Ibukota dan Pertahanan Udara

Presiden RI sudah mengumumkan secara resmi, ibukota negara akan dipindahkan dari Jakarta. Lokasi yang dipilih adalah Kabupaten Paser Utara da Kutai Kertanegara Propinsi Kalimantan Timur. Pasti ini bukan sesuatu yan mudah. Banyak sekali hal yang harus dianalisis, difikirkan, dipertimbangka diputuskan dan diwujud-nyatakan. Ini akan melibatkan semua fihak dan mempengaruhi ekonomi sosial, budaya, politik dan sebagainya

Salah satunya yang tidak kalah pentingnya adalah dari sisi pertahanan dan keamanan. Sebuah Pangkalan Udara Utama (Lanuma) pasti dibutuhkan untuk menjalankan fungsi keamanan tersebut. Apakah suatu Lanuma akan “dipindahkan” atau paling tidak fungsinya “dialihkan”, ke bandara lain yang lebih dekat ke ibukota

Sekedar pembanding saja, Jakarta mempunyai Halim Perdanakusumah. Bandara ini sebenarnya adalah Lanuma, hanya saja karena kesibukan lalu lintas udara di Bandara Soekarno-Hatta, maka Halim juga digunakan sebagai bandara sipil. Mengambil analogi dengan Jakarta, maka Ibukota baru seyogyanya juga memiliki Pangkalan Udara Utama yng berfungsi seperti Halim Perdanakusunah.

Secara pengamatan sekilas bandara-bandara yang sudah ada di sekitar calon ibukota baru, tidak memadai untuk menjadi atau difungsikan sebagai Lanuma. Bandara Sepinggan, Bandara APT Pranoto-Samarinda, Bandara Tjilik Riwut-Palangkaraya dan Bandara Juata di Tarakan terbatas luasnya. Kendala lahan menjadi masalah untuk mengembangkan bandara-bandara it

Jadi? Apaboleh buat. Rasanya harus difikirkan alternatif untuk membangun Lanuma baru untuk menggantikan fungsi Lanuma “penjaga” ibukota semacam Halim Perdanakusumah. Dimana kira-kira lokasinya? Apakah Bandara Melak yang sudah ada sekarang, dapat menjadi alternatif? Atau justru membuat bandara yang sama sekali baru? Nah itu harus dilakukan survei lebih dahulu. Rasanya 5 tahun cukup waktu untuk melakukan survei yang cermat dan akurat, sebelum lokasi yang pasti nantinya ditentukan

Sebenarnya dengan perkembangan teknologi mutakhir di bidang persenjataan, memungkinkan sebuah Lanuma letaknya tidak harus berdekatan dengan lokasi ibukota negara. Semua kemampuan alutsista keudaraan dapat dikendalikan dari jauh. Dan itu tidak akan mengurangi efek pertahanan udara.

Ciri kekuatan udara adalah flexibility, coverage, destroys capability, speed & accuracy. Oleh sebab itu sebuah pangkalan udara utama yang menjadi basis air power tidak perlu berada di dekat ibukota. Yang penting wilayahnya masih terjangkau dalam radius of action pesawat tempur dan persenjataan udara.

Untuk mengantisipasinya selain kekuatan udara konvensional yang sudah ada, harus di back-up lagi dengan jenis alutsista yang canggih, yaitu rudal dan drone. Indonesia sebenanya sudah mampu membuat rudal sendiri. Jika diperlukan tinggal memproduksi rudal dari berbagai jenis, misalnya rudal udara ke udara, udara ke daratan, rudal udara ke permukaan, atau permukaan ke permukaan, rudal balistik dsbnya. Juga teknologi yang sedang trend dikembangkan adalah drone. Jika terjadi perang modern, maka fungsi drone sangat menentukan

Walaupun demikian rasanya keberadaan sebuah Air Force Base di dekat ibukota masih dibutuhkan. Air Force Base ini akan memiliki daya gentar atau deterrence yang diperlukan dalam penjagaan udara Indonesia. Dalam keamanan negara peranan Air Force Base sungguh sangat menentukan.

Sebagai alternatif barangkali Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan bakal cukup feasible untuk menjadi pilihan sebagai Airforce Base. Ini berarti Bandara SAMS Sepinggan mesti diperluas lagi dan runway-nya diperpanjang, agar mampu mengakomodasi dan melayani pesawat-pesawat berbadan lebar dan pesawat-pesawat militer.

Bandara SAMS Sepinggan sebenarnya tidak begitu luas, luasnya hanya sekitar 300 hektar. Tetapi lokasinya sangat strategis dan memiliki jarak jangkau dan radius coverage yang bagus, ke semua wilayah Indonesia. Perpanjangan runway ke dua ujung runway masih dimungkinkan. Hanya saja lahan pengembangan untuk fasilitas darat membutuhkan perluasan yang cukup masif.

Alternatif lainnya adah membangun Lanuma baru. Lokasinya mesti dipilih dengan cermat dan akurat. Selain itu, sudah pasti pembangunan Lanuma baru ini sudah pasti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Barangkali perlu dikemukakan ada issue bahwa Inggris akan membangun pangkalan udara di Brunei Darussalam. Itu menjadi alternatif jika Brexit jadi dilakukan da Inggris keluar dari Uni Eropa. Inggris ingin membangun hubungan lebih baik dengan Australia dan Selandia Baru. Konon Inggris akan menempatkan sekitar 3.500 pasukan di situ. Pangkalan udara ini dibangun. sebagai sarana untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Australia dan Selandia Baru

Dan pangkalan udara baru Inggris itu, jaraknya dari calon ibukota baru sangat dekat. Tentu saja segala macam kemungkinan bisa saja terjadi, bahkan yang terburuk sekali pun. Dan saya yakin sepenuhnya, hal ini pasti ini sudah menjadi kajian dan pertimbangan para petinggi di TNI-AU.

Akhirnya ini adalah wacana yang barangkali menjadi sekedar catatan, dalam rencana proses pemindahan ibukota negara.

KMO, 3 Okt 2019
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *