Guru dan Murid

Hubungan guru dan murid, dari dulu sampai jaman now tetap erat dan emosional. Diantara keduanya adalah ilmu. Tanpa ada ilmu tidak ada guru dan murid. Ilmu-lah yang menjadi perantara dan menghubungkan keduanya. Tidak ada guru, jika tidak ada murid. Juga sebaliknya, tidak ada murid jika tidak ada guru. Fenomena itu terus akan terjadi.

Pendidikan dalam Islam memiliki dua dimensi. Pada satu sisi pendidikan untuk memperoleh pengetahuan intelektual, melalui logika dan reasoning. Dan yang lain adalah pendidikan untuk mengembangkan pengetahuan spiritual, yang diperoleh melalui penyingkapan rahasia ilahi dan pengalaman rohani.

Menurut Al-Ghazali, tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi, yaitu : insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt.  Dan insan paripurna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Kebahagiaan dunia-akhirat menurut Al-Gazali adalah menempatkan kebahagiaan dalam proporsi yang sebenarnya. Kebahagiaan yang lebih mempunyai nilai universal, abadi dan lebih hakiki. Itulah yang diprioritaskan, sehingga pada akhirnya tujuan ini akan menyatu dengan tujuan pertama. (Hasan Sulaiman, 1956)

SALIK DAN MURSYID
Dalam konteks hubungan spiritual, Murid disebut sebagai Salik dan Guru disebut sebagai Mursyid. Salik adalah seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan sufisme Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya. Disebut juga dengan jalan suluk. Jadi seorang salik adalah seorang penempuh jalan suluk.

Seorang salik selama seumur hidupnya harus menjalani disiplin melaksanakan syariat lahiriah, sekaligus juga disiplin dalam menjalani syariat batiniah agama Islam. Seseorang tidak disebut sebagai seorang salik, jika hanya menjalani salah satu dari disiplin tersebut.

Sedangkan guru dalam konteks ini disebut sebagai Mursyid, artinya memberi petunjuk dan mengajar. Mursyid adalah seseorang yang ahli dalam memberi petunjuk dan mengajar terutama dalam bidang spiritual.

Mursyid menurut kaum sufi adalah mereka yang bertanggung jawab memimpin murid dan membimbing perjalanan ruhani murid, untuk sampai kepada Allah Swt. Para mursyid bertanggung-jawab untuk mengajar dari sudut zahir (syariat) dan makna (batin).

Para mursyid dianggap golongan pewaris Rasululah SAW, dalam bidang pentarbiah umat dan pemurnian jiwa mereka. Mereka mendapat izin irsyad (izin untuk memberi bimbingan kepada manusia) dari para mursyid mereka sebelum mereka. Dan para mursyid sebelum mereka itu, juga mendapat izin irsyad, dari mursyid sebelum mereka. Begitu seterusnya menuruti silsilah sehingga izin irsyad tersebut sampai kepada Rasulullah SAW. Tanpa terputus urutannya.

PENDIDIKAN & ILMU
Pendidikan sebenarnya adalah usaha untuk menguasai, mengerti dan memahami 3 strata ilmu pengetahuan yaitu : sensible knowledge, theoretical knowledge dan spiritual knowledge. Pendidikan harus dilakukan seimbang. Menguasai pengetahuan bukan tujuan akhir, tetapi sebagai alat untuk peningkatan moral dan kesadaran rohani, mendorong ke arah keimanan dan tindakan yang benar.

Dalam proses menguasai ilmu seorang murid dituntut memiliki prasyarat, diantaranya adalah : cerdas, bersungguh-sungguh, sabar, memiliki bekal pengetahuan, ada guru yang membimbing dan waktu yang cukup panjang.

Pada jaman sekarang belajar begitu mudah. Jika tidak tahu Mbah Googgle memberitahu sesuatu secara langsung dengan begitu banyak data dan acuan yang terkait. Meskipun demikian di bidang spiritual, memahami sesuatu tidak bisa hanya dengan membaca. Ada nuansa dan pengertian yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata dan kalimat.

Mesti ada guru yang mengajar, membimbing dan menjelaskan. Walaupun pada akhirnya tergantung usaha si murid sendiri. Sebab sesuatu yang bersifat rasa, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa dijelaskan, setelah seseorang tahu apa rasa itu, misalnya : rasa asin, tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Jika sama-sama sudah tahu rasa asin, baru bisa saling menjelaskan apa rasa asin itu.

Barangkali karena sebab itulah sebagian alim mengatakan, jika belajar spiritual, mesti ada guru pembimbing. Tanpa ada guru, maka yang mengajar adalah iblis. Walaupun sebagian lainnya menolak pendapat ini.

Sekarang mengenai mursyid. Sungguh pekerjaan sangat berat menjadi mursyid, karena tanggung-jawabnya adalah dunia-akhirat. Tidak bisa main-main. Jika salah arah, bisa melenceng dan tidak sampai ke tujuan.

Al-Ghazali berkata “al-muallim, al-mudarris, dan al-wālid” adalah mereka yang bertugas menyempurnakan, mensucikan dan menjernihkan serta membimbing anak didiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Al-Ghazali beberapa pedoman yang dipegang oleh guru mursyid, antara ain :

  • Harus mencintai muridnya seperti mencintai anaknya sendiri.
  • Mengikuti teladan dan contoh Rasulullah. Tidak mengharapkan imbalan dan upah dari pekerjaannya selain kedekatan diri kepada Allah.
  • Mengingatkan muridnya tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk kekuasaan dan kebanggaan diri.
  • Mencegah muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat.
  • Tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan muridnya
  • Mengajar murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka.
  • Harus mengajarkan kepada murid yang terbelakang, dengan jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas.
  • Harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. (Dahlan Tamrin, 1988).

Seorang mursyid ibarat petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat ada batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia segera mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Ibarat tanaman membutuhkan perawat, maka seorang Salik harus mempunyai seorang Mursyid. Walaupun sebagian kaum alim, menolak pendapat ini.

Diantara Guru dan Murid terdapat  adab yang begitu kuat. Murid sangat menghormati dan menjunjung tinggi gurunya. Beberapa adab seorang murid kepada gurunya, menurut Kitab Risâlatu آ dâbi Sulûkil-Murîd, Tanwîrul-Qulûb, dan خqâzhul-Himam, antara lain adalah sebagai berikut :

  • Harus takzim dan mengagungkan gurunya.
  • Harus memasrahkan segalanya urusannya, -terutama yang terkait dengan suluk- kepada gurunya.
  • Harus siap berkhidmah kepada guru, baik dengan raga maupun harta.
  • Mentaati segala perintah guru, baik ketika di hadapannya maupun tidak.
  • Dilarang menginterupsi apa-apa yang dilakukan gurunya.
  • Haruskan selalu berbaik sangka kepada gurunya.
  • Melaksanakan perintah guru, tanpa banyak pertimbangan dan alasan.
  • Tidak boleh berguru kepada guru lain, kecuali izin dari guru pertama.
  • Tidak berburuk sangka. Harus yakin yang diperbuat guru bermanfaat.
  • Tidak boleh menuntut atau mengharap gurunya menampakkan karamah-karamahnya atau keistimewaan yang lain.

Oleh sebab itulah antara Salik & Mursyid terbangun hubungan emosional yang begitu kuat. Seringkali malah melebihi hubungan antara anak dan orangtua. Kebanyakan murid spiritual menganggap gurunya bukan lagi sebagai guru biasa, tetapi sudah seperti orangtuanya. Demikian juga sebaliknya Sang Guru menganggap muridnya, lebih dari anaknya.

Akhirnya semoga ini menjadi sekedar wacana. Bagi yang belum sampai pada wilayah Salik-Mursyid, semoga suatu saat nanti atas petunjuk dan ijin Allah Swt  akan melangkah pada tahap berikutnya.

Wallahu’alam …
Maaf jika salah.

KMO : Sabtu Pon, 22 Juni 2019.
KPA

Sumber bacaan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *