Mewaspadai Zaman Cyber

Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas mengadakan FGD. Judulnya terasa sangat menjanjikan dan begitu luas perspektifnya : “Kolaborasi TNI, Polri, Pemerintah Sipil dan Elemen Masyarakat di segi interoperabilitas Operasi Penanggulangan Konflik Masif Dan Bencana Alam di Perkotaan”. FGD ini berlangsung Senin 7 Oktober 2019, bertempat di Soho D’Capital lantai 29. Dihadiri lebih dari  50 orang peserta, FGD berlangsung lancar dan banyak tanya-jawab yang mencerdaskan.

Prof. DR. Ir. Suhono Harso Supangkat sedikit datang terlambat dari Bandung. Beliau memulai acara FGD dengan memaparkan mengenai Smart  City. Ternyata terbang dengan Citilink begitu cepat, tetapi perjalanan darat dari bandara lebih lama dari waktu terbang. Ini juga adalah salah satu kasus dari Smart City.

Menurut beliau Smart City bukan kota yang dilengkapi dengan IT. Bukan! Smart City sebenarnya adalah terjemahan dari amanat para Pendiri Negara kita yaitu bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan itu adalah manifestasi dari masyarakat adil dan makmur.

Kebanyakan kota mengalami berbagai masalah, antara lain dalam hal jumlah penduduk yang semakin bertambah, sampah yang semakin menggunung, mobilitas, kesempatan kerja, masalah parkir, supply air bersih dan lain sebagainya. Untuk mengatasinya diperlukan pengelolaan professional dan pengembangan yang berkelanjutan.

Smart City didefinisikan sebagai sebuah kota yang dapat menggunakan sumber dayanya secara efektif dan efisien untuk memecahkan tantangan apa saja yang ada, dengan menggunakan cara yang inovatif, terpadu dan sustainable melalui pemberian fasilitas infrastruktur dan pelayanan mobilitas kota, untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dalam mengelola sumber daya, ada 3 pihak yang terlibat yaitu : smart people, smart government dan smart infrastructure. Selanjutnya antara smart people dan smart government membentuk Smart Environment. Dan antara smart government dan smart infrastructure terbentuk Smart Siociety. Lalu antara smart infrastructure dan smart people membentuk Smart Economy.

Tiga hal itulah yang akan menjadi tolok ukur Smart City yaitu : Smart Economy, Smart Environment dan Smart Society. Untuk sementara ini yang mendapat nilai tertinggi adalah Kota Surabaya. Bulan depan akan diadakan lagi penilaian Smart City ini, apakah kota-kota lain dapat mengungguli Surabaya? Kota-kota lain yang memiliki nilai tinggi adalah Bandung dan Tangerang Selatan.

Pembicara kedua Marsekal (Purn) Chappy Hakim Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI). Beliau memberi tekanan mengenai Indonesia yang terletak dalam jalur “ring of fire” yang sangat rawan bencana.

Dalam kasus bencana Tsunami Aceh di tahun di tahun 2004, gempa Jogyakarta tahun 2006 dan gempa tahun 2018 di Banten dan Palu terlihat penanganan penanggulangan bencana masih memerlukan penyempurnaan.

Penyempurnaan dalam hal ini tidak saja dalam hal mengantisipasi bencana, akan tetapi juga tindakan cepat tanggap pasca bencana yang memerlukan ketepatan dan kecepatan aksi.

Pada umumnya kita masih  dalam kultur “Land-base Thinking” yang sudah saatnya ditinjau kembali dan melengkapinya menuju konsep penggunaan dari “Air Power Capability”. Penggunaan sarana Satelit untuk monitoring antisipasi bencana sudah harus menjadi Standar Prosedur dari mekanisme kerja para pihak yang berkompeten. Pola penggunaan “airbridge” dalam pelaksanaan search and rescue sudah harus terpola dengan baik di tingkat strategis.

Demikian pula mengenai “aero medical evacuation”, dukungan administrasi dan logistik melalui udara dan angkutan peralatan penting penanggulangan bencana, seyogyanya sudah merupakan standar baku dalam pelaksanaan di lapangan.

Kesimpulan sementara yang harus menjadi catatan bersama adalah bahwa untuk mewujudkan Smart, Safe and Secure City yang membutuhkan kolaborasi TNI, POLRI, pemerintah sipil dan elemen masyarakat di aspek keselamatan, keamanan dan mitigasi bencana di perkotaan, akan sangat dibutuhkan peran penting dari “Air Power” yang melekat didalamnya.

Air Power dalam hal ini membutuhkan kerja yang sifatnya “total”. Juga sistem komando dan pengendalian tunggal serta institusi di tingkat pusat, yang dapat dengan efisien mengkoordinasikan (lintas sektoral) dengan baik, seluruh unsur dari potensi yang tersedia baik di dalam maupun di dan dari luar negeri.

Kemudian Brigjen Polisi Chryshnanda sebagai pembicara berikut menjelaskan peran polisi dalam proses pemolisian dalam era yang serba digital ini. Dikatakannya bahwa dampak modernisasi terhadap pelayanan kepolisian dilihat dari sisi teknologi dan informasi, begitu pesat membawa perubahan sosial.

Pelanggaran dan kejahatan baru yang menggunakan media informasi dan teknologi informasi semakin meningkat. Untuk mengantisipasinya Polri membangun pelayanan antara lain : Call and Command Centre, Polisiku, Whistle Blowing System, Clean And Clear (CNC), Samsat Online, SIM online, Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) dan National Traffic Management Centre (NTMC). Selain itu untuk menangkal proxy war dan hoax, Polri membangun juga big data dan one gate service dengan sistem back office, application dan network.

Revolusi Industri 4.0 memunculkan post truth ditandai dengan industry hoax, yang kita tahu bersama telah menimbulkan kerawanan sosial dan masalah keamanan. Untuk mengatasi hal itu selain yang sudah disebut diatas, Polri juga memiliki aparat yaitu cyber police. Adapun tugasnya  antara lain adalah :

  • Memonitor media dan mengumpulkan data isu yang ada di masyarakat.
  • Memonitor arus lalu lintas di lokasi yang berdampak terjadinya gangguan kamtibnas, kemacetan, kecelakaan dan upaya solusinya.
  • Komando kepada petugas lapangan untuk layanan cepat dan darurat.
  • Menyampaikan program traffic accident early warning
  • Menerima laporan masyarakat melalui call centre
  • Melakukan analisis data dari berbagai informasi
  • Melakukan counter issue hal-hal yang memberatkan insitusi/Negara.
  • Melakukan patroli cyber untuk pengawasan dan pengendalian media.

Pada akhir paparannya Brigjen Pol. Chryshnanda mengatakan Model Pemolisian di Era Digital ini meliputi 3 hal :

  1. Profesional : memiliki keahlian dan kompetensi
  2. Modern : membangun sistem dengan back office, aplikasi, network dan didukung sistem K3I (Komunikasi, Koordinasi, Komando Pengendalian dan Informasi)
  3. Terpercaya : dalam pelayanan publik tidak dilakukan dengan tindakan kontra-produktif, karena dapat menyebabkan orang tidak percaya.

Pembicara selanjutnya adalah Kol. Lek. DR. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, ST, MT, IPM. Beliau mempresentasikan mengenai “Peran C4ISR dalam kolaborasi Sipil-Militer pada waktu Operasi Menjaga Perdamaian di dalam wilayah bencana”

C4ISR adalah singkatan dari: Command and Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance. Penjelasan beliau sangat teknis. Beberapa hal yang penting adalah adanya masalah dalam dalam misi yang bersifat kolaboratif, diantaranya adalah :

  • Keputusan cepat untuk reaksi cepat.
  • Interoperabilitas, interkonektivitas, peralatan yang bermacam-macam.
  • Pemrosesan dan penyampaian informasi online yang real time
  • Pengumpulan data online dan real time.

Kolaborasi adalah kunci dari berbagai unit yang bekerja bersama untuk mencapati tujuan yang sama. Dalam paradigm 4IR, dapat digunakan teknologi Artificial Intelligence untuk mengerjakan tugas-tugas C4ISR. Selain itu juga dengan Sistem Multi-Agen.

Pembicara berikutnya adalah Ardi Sutedja Ketua Indonesia Cyber Security Forum. Beliau mengatakan perubahan jaman dan awal jaman desruptif sudah berjalan. Dan internet telah mengubah kehidupan kita.

Penggunaan teknologi seperti : social media, cloud computing, big data, IoT dan Artificial Intelligence (AI) untuk kepentingan konektivitas dan komunikasi masyarakat meningkat pesat.

Hal ini telah menimbulkan berbagai tantangan serta kebutuhan atas keamanan, kepatuhan, perlindungan data, dan regulasi yang lebih ketat, antara lain : transformasi digital, media sosial dan pemanfaatannya, fungsi ganda, keamanan siber, privasi & manajemen krisis.

Apakah Cyber itu? Cyberspace atau Ruang Siber merupakan sebuah ruang yang tidak dapat terlihat (virtual). Ruang ini tercipta ketika terjadi hubungan komunikasi elektronika yang dilakukan untuk menyebarkan suatu informasi, dimana jarak secara fisik tidak lagi menjadi halangan.

Setelah presentasi kemudian sesi Tanya-jawab. Sayang karena kesibukan beliau, Prof Suhono harus lebih dahulu meninggalkan ruangan.

Tanya-Jawab
Menjawab pertanyaan, Marsekal (Purn) Chappy Hakim mengatakan dapat memahami kekecewaan atas kondisi yang sekarang ini. Disadari atau tidak kemajuan teknologi, ternyata telah melebarkan jarak dengan pendidikan dan training system. Dibutuhkan strong leadership untuk mengelola kondisi tersebut.

Manajemen atau hightech management terasa tertinggal dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Contoh yang nyata adalah masalah Boeing B-737 Max dengan teknologi canggih dan mutakhir itu, ternyata pilot dan engineer-nya tertinggal. Mereka menjadi gagap dan tidak mampu mengendalikan pesawat secara manual, ketika terjadi malfunction dari teknologi yang canggih yang dipasang di pesawat itu.

Ini menunjukkan telah terjadi otomation addiction yang menyebabkan lack of knowledge. Perlu dilakukan mitigasi dan melakukan update konsep dan metode pelatihan. Agar mereka terbiasa dengan reference dan aturan-aturan yang tertulis pada manual book.

Di lapangan terasa penerapan peraturan dan hukum dibelakangkan. Contoh pemasangan airbag. Pembeli mobil baru lebih memilih tidak dipasang airbag, karena itu dapat menghemat biaya sampai dengan Rp. 20 jutaan. Padahal kalau di luar negeri ini termasuk tindakan kriminal. Pelanggaran-pelanggaran kecil itu dan banyak contoh lainnya di lapangan, telah membuat kita seperti well trained untuk melanggar aturan.

Dari berbagai kasus yang terjadi itu, sangat dihargai usaha polisi untuk memberlakukan peraturan secara rigid, contohnya dengan traffic camera. Suatu saat nanti yang mendisiplinkan kita adalah mesin dan orang luar. Sebab barangkali kita sudah imun dengan berbagai bentuk pelanggaran yang melawan hukum, yang sudah terbiasa dilakukan.

Oleh sebab itu untuk mengatasi ini semua dibutuhkan pemimpin yang kuat, yang mampu menerapkan peraturan secara tegas dan memberikan reward and punishment sesuai peraturan yang berlaku.

Selanjutnya Brigjen Chryshnanda menyatakan dari semua permasalahan yang muncul, seyogyanya dibuat modelnya, lalu dirancang solusinya. Solusi itu mesti dibuat dengan rinci, misalnya bagaimana cara-cara menghadapi bencana, dsbnya. Dan juga mesti di back-up IT. Penerapan IT ini memudahkan dalam membuat analisis. Selain itu juga sangat membantu jika harus dilakukan perbaikan-perbaikan.

Selain itu mesti disiapkan Grand Strategy. Peraturan-peraturan untuk memayungi dan SDM yang akan mengawaki dan menjalankannya. Model itu mesti yang dapat diimplementasikan, dengan pendekatan untuk mengatasi masalah.

Hanya saja semua itu tergantung kepada political will. Sebab tanpa itu menjadi akan sia-sia belaka. Tanpa political will tidak akan ada enforcement, komitmen dan konsistensi, untuk melakukan semua rancangan yang sudah dibuat dengan rinci dan canggih tadi.

Kemudian giliran DR. Arwin Datumaya. Beliau mengatakan perlu mewaspadai kondisi yang memprihatinkan ini. Dan menekankan bahwa semua bermuara kepada karakter bangsa. Lalu dia menyitir motto Kementerian Pendidikan : Tut Wuri Handayani. Semestinya Kementerian pendidikan bukan hanya berada bekakang dan mendukung dari belakang. Juga sangat diperlukan untuk berada di depan dan memberi contoh : Ing Ngarso Sung Tulodho. Juga ketika harus berada di tengah, bersama-sama bekerja : Ing Madya Mangun Karso.

Setuju dengan Pak Chappy Hakim, negara ini membutuhkan pemimpin yang kuat dan yang mampu memberi contoh yang baik. Yang kita lihat melalui media social, para pemimpin yang diatas sana saling berantem sendiri. Otomatis yang dibawah jadi ikut-ikutan. Ibarat sebuah bandul, gerakan sedikit yang diatas, akibatnya di level bawah akan bergoyang sangat kencang. Apalagi kondisi ini didukung dengan jaringan sosial media yang canggih. Dalam sekejap semua berita buruk menyebar. Memang ada berita yang benar, tetapi lebih banyak yang hoax dan menyesatkan.

Dan itu sangat mempengaruhi sikap masyarakat. Berita-berita buruk lebih mudah dan lebih banyak tersebar daripada berita-berita yang bagus-bagus. Masyarakat menjadi terpolarisasi, dan ini menimbulkan tindakan destruktif dan anarkhis.

Untuk mencegah hal tersebut dibutuhkan konsistensi penerapan aturan-aturan. Selain itu mesti ada usaha yang masif untuk melawan hoax. Ini dapat diterapkan dalam bentuk pembuatan contigency plan, yang diperbaharui setiap tahun dengan menyesuaikan kondisi.

Kemudian Ardi Sutedja menambahkan bahwa kita cenderung tidak belajar dari pengalaman. Dia mencontohkan ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, dan pada hari ke dua, dia sudah berada disana. Yang terasa sekali adalah koordinasi dalam penanggulangan bencana sangat parah. Tidak tampak adanya state of readiness.

Dalam komdisi darurat, ketika berkaitan dengan nyawa orang, seyogyanya segala macam  peraturan dan  birokrasi dapat diabaikan lebih dulu. Di lapangan ternyata tidak mudah. Ketika berbagai institusi berusaha memberikan bantuan, koordinasinya tidak berjaln dengan mulus.

Seanjutnya beliau menyinggung, banyak berita buruk menjadi tajuk. Sekarang demgan kecanggihan teknologi orang dengan mudah memberitakan apa yang terjadi di lapangan dengan segera, cepat dan instant. Sulit mencari sumber berita resmi, karena berita bisa datang darimana saja dan dari siapa saja.

Begitu banyak blog-blog yang sebenarnya merupakan opini penulisnya, tetapi kemudian diambil sebagai bahan berita. Dan isinya sangat bisa mempengaruhi masyarakat. Jadi kita memang harus berhati-hati dalam mengambil dan menyikapinya.

Setelah makan siang ada beberapa pembicara lagi antara lain: Agolo Suparto, MSc. dari Basarnas dan DR. Ir. Moch. Amin Soetomo, MSc. Sayang saya tidak dapat mengikuti paparan mereka.

Terimakasih kepada Panitia yang telah menghadirkan para pembicara yang handal dan memahami dengan benar mengenai masalah yang sedang dihadapi di bidangnya, dan bagaimana solusinya.

Akhirnya, mudah-mudahan beberapa pemikiran ini menjadi masukan berharga, sebelum nanti diformulasikan menjadi sesuatu yang konkrit dan dapat diterapkan di lapangan.

Semoga …

KMO, Selasa 8 Okt 2019.
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *