Kembali ke Illahi

Satu per satu rekan dan sahabat mendahului menghadap ke Illahi. Semua akan datang gilirannya masing-masing. Tidak harus yang tua lebih dahulu. Terserah kepada-NYA, Yang Maha Mengatur Segala Sesuatu.

Marilah bersiap menghadapi batas waktu itu. Yang semua tidak tahu kapan datangnya. Yang jelas suatu saat pasti akan tiba masanya. Akan ada berita melalui loudspeaker Masjid dan atau lewat WA, bahwa kita sudah tiada. Innalillahi wa ina ilaihi rajiun. Yang mendengar mungkin akan sedikit kaget barangkali, tapi setelah itu biasa saja bagi mereka yang mendengarnya.

Mulailah dengan menyiapkan mental. Sadar sepenuhnya saat itu akan tiba. Tidak bakal tertunda sedetik pun. Lalu perbaikilah perilaku, agar sesuai seperti keyakinan dan panduan agama kita masing-masing.

Ibadah diperbaiki dan dikoreksi jika salah. Yang semula ibadah hanya berdasarkan pengalaman dan pendidikan waktu kecil, mesti dicari kembali yang sebenarnya, tata caranya bagaimana? Bertanyalah kepada para ustadz, kyai yang fasih dan mumpuni dalam hal fiqh dan tauhid. Perbaikilah ibadah dengan petunjuk beliau-beliau itu.

Perbaikan yang bersifat ke luar adalah dengan berbuat baik, menolong sesama yang membutuhkan, tidak menyakiti orang lain, berbagi, beramal, sedekah dan lainnya. Sedangkan perbaikan yang ke dalam, bersihkanlah dan basuhlah hati. Bersihkan dan cucilah sikap sombong, tinggi hati, arogan, dengki, iri hati, riya, hasad, hasut, merasa pintar dan hebat, menganggap benar sendiri, merasa lebih shalih dan sebagainya.

Yang ke dalam ini akan lebih sulit dilakukan. Mengapa? Sebab orang lain tidak ada yang tahu; selain diri kita sendiri! Oleh sebab itu jagalah emosi agar tidak terjerumus kepada semua penyakit hati yang disebut tadi.

Kemudian yang sulit adalah melepaskan keterikatan dengan dunia. Cobalah lepaskan perlahan-lahan. Jabatan, kekuasaan, pangkat, eksistensi, harta dan benda lepaskanlah. Semua itu akan menjadi pemberat dan bagaikan menarik untuk kembali. Dan membuat menjadi berat meninggalkan dunia. Walaupun begitu tarikan ini barangkali lebih mudah diatasi.

Yang sulit adalah melepaskan keterikatan emosional dengan anak, cucu dan keluarga. Oleh karenanya berlatihlah sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan lepaskanlah dan cobalah untuk melupakan mereka. Ini pasti sangat susah.  Memang! Sebab perasaan, kasih-sayang dan keterikatanmu kepada mereka begitu erat. Emosimu begitu kuat itu. Dan itu akan menarikmu dengan kuat dan membuatmu menjadi berat meninggalkan dunia.

Setelah itu semua, belajarlah untuk sendiri. Secara hakikat pada akhirnya semua mesti sendiri. Bertanggung-jawab atas segala sesuatu sendiri, di hadapan Illahi Rabbi. Tidak ada teman, saudara, anak yang dapat membantu. Kita mesti sendiri. Jadi mulailah belajar mandiri dan sendiri.

Kita bersiap meninggalkan dunia yang fana. Dunia penuh fatamorgana. Dunia yang sebenarnya hanya tempat singgah sementara, hanya untuk sekedar minum. Sebelum melakukan perjanan panjang, entah berapa lama menuju ke hadirat-NYA.

Oleh sebab itu, inilah saatnya tidak tergantung kepada orang lain. Menyendiri bukan secara fisik. Tetapi menyendiri perlahan-lahan dan melepaskan keterikatan dengan dunia. Sebab kita akan meninggalkan semuanya, dunia beserta segala kebanggaan dan eksistensi kita. Jika tidak berlatih sendiri dan menerima situasi sendiri, sudah pasti akan susah pada saat mengadapi batas waktu kita kelak.

Akhirnya berdoalah memohon ridha kepada illahi rabbi. Semoga pada saatnya kelak, diizinkan-NYA lepas dari dunia dalam kondisi husnul khatimah. Tetap dalam Islam. Dan diberi bimbingan, petunjuk dan jalan terang di alam barzah sana. Amin Ya Rabbal Alamin …

Sekilas seperti itulah kira-kira adanya. Segala sesuatu selalu membutuhkan persiapan. Dan kita mesti dengan sadar menyiapkannya sejak dari awal. Bismillah.

Wallahu’alam …
Mohon maaf jika salah.

Kemayoran, Jumat Kliwon 14 Juni 2019.
Ki Pandan Alas

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *