Buku “Freeport : Catatan Pribadi Chappy Hakim”

Senin tanggal 28 Oktober 2019 bertempat di Perpustakaan Nasional Jalan Merdeka Selatan, Chappy Hakim kembali meluncurkan bukunya dengan judul “Freeport Catatan Pribadi Chappy Hakim”. Acara dipandu oleh putri sulungnya sendiri Tasya Liudmilla. Di layar backdrop yang lebar, tertulis nama para pembahas : Gayus Lumbuun, Ninok Leksono dan Jaya Suprana.

Sebelum acara dimulai, Chappy Hakim dan kelompok musik-nya memainkan dan menyanyikan beberapa lagu. Beberapa undangan datang terlambat, ternyata belakangan baru tahu ada demo di sekitar Patung Tani.

Buku Freeport ini merupakan catatan pribadi yang menuangkan pengalaman Chappy Hakim selama lebih dari 2 tahun bertugas sebagai Senior Advisor dan Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia. Juga sekaligus sebagai jawaban penulis atas munculnya banyak pertanyaan mengenai kesediaannya menjadi Presdir PT. Freeport Indonesia, padahal sudah 10 tahun pensiun sebagai KSAU.

Hadir sebagai pembahas pada acara tersebut Prof. DR. Gayus Lumbuun, SH, MH mantan Hakim Agung MA, DR. Ninok Leksono wartawan senior Kompas sekaligus Rektor Universitas Multimedia Nusantara. Dan di deretan undangan tampak beberapa tokoh Indonesia, DR. Hendro Priyono dan Kwik Kian Gie.

Chappy Hakim membuka acara setelah selesai menyanyi dan melepaskan topi koboinya. Secara singkat mengatakan bahwa catatan-catatan dalam buku itu sama sekali dan tidak bermaksud membuka kembali persoalan-persoalan yang pernah dihadapi dalam proses perpanjangan kontrak PT. Freeport Indonesia. Tulisan dalam buku itu diharapkan dapat memberikan data dan fakta berdasarkan pengalaman, yang mungkin saja dapat berguna sebagai masukan dalam upaya Indonesia untuk meningkatkan citra “ramah investor”; bagi kemakmuran Indonesia.

Selanjutnya giliran pembahas berbicara. Yang pertama adalah Prof. DR. Gayus Lumbuun, SH, MH. Beliau tampak sangat siap sehingga menampilkan materi ulasan dan pembahasannya tertulis rinci, rapi dan ditampilkan pada layar lebar di belakang panggung.

Secara garis besar beliau mengulas dari dua sisi yaitu non substantif dan subtantif. Yang Non Substantif, dijelaskan ada pesan-pesan moral kepemimpinan dan kehidupan pribadi penulis. Pertama : mitos, dongeng, gossip, khayalan, takhayul. Ke dua, penonton selalu merasa lebih pintar dari pemain. Banyak bicara tidak tepat karena ketidak-tahuan terhadap suatu subyek. Ke tiga, jauh lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan sendiri. Ke empat : jika berhadapan dengan masalah, teliti dahulu apa dan seberapa besar andilku sendiri sehingga masalah itu timbul, baru berupaya mencari solusi. Bila mencari kesalahan orang lain dulu, akan mempersulit diri sendiri dalam memperoleh solusi terbaik.

Ke lima, kendalikan dirimu sendiri, sebelum mencoba mengendalikan orang lain. Dan yang ke enam, orang selalu sibuk dengan urusan-urusan orang lain, sehingga apa yang menjadi urusannya sendiri justru terabaikan. Fokuslah pada persoalan utama. Buanglah isu-isu yang tidak terkait pada pokok masalah, yang justru menambah ruwet persoalan.

Selanjutnya Prof. DR.Gayus Lumbuun mengatakan secara substansi, buku ini mencoba mengungkapkan the truth mengenai PT. Freeport Indonesia. Ini menunjukkan komitmen penulis walaupun sudah tidak menjabat masih berusaha menjelaskan mengenai PT. Freeport Indonesia yang disebut sebagai number one public enemy. Ini menunjukkan integritas dari penulis.

Adapun beberapa hal yang bersifat substantif dari buku tersebut adalah : Pertama, tentang kepastian hukum dalam berinvestasi. Negara yang tidak menjamin kepastian hukum akan ditinggalkan investor. Jika sunber daya alam adalah hardware, maka peraturan dan SDM adalah software-nya.

Ke dua, pentingnya edukasi masyarakat. Pengetahuan dan informasi yang tidak berimbang mengenai sesuatu dapat melahirkan persoalan besar. Berita yang keliru mengenai PT. Freeport Indonesia akan membuat keberadaan PT. Freeport Indonesia mendapat predikat negatif.

Dan yang ke tiga : pentingnya koordinasi, konsistensi dan komitmen. Terutama antar kementerian yang terlibat pada proses negosiasi.

Beberapa saran dan masukan untuk memperbaiki buku ini adalah, dirasakan perlu ditambah penjelasan kepada publik mengenai alasan dan pertimbangan saham-saham internasional. Dan juga data lain yang lebih rinci mengenai kontribusi PT. Freeport Indonesia terhadap APBN, disamping beberapa bentuk pembangunan infrastruktur, masyarakat, pendidikan dan CSR dari PT. Freeport Indonesia.

Prof. DR Gayus Lumbuun menutup ulasannya dengan mengatakan bahwa menulis buku bukan suatu pekerjaaan yang mudah. Itu merupakan suatu kerja intelektual yang membutuhkan ketekunan, ketelitian dan waktu yang tidak sedikit. Meskipun begitu hasilnya akan sangat berguna untuk memberikan pencerahan kepada orang lain.

Pembahas berikutnya adalah DR. Ninok Leksono Rektor Universitas Multimedia Nusantara dan wartawan senior Kompas. Beliau mengatakan belum membaca bukunya, hanya dikirimi soft copy-nya dan belum membaca semuanya. Kemudian beliau mengulas buku Freeport dan membahasnya dari 3 sisi : pertambangan, lesson learned dan penulis.

Dari sisi pertambangan, image yang terbentuk bahwa Freeport Indonesia hanya mengambil hasil tambang, kemudian meninggalkan limbah yang merusak lingkungan.

Padahal semua proses tambang ya mesti begitu, selalu ada limbah. Hanya saja semestinya limbah ini sudah dikelola sehingga tidak lagi membahayakan lingkungan. Disinilah yang dirasakan masyarakat merugikan. Dan ini menimbulkan asumsi bahwa yang diberikan kembali kepada masyarakat, tidak sebanding dengan yang sudah diambil. Selain itu juga menimbulkan kesenjangan kesejahteraan, antara pengelola dan penduduk setempat.

Dari sisi lesson learned bagaimana seyogyanya mengelola PT. Freeport Indonesia? Bagaimana mengelola tambang tembaga terbesar ini, dengan berbagai macam logam ikutannya? Sebab jika mau jujur sebenarnya kita tidak memiliki SDM dan teknologi yang mumpuni untuk mengelola tambang itu. Dan jika tidak ada PT. Freeport Indonesia, sebenarnya kita juga tidak mendapat apa-apa. Artinya kita belum mampu mengolahnya, sampai menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Oleh sebab itulah, pengelolaan tambang diserahkan kepada PT. Freeport Indonesia dan kita memperoleh bagi-hasil dari pengelolaan itu.

Pada situasi post truth dimana orang tidak percaya yang dikatakan orang lain dan lebih percaya kepada apa yang ingin mereka dengar. Ini menjadi hal yang sensitif. Dan sungguh tidak mudah memberi pengertian kepada mereka, tentang sesuatu yang tidak ingin mereka dengarkan.

Dari sisi penulis, harus diapresiasi sejak purna tugas dari KSAU, Chappy Hakim sudah menulis lebih dari 100 buku. Ini menunjukkan kemampuan literasi dan semangat menulis yang luar biasa. Dan ini dimungkinkan karena muncul dari knowledge base, dan akan menjadi bagian penting bagi learning nation.

Kemudian DR. Hendro Priyono memberikan ulasan bahwa Chappy Hakim memasuki PT. Freeport Indonesia pada saat situasi sedang pada kulminasi paling sulit. Beliau menggambarkan seperti kondisi tsunami. Banyak yang bertanya sebenarnya Chappy Hakim orangnya siapa? Dan berpihak kemana? Freeport atau pemerintah? Oleh sebab itu ketika kemudian Chappy Hakim menelepon dan memberitahu bahwa akan mengundurkan diri, DR. Hendro Priyono dapat mengerti dan memahaminya. Dan menurut beliau itu sebuah keputusan yang tepat.

Pembicara berikutnya adalah budayawan Jaya Suprana. Beliau datang terlambat karena ada demo di Patung Tani. Jaya Suprana mengawali ulasannya dengan mengatakan bahwa sebagai seorang Nasrani, Jesus mengajarkan agar “Jangan Menghakimi!” Kemudian ketika berdiskusi dengan Gus Dur Jaya Suprana belajar mengenai “tabayyun”, yaitu mengklarifikasi dan menganalisis masalah yang terjadi; agar mendapatkan kesimpulan yang bijak, arif dan tepat sesuai keadaan masyarakat.

Jaya Suprana sendiri semula berpendirian bahwa PT. Freeport Indonesia adalah jelek! Pokoknya yang paling jelek, diantara semua yang jelek. Prasangka inilah yang mendorong Jaya Suprana bertanya ketika Chappy Hakim ketika diminta menjadi Direktur Utama PT. Freeport Indonesia, dia akan memihak kemana? Pemerintah Indonesia atau Lembaga Asing pengelola Freeport Indonesia itu? Ulasan yang ada dalam Buku Freeport, telah menyadarkannya agar jangan sembarangan menyalahkan dan menghakimi. Tabayyun lah lebih dulu.

Lalu Jaya Suprana mengulas dari sisi lain. Menurutnya Chappy Hakim seorang Jenderal yang berhati lembut. Setiap Rabu malam menyanyi di Q-Lounge Hotel Sultan, bersama grupnya yang diberi nama Play Set, yang sebenarnya berasal dari kata Pleset. Dan ternyata kelompok musik itu mampu menyanyikan lagu ciptaan Jaya Suprana, lebih baik daripada penciptanya.

Ada joke yang dilontarkan, menanggapi peristiwa ketika DPR marah-marah (kepada Chappy Hakim). Menurut Gus Dur, DPR seperti kelompok anak TK. Jaya Suprana bilang: “Bukan TK Gus. Kalau menyamakan DPR sama dengan TK, berarti Gus Dur menghina TK!” Haa … Sama-sama lucu ternyata.

Kemudian Jaya Suprana mempertanyakan bagaimana setelah PT. Freeport Indonesia menjadi BUMN? Apakah kinerjanya bisa dipertahankan dan tidak ada korupsi? Terus mengapa Chappy Hakim mundur sebagai Direktur Utama PT. Freeport Indonesia?

Atas semua pernyataan dan pertanyaan, Chappy Hakim kemudian memberikan jawaban dan penjelasan. Yang pertama mengenai mundurnya dari Presdir PT. Freeport Indinesia. Beliau menjelaskan ketika terjadi dispute, masalahnya akan dibawa ke arbitrase internasional. Dan dari parameter yang ada, sudah pasti Indionesia akan kalah! Oleh sebab itu karena tidak mau nantinya dianggap sebagai pengkhianat bangsa, sebab ketika menjadi Presdir tidak mampu memperjuangkan dan Indonesia justru kalah. Jadi Chappy Hakim memilih mundur.

Kemudian Chappy Hakim memberikan gambaran dari sisi positif mengenai PT. Freeport Indonesia. Bagaimana PT. Frreport Indonesia menerapkan program CSR, membuat “malaria free-zone”, mengangkat putra daerah asli Papua sampai pada jabatan Vice President sebanyak 9 orang, membuat limbah yang berupa tailing dapat dibuat menjadi bata dan bahan bangunan, mendirikan Fakultas Pertambangan dan lain sebagainya. Jadi diluar profit-sharing, sebenarnya PT. Freeport Indonesia sudah banyak melakukan sesuatu bagi masyarakat sekelilingya.

Ketika menjawab bagaimana kinerja jika PT. Freeport Indonesia menjadi BUMN, Chappy Hakim meragukannya dengan menyebut contoh Merpati Nusantara dan Garuda Indonesia. Kita belum benar-benar siap dari sisi SDM dan teknologinya. Belum lagi masih ada mental korupsi yang sangat  mengkhawatirkan. Beliau menggambarkan ibarat menggali air tanah. Mengapa harus capai-capai menggali sendiri? Bukankah lebih mudah menyuruh orang menggali dan kita membayarnya?

Catatan dalam buku ini diharapkan dapat turut memberikan kontribusi kepada para pengambil kebijakan, tentang sisi-sisi mana yang masih memerlukan penyempurnaan agar Indonesia dapat tampil sebagai sebuah negara yang ramah investor, investor-friendly.

Chappy Hakim mengharapkan agar catatan pribadi dalam buku ini, dapat berpartisipasi dan berkontribusi dalam urun rembug menyempurnakan regulasi serta tata cara prosedur dalam menuju Indonesia yang ramah investor.

Regulasi yang jelas, tegas dan urusan dapat diselesaikan pada satu atap,  adalah harapan para investor. Keberadaan investor dapat diukur berdasarkan kontribusi, yaitu “sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Dan parameternya adalah dilihat dari seberapa besar penerimaan negara, yang diperoleh dari keberadaan investor tersebut.

Pada akhir statemennya ketika diminta moderator memberikan closing-note, Chappy Hakim menyitir Buku The Power of Now. Marilah kita lupakan yang sudah lewat dan jangan terlalu khawatir akan masa depan. Marilah berbuat sekarang, demi kesejahteraan bangsa dan negara.

Semoga …

KMO : Rabu, 30 Okt 2019
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *