Bandara Internasional Yogyakarta

Bandar udara baru Yogyakarta yang terletak di Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo ini, semula dijadwalkan akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 April yang lalu, dengan status minimal-operation. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, terutama karena belum siapnya pekerjaan konstruksi, maka akhirnya peresmian itu ditunda sampai pembangunan siap pada waktunya. Menurut rencana pada bulan Oktober mendatang.

Semula Bandar udara baru ini namanya gencar disebutkan dengan New Yogyakarta International Airport. Sekarang lebih sering disebut dengan Yogyakarta International Airport (YIA). Tampaknya setelah mendapat saran Ombudsman yang menyarankan agar nama bandara baru ini, dalam Bahasa Ind0nesia saja. Dalam surat resminya Ombudsman menyarankan agar namanya adalah Bandar Udara Baru Yogyakarta (BUBY). Apalah arti sebuah nama? Tapi kadangkala nama sangat penting juga deh.

Sementara itu pada hari Senin, 29 April 2019 yang lalu, saya sempat mengunjungi dan melihat persiapan operasi-minimal Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Di pintu masuknya sudah ada tulisan besar “Yogyakarta International Airport”. Rumput didepannya sedang ditanam dan mulai menghijau. Sebentar lagi pasti sudah apik dan asri.

Memasuki bandara, langsung ke curbside. Tampak persiapan untuk operasi-minimal bandara, mulai menemukan bentuknya. Dua belas check in counter (sementara) sudah siap. Juga ruangan dan fasilitas pendukungnya. Sempat melihat fasilitas X-Ray bagasi dan box tempat pengaman senjata api. Jika ada bagasi yang dicurigai, pemiliknya dapat dipanggil untuk klarifikasi.

Kemdian kam naik ke lantai dua, boarding lounge. Walaupun belum seluruhnya selesai, terasa ruangan luas dan lapang. Dan mempunyai nuansa dan selera internasional. Sempat bertemu Pak Agus Pandu Purnama GM Bandara Adisutjipto, yang baru saja selesai melakukan Konperensi Pers mengenai Kesiapan YIA. Beliau mengatakan secara minimal operasi, bandara ini sudah siap untuk dioperasikan.

Semula direncanakan yang akan terbang perdana adalah penerbangan internasional, tetapi mempertimbangkan persiapan dan kesiapan airline maka diputuskan penerbangan domestik terlebih dahulu yang akan terbang ke YIA.

Kemudian kami turun melalui Garbarata. Baru ada 3 garbarata yang terlihat sudah siap dipergunakan. Melihat apron dan markingnya. Beberapa peralatan Ground Support Equipment (GSE) milik PT. Gapura Angkasa terlihat sudah diparkir di bagian pojok apron. dan siap dipergunakan. Marka apron dan parking stand tampaknya belum semua disiapkan kelihatannya masih dalam proses.

Sesudah itu kami diantar petugas AMC Andre untuk melihat kondisi Tower baru. Tower Pengatur Lalu Lintas Udara ini tingginya 55 meter. Hanya saja tampak pendek, barangkali karena body-nya yang gemuk. Tidak seperti Tower BIJB-Kertajati yang langsing, sehingga tampak tinggi.

Para pekerja terlihat sibuk menyiapkan Tower. Nurcahyo personil Proyek PP dari Kediri yang mengantar kami ke atas Tower, mengatakan tanggal 2 Mei Tower ini akan sudah akan siap semuanya.

Dari atas Tower setinggi lebih dari 50 meter ini. Semua terlihat jelas. Hanya sayangnya pembatas antar kaca Tower terlalu tebal, sehingga mengganggu dan menghalangi pandangan petugas ATC. Tower set sedang dalam proses pemasangan. Untuk sementara ada Portable Tower di dekat Terminal Cargo sana. Sayang sudah sore sehingga tidak sempat mampir ke lokasi Tower sementara itu.

Dari  atas Tower terlihat di sebelah selatan bandara adalah laut lepas. Jaraknya hanya kurang dari 500 meter. Dari atas sini ombak memutih terlihat memecah garis pantai. Berarti angin begitu keras bertiup dan itu pasti berpotensi memberi efek cross-wind!

Runway sepanjang 3.250X45 M tampak membujur sejajar dengan garis pantai. Pada saat tertentu angin keras membawa butiran debu halus, dari hamparan pasir sepanjang pantai. Selain itu angin juga membawa uap air laut yang mengandung garam. Ini pasti memberi efek kepada pesawat. Pesawat yang beroperasi di YIA, mesti bersiap terpapar oleh dua materi ini, debu alus dan uap air bergaram.

Di sebelah utara sana adalah Bukit Menoreh yang membujur menutui sepanjang cakrawala. Di sebelah kanan terminal penumpang dan cargo. Sayang matahari tertutup awan. Kalau tidak pasti ada panorama akan ada pemandangan sunset yang indah dan artistik dari atas sini.

Oh iya … sebelum naik ke Tower, masih sempat shalat di Masjid Al-Akbar. Salut dengan arsiteknya yang artsitik. Atap masjid adalah kubah melengkung sampai ke bawah, jadi seperti semacam mangkok yang tertelungkup. Dari luar dindingnya tersembunyi. Keren banget!

Tidak terasa matahari sudah menjelang tenggelam. Kami bergegas turun. Terimakasih kepada Mas Nurcahyo yang mengantar dan menjelaskan mengenai proyek pembangunan Tower ini. Menurut dia hanya lantai 5, 6, 7 dan lantai 8 yang akan diisi dengan peralatan dan menjadi tempat rest room petugas ATC.

Kami kembali ke petugas security dan mengembaikan pas Tamu. Terus kembali ke Yogyakarta. Perjalanan kembali dari Malioboro Yogyakarta membtuhkan waktu 1,5 jam. Pada saat jam sibuk pasti lebih lama lagi. Rasanya akses ke bandara perlu segera direalisasikan, baik berupa tol maupun kereta bandara.

Proving Flight Citilink
Penerbangan uji-coba proving flight Bandara YIA beberapa kali gagal. Pertama Garuda Indonesia direncanakan tanggal 26 April. Tidak jadi. Kemudian diganti Citilink pada tanggal 27 April. Gagal juga. Masih ada satu lagi uji ciba penerbangan dengan pesawat TNI-AU Boeing B-734 pada tanggal 28 April. Eh … ternyata batal juga!

Akhirnya pada tanggal 2 Mei 2019 Citilink adalah airline pertama, yang mendarat untuk pertama kalinya di Yogyakarta International Airport.  Dan itu penerbangan yang bersejarah.

Jam 12.04 Waktu Kulonprogo Captain Agus Setiono berma Capt. Teguh Kristiono membawa pesawat Airbus A-320 PK-GQQ dengan callsign QG-3361, mendarat mulus dari Runway 11. Kemudian dengan anggun pesawat Airbus itu keluar dari runway, melalui speed exit taxiway. Kemudian pesawat diparkir dengan nose-in di parking stand 8B.

Captain dan awak cabin pesawat kemudian mengadakan konferensi pers bersama Direktur Teknik PT. Angkasa Pura I Lukman F. Laisa dan GM Bandara Adisutjipto Agus Pandu Purnama.

Waktu berada di darat (ground time) hanya satu jam. Pada jam 13.10 pesawat Citilink kemudian terbang kembali ke Bandara Udara Soekarno-Hatta. Sejarah telah mencatat, Citilink lah yang pertama menggunakan Bandara Internasional Yogyakarta ini. Mengapa Citilink, bukan Garuda Indonesia yang flag carrier? Ada teman yang sambil guyon mengatakan, karena Citilink berwarna hijau dan Sang Ratu Kidul menyukai warna hijau, maka Citilink lah yang pertama mendarat disini. Ada-ada saja.

Mulai Senin tanggal 6 Mei yang lalu Citilink terbang setiap hari dari Bandara Halim Perdanakusuma, tiba jam 12.40. Dan tanggal 26 Mei nanti akan ada tambahan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta 4 kali seminggu. Jadwal keberangkatan 09.55 Waktu Kulonprogo.

Maskapai yang lain yang akan terbang rencananya adalah Batik Air. Mulai tanggal 15 Mei Batik Air akan terbang ke Bandara A.P. Pranoto Samarinda, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya dan Bandara Soekarno-Hatta.

Kunjungan Wapres Jusuf Kalla
Walaupun belum jadi diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Untunglah pada tanggal 4 Mei yang lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika melakukan tugas kedinasan, sempat mampir melalui YIA.

Beliau menggunakan pesawat Pelita PK-PJJ mendarat jam 08.06 waktu Kulonprogo. Wapres tampaknya hanya ingin melihat secara sekilas YIA, kunjungan utamanya adalah ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pada jam 09.07 pesawat BAe-146 bermesin 4 itu, kemudian terbang reposisi, ke Bandara Adisutjipto. Dan menunggu Wapres disana. Wakil Presiden Jusuf Kalla benar-benar smart. Sambil melihat YIA, sekalian melakukan kunjungan kerja.  Semoga Pak JK selalu sehat dan tetap bijaksana.

Segala keterbatasan karena bandara belum sepenuhnya selesai dibangun, operasi-minimal YIA telah berjalan lancar dan aman. Mudah-mudahan Yogyakarta International Airport tidak bernasib sama dengan BIJB-Kertajati. BIJB telah dan akan terus berusaha keras, mencari cara menarik penumpang, cargo dan airline agar terbang ke sana. Ini terasa sulit tatkala Bandara Husen Sastranegara masih tetap beroperasi.

Dan pengalaman BIJB-Kertajati, mudah-mudahan menjadi pelajaran berharga. Analogi dengan BIJB. Jika Adisutjipto tetap beroperasi, maka YIA bakalan tidak akan optimal. Sama halnya dengan Bandara SAMS Sepinggan yang mengalami pengurangan penerbangan dan penumpang, setelah Bandara A.P. Pranoto di Samarinda beroperasi.

Akhirnya, semoga YIA segera dapat dioperasikan secara penuh. Dan menjadi sarana transportasi udara yang mampu menggerakkan perekonomian dan pariwisata nasional dan Yogyakarta khususnya.

Heru Legowo
Mantan GM Ngurah Rai Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *