itu lupa atau kurang  clear menjelaskan “WHY” nya kepada tim-nya. Dan lebih banyak menyuruh melakukan WHAT-nya. Ini membuat target dan goalnya tidak tercapai. Oo … begitu to? Dengan gaya dan retorikanya, 50 menit terasa cepat sekali lewat.

Berikutnya presentasi dari para sponsor : Airbus, Boeing, Embraer, Sabre dan SITA.

Kemudian Diskusi panel dipandu Imam Priyono TVRI. Panelisnya Agus Pambagio, Ali Akbar Ngabalin dan Prof. Effendi Gazali. Secara ringkas Agus Pambagio mengatakan era Tarif Murah is over! Nggak ada lagi. Sebab semua komponen barang harganya sudah naik. Sehingga tarif kembali menjadi “normal” lagi. Jadi ini mengubah tagline? “Now not everybody can fly” … waduuuhhh …

Ali Akbar Ngabalin mengatakan agar tidak ada “ruang kosong” yang tidak terjamah penjelasan. Yang tidak jelas, harus diberi jawaban dan penjelasan. Jika tidak, maka akan ada salah pengertian yang berkepanjangan.

Prof. Effendi Gazali mengatakan, “Akhirnya : Public Communication”. Selama ini terkesan public ditinggal! Para boss kalau sedang menjelaskan, cobalah bertukar tempat sehingga dapat merasakan sebagai public.

Akhirnya pada sore harinya Pengurus Baru INACA periode 2019-2022 terbentuk sbb  :

Ketua Umum  :  Denon Prawiraatmaja Whitesky Aviation.
Sekretaris Jenderal  :  Bayu Sutanto PT TransNusa.
Ketua Penerbangan Berjadwal  :  Wuri Septiawan AirAsia.
Ketua Penerbangan Tidak Berjadwal  : Arif Wibowo AirFast.
Ketua Penerbangan Kargo  :  Muhammad Ridwan My Indo Airlines.

Terimakasih kepada Pak Tengku Burhanuddin mantan Sekjen INACA atas undangannya. Semoga setelah di luar ring tetap sehat, semangat dan bermanfaat.

Bravo INACA …

KMO : Kamis Wage 31 Okt 2019
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *