Kalkulator

Sebuah kalkulator memudahkan suatu perhitungan. Tinggal menekan tombol angka-angka yang diinginkan lalu memilih prosesnya : kali, bagi, tambah, kurang,  akar dan perhitungan rumit lainnya. Kemudian tekan tombol enter. Dengan seketika muncul hasilnya di layar. Langsung, mudah, cepat dan akurat.

Mengapa bisa secepat se akurat itu? Sebab dibalik kalkulator itu ada program software dan sistem perhitungan canggih, yang membuat sebuah perhitungan dapat diselesaikan dengan seketika dan benar. Apa pun input yang diinginkan pengguna, apa pun input yang dimasukkan dengan menekan tombol angka-angka, hasilnya segera dapat ditampilkan seketika. Program software yang ada dibalik bentuk fisik kalkulator itu, bekerja begitu sangat cepat dan akurat.

Kehidupan manusia di alam semesta sebenarnya mirip dengan ilustrasi kalkulator diatas tadi. Allah Swt meng-install program yang super canggih dalam kalkukator kehidupan. Siapa saja, dimana saja dan kapan saja, dapat menggunakan kalkukator-nya masing-masing.

Program yang sudah di-install mengeksekusi semua input yang diketikkan pada tombol-tombol angka, kemudian menampilkan hasilnya pada layar kehidupan. Hanya saja banyak yang tidak atau kurang menyadari, bahwa di balik proses yang tampak sederhana itu, sesungguhnya menyimpan kecanggihan yang rumit luar biasa! Terus bagaimana prosesnya? Marilah kita mencoba memahaminya. Kira-kira alurnya begini.

Yang pertama, dimulai dari memasukkan input dengan cara menekan tombol angka-angka. Dalam kehidupan proses ini adalah ketika kita berdoa. Pada waktu manusia memohon sesuatu kepada Allah Swt. Proses awal ini mestilah dilakukan dengan serius, fokus, konsentrasi, tawadhu, merendahkan diri dan berserah diri dengan mengharapkan ridha-NYA.

Jika dilakukan sembarangan, kemungkinan besar doa yang dimaksudkan itu tidak terbaca oleh program software kalkulator hidup. Tentu saja doa yang model begini tidak mungkin dapat diproses. Tidak memenuhi syarat! Jadi ditolak. Rejected! Dengan analogi tersebut tahulah kita sekarang, mengapa doa tidak terkabul. Salah satunya karena prosesnya salah!

Yang kedua, manusia punya kalkulatornya sendiri-sendiri. Kalkulator kehidupan adalah jembatan antara permintaan dan ijabah Allah. Jadi sebaiknya kalkulator itu harus dijaga dan dipelihara baik-baik, agar dapat berfungsi dengan optimal. Baterai-nya mesti bagus, sehingga mekanisme operasinya terjaga.

Dalam kehidupan nyata, kalkulator itu adalah sikap dan perilaku manusia. Mereka yang menjalankan hidupnya sesuai dengan kaidah-kaidah dan perintah Allah, akan memiliki kalkukator yang baik. Kalkulatornya menjadi alat komunikasi yang sangat peka dengan Allah Swt. Apa saja yang diminta melalui doa-doanya, Insya Allah akan dikabulkan-NYA.

Yang ketiga, adalah program software yang di-install Allah Swt. Ini sudah pasti adalah rahasia Allah. Tidak ada yang bisa menerangkannnya dengan logika berfikir yang terbatas. Secara logika sederhana, semua masukan yang tidak memenuhi syarat dan diluar kaidah, akan tertolak dengan sendirinya! Salah input tidak akan ada output!

Allah Maha Menghitung dan Maha Kalkulasi. Dan tidak semua permintaan dan doa mesti dikabulkan. Ada hak prerogatif yang tidak dapat didebat atau dipertanyakan.

Kisah Nyata
Sebagai ilustrasi, saya ceritakan kembali kisah nyata mengenai kalkulator ini. Pada suatu hari rekan saya mantan Direktur Utama PT. Angkasa Pura II Bpk. Edie Haryoto, belanja bahan bangunan di Yogyakarta. Setelah sepakat membeli sesuatu barang, si penjual menyodorkan kalkulator menunjukkan jumlah yang harus dibayar.

Pak Edie yang merasa harganya terlalu tinggi, minta klarifikasi. Si penjual langsung mengangsurkan kalkulator yang sudah lusuh itu sambil berkata : “Nggih monggo pak, panjenengan etang malih menawi mboten pitados”. Pak Edie lalu memencet kalkulator untuk menghitung jumlahnya. Bolak-balik beliau menekan tombol, tetapi hasilnya tidak pernah muncul. Dengan kesal beliau menyerahkan kembali kalkulator itu : “Kalkulatormu rusak, ora biso dienggo ngitung pak!”

Si penjual yang sudah tua itu menerimanya. Dan sambil tersenyum dengan santai dia menekan kalkulatornya, lalu berkata : “Panjenengan kirang sabar pak, lha niki saged to? Saged ketingal angkanipun. Monggo!” .

Sebuah pelajaran berharga dari hal yang tampak sederhana. Bahwa cara menekan tombol kalkulator, dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Si penjual tua itu tahu cara mengoperasikan kalkulatornya yang sudah lusuh. Pak Edie Haryoto tidak. Dan hasilnya berbeda, diantara ke duanya.

Akhirnya mudah-mudahan metafora ini menginspirasi, bagaimana dalam  berdoa dan meminta sesuatu kepada Allah Swt. Disadari bahwa doa bukan hanya yang bersifat duniawi. Yang lebih penting justru yang bersifat ruhaniah dan bagaimana mencapai tujuan akhir. Inilah yang harus diperjuangkan dengan seksama dan sepenuh hati.

Mohon maaf jika salah.

KMO, Kamis Kliwon 8 Ags 2019
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *