Ke Jambi Lagi

Minggu malam, 8 Sept 2019, saya turun dari pesawat Lion Air JT 608. Kemudian memasuki Terminal Kedatangan Bandara Sultan Thaha. Di dinding ada gambar-gambar gajah besar dan jerapah menghiasi dan menutupi seluruh dinding. Seakan mengucapkan selamat datang dan memberi kesan : back to the jungle. Maunya buat foto, tetapi nggak. Sayang!

Lho kok sayang? Iya. Sayang tidak ada tulisan yang memberi kesan bahwa anda sudah berada di Jambi. Kalau boleh saran, seyogyanya diberi tulisan besar : I am in Jambi atau Welcome to Jambi. Percayalah akan banyak penumpang yang baru datang, terutama yang baru pertama kalinya datang ke Jambi; yang akan ber-swafoto didepannya.

Dan itu adalah iklan bagus untuk Jambi dan juga Bandara Sultan Thaha. Sebab dalam sekejap foto itu pasti akan tersebar ke WAG, kemana-mana.

Alhamdulillah saya sempat mengunjungi Jambi lagi. Ini yang ke dua kalinya. Terimakasih kepada Pak Amiruddin, yang terlah ber baik hati mengundang saya untuk datang ke Jambi.

Dan esok harinya setelah acara pokok selesai, seperti biasa, acaranya city tour. Tadinya mau melihat agi ke Muaro Jambi, tetapi waktunya terlalu mepet. Jadi yang deket saja dah. Dan Bang Niswan Angkat mengantar kami berkeliling.

Pertama, melihat Jembatan Penyeberangan ke Jambi Seberang. Jembatan ini tergantung tinggi diatas Sungai Batanghari yang panjangnya lebih dari 800 km. Pada posisi jembatan itu, lebar Sungai Batanghari  kira-kira setengah km. Dan nama jembatan itu adalah Gentala Arasy.

Menurut Mbah Wikipedia Gentala terdiri dari 3 suku kata : GENTA (suara), TALA (keselarasan) dan ARASY (memancar ke langit). Di ujung jembatan ada  menara setinggi 80 M terletak di ujung seberang. Menara ini membunyikan lonceng yang selalu berbunyi, saat masuknya 5 waktu shalat fardhu umat muslim.

Jembatan ini khusus hanya untuk pejalan kaki. Panjangnya 550 meter dan Lebarnya 4,5 meter. Ada dua tiang pancang 60 M. Dua tiang pancang ini menggambarkan keseimbangan kehidupan : laki-laki dan perempuan. Jembatan ini meliuk membentuk huruf “S”. Konon itu melambangkan, rasa “syukur” kepada Allah.

Saya berjalan kaki ke seberangnya. Di sisi kanan ada tulisan besar ditepi sungai: Gentala Arasy. Tulisan di sebelah kirinya : Jambi Kota Seberang. Di ujung jembatan ada tangga turun kebawah. dan ada bangunan yang terkunci tampaknya seperti diorama atau barangkali perpustakaan.

Setelah mengambil beberapa foto kami meninggalkan Gentala Arasy.  Bang Angkat mengantar kami ke Masjid Al-Falah. Masjid Agung Al-Falah adalah masjid terbesar di Jambi. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang.

Disebut begitu barangkali saking banyaknya tiangnya, meskipun jumlah tiangnya jumlah tiangnya hanya 256 buah. Ratusan tiang masjid yang berbentuk langsing berada di bagian luar berwarna putih. Sedangkan puluhan tiang masjid yang di dalam bentuknya lebih besar, sebab diberi pelapis tembaga.

Al-Falah artinya kemenangan. Masjid ini dibangun tahun 1971 dan selesai tahun 1980. Bentuk bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat, dimaksudkan untuk memberi  konsep ramah. Kami berkeliling masjid dan Shalat Ashar di sini.  Alhamdulillah masih sempat shalat disini.

Meninggalkan Masjid Al-Falah, kami sempat mampir membeli oleh-oleh Pempek Salamat. sekaligus mencicipi pempek-nya. Kosepnya cukup cerdas. Di sebelah digunakan untuk menjual oleh-oleh khas Jambi berupa pempek dan makanan kering lainnya. Dan yang disebelahnya ada kantin kecil, yang menyediakan pempek.

Sambil menungu pesanan di pak, pembeli bisa menikmati pempek langsung. Memang enak sih. Menurut mereka yang suka makan pempek, ini benar-benar asli. Iya deh …

Penerbangan kembali ke Jakarta dengan Citilink jam 19.45. Sebelum menuju ke bandara, kami masih sempat mampir untuk mencicipi Es Buah Durian Poo Dak. Duriannya disuguhkan asli bukan di blender. Didalam mangkok yang cukup besar itu ada kacang merah, agar-agar, susu cair dan serpihan es. Diatasnya ditaruh es krim. Duriannya jadi terasa bener, asli. Wah sip tenan deh. Beneran! Coba deh!

Pesawat Citilink QG-967, boarding tepat waktu. Fully booked. Ini pesawat terakhir dari Jambi. Katanya penerbangan Garuda hari ini No-Ops. Pesawat Garuda dengan livery jaman dulu berwarna merah, diparkir di sebelah kanan pesawat kami. Dan jam 19.45 pesawat Citilink pun pushed back.

Sebentar kemudian mesin pesawat menderu, tarikan mesin itu terasa sedikit menyentak. Lalu roda pesawat menjejak landasan. Dan pesawat Citilink pun lahir ke udara, air borne!.

Selamat tinggal Jambi.
Mudah-mudahan ke sini lagi. Lain kali.

KMO, Rabu 11 Sept 2019
HL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *