Algoritma Ilahiah

Segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan Allah dengan target dan tujuan yang terencana, serta diatur dengan kalkukasi yang sangat canggih (QS.2:29). Ada suatu algoritma yang begitu canggih dan ruwet yang mengatur semuanya. Dengan algoritma itu seluruh alam semesta dan segala macam isinya berjalan dengan ritmis, teratur dan sistematis. Bahasa spiritualnya adalah sunatullah.

Manusia adalah mahluk yang berfikir dan menggunakan akalnya. Dengan logikanya manusia mencoba menyingkap misteri alam semesta yang diatur dengan algoritma Ilahiah yang luar biasa. Kemampuan akal-logika dan daya nalar manusia ternyata tidak pernah mampu menyingkap misteri Ilahiah tersebut.

Kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir dan kisah Nabi Musa dengan Malaikat Jibril yang diceritakan oleh Pak Gunawan As. adalah metafora dan sekaligus wujud nyata dari algoritma yang sangat luar biasa itu.

Apa sih algoritma itu? Dalam ilmu komputer dan matematika, algoritma adalah suatu urutan dari beberapa langkah logis dan sistematis yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tertentu. Algoritma digunakan untuk melakukan penghitungan, penalaran otomatis, dan mengolah data pada komputer dengan menggunakan software. Ada rangkaian dari beberapa intruksi untuk menghitung suatu fungsi yang jika dieksekusi dan diproses akan menghasilkan output. Lalu berhenti pada kondisi akhir yang sudah ditentukan.

Ruwet ya? Itu baru cara perhitungan manusia. Hanya sekedar ilustrasi untuk memahami saja. Manusia yang tampak canggih sebenarnya tidak ada apa-apanya. Cobalah membayangkan bagaimana Allah Swt melakukan algoritma-NYA untuk mengatur alam semesta. Mengatur kehidupan virus yang berukuran micro, sampai mengatur Galaxy, bintang-bintang yang tak terbilang jumlahnya.

Algoritma tidak selalu berkaitan dengan komputer dan matematika. Itu juga bisa menjelaskan bagaimana suatu proses dilakukan, misalnya ketika saya menulis ini. Urutannya kira-kira begini. Start. Ide bukan asli saya. Inspirasi bukan milik saya sepenuhnya. Ketika menulis, saya butuh bantuan alat dan software. Pada saat tulisan selesai, saya butuh bantuan aplikasi untuk mengirimkannya. Akhirnya tulisan itu sampai di HP anda dan anda membacanya. End.

Sederhana seperti itu? Tidak! Proses tulisan yang tampak sederhana itu ternyata melibatkan ratusan, malah mungkin ribuan orang. Lho kok bisa? Marilah kita cermati, langkah demi langkah.

Yang gampang saja, saya butuh alat untuk menulis. Sebuah iPad. Siapa yang membuat? Berapa orang yang terlibat dalam pembuatannya? Sebuah factory?Berapa biaya investasinya? Dimana? Bagaimana caranya untuk sampai kesana? Komponennya dibuat dimana? Bahan dasarnya apa? Bagaimana cara menambangnya? Oleh siapa? Dan seterusnya. Masih panjang daftarnya, jika mau menyebutkan yang berkontribusi sebelum iPad itu menjadi barang jadi. Itu baru satu faktor alat menulis. Lainnya?  Bisa lebih banyak lagi.

Itu rangkaian interdependensi yang saling memberi dan menerima. Memang sih, saya tidak perlu peduli itu semua. Yang penting saya bisa memakai iPad untuk menulis. So what? Itulah mengapa manusia menjadi kurang respek dan tidak dapat menghargai orang, jika tidak memahami urutan rangkaian proses diatas tadi.

SEBAB-AKIBAT
Ilustrasi diatas hanya sekedar untuk menggambarkan, betapa dalam hidup ini ada saling ketergantungan yang ruwet dan canggih. Ada sebab-akibat dan kausalitas yang berkelindan, yang melibatkan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang.

Oleh sebab itu marilah kita renungkan proses tersebut dengan cermat. Jika ada proses yang gagal, maka hasilnya tidak seperti yang semestinya. Lalu berlaku  hukum : jika-maka, if-then, dengan berbagai macam kemungkinannya. Diatas semuanya itu semua layaklah kita bersyukur, bahwa itu semua diatur dengan mudah oleh Algoritma Ilahiah atau Sunatullah. Allahu Akbar …

Lalu hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Musa itu? Semua orang tahu, Nabi Musa gagal memahami Nabi Khidir. Juga Nabi Musa gagal memahami mengapa Si Penunggang Kuda tega membunuh kakek buta yang lemah. Logika dan akal manusia tidak sampai memikirkan keputusan Allah.

Sesungguhnyalah tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Semua sudah berada dalam alur program Algoritma Ilahiah. Dan semuanya itu sudah tertulis dalam Lauh Mahfuzh.  Manusia saja yang tidak tahu, sebab itu adalah rahasia-NYA. Hanya orang-orang tertentu yang dibukakan hijab-NYA itu.

Ada sebuah contoh yang mudah. Acara TV Bedah Rumah. Bagi stasiun TV itu hanya untuk menaikkan rating. Bagi pemirsa, itu hiburan sekaligus menyentuh rasa kemanusiaan. Bagi sponsor, itu menjadi marketing agar dikenal konsumen.

Dibalik itu semua sesungguhnya ada doa si pemilik rumah (QS. 40:60). Kemudian Allah menyentuh hati nurani dan memberi inspirasi manajer stasiun TV. Cukup begitu. Lalu si manajer membuat acara Bedah Rumah. Berikutnya semua diatur manajer TV. Dan doa si pemilik rumah pun terkabul. Tidak ada yang kebetulan. Semua ada program dan aplikasinya. Kita saja yang tidak mengerti.

Wallahu’alam.
Mohon maaf jika salah …

KMO, Ahad Kliwon 14Juli 2019
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *