Tiket Mahal

Saya mau crita yang ringan saja. Yang berat-berat, sudah ada ahlinya. Biar beliau-beliau yang ahli yang mikir, karena bisa pusing tujuh keliling tuh.

Dulu sekali yang naik pesawat masih jarang. Mereka yang naik pesawat biasanya kalau bukan pebisnis, turis, pemegang konsesi, ya para pejabat yang melakukan perjalanan dinas. Atau yang mereka mengalami keadaan darurat dan yang mendesak.

Masyarakat kelas bawah menggunakan bus dan kereta api. Pada waktu itu kereta api masih “jejel uyel-uyel”. Sangat tidak manusiawi. Dibawah kursi digelar koran dan mereka pun lalu tidur mendengkur. Yang masih melek, kalau ada kondektur lewat langsung pura-pura tidur. Kondekturnya faham : “Karcis mas! Jangan pura-pura tidur!” Hahaha …

Lalu datang era penerbangan biaya rendah, Low Cost Carrier (LCC). Ketika pertama kali Air Asia akan terbang ke Bali. Saya sungguh kagum ketika membaca tagline-nya untuk pertama kalinya : Now everybody can fly. Gilaa … ! Bagaimana caranya bisa dapet tiket yang sangat murah itu? Mister Fernandez memang hebat dah.

Kemudian beberapa airline domestik ikut menjadi LCC. Dan tibalah era baru dan pemandangan baru di bandara. Penumpang pesawat bukan lagi harus necis, perlente dan harum. Mereka yang bersandal jepit dan bawa banyak tentengan, juga terlihat di bandara dan ketika boarding ke pesawat.

Saya malah pernah terbang satu pesawat dengan ibu-ibu yang menenteng tumpukan telor mentah, yang hanya diikat tali rafia! Lalu di seberang saya setelah pesawat take-off, seorang pria membuka tas kreseknya dan menikmati nasi goreng yang aromanya membuat ngiler … Benar-benar terjadi ini. Now everybody can fly

Sekarang harga tiket tiba-tiba melambung. Tidak terkendali. Sampai Menhub harus mengubah Tarif Batas Atas. Maksudnya untuk menekan harga. Ternyata tidak serta merta dapat menurunkan tarif juga. Banyak faktornya.

Baca tulisan Pak Agus Pambagyo yang menjelaskan dengan ringkas, cerdas dan straight to the point. Selengkapnya harap dapat dibaca disini ya : https://m.detik.com/news/kolom/d-4556976/berakhirnya-tiket-murah-penerbangan.

Akhirnya sepertinya dengan harga tiket yang mahal masyarakat pengguna jasa penerbangan akan kembali tersegmentasi, seperti dulu lagi. Yang terbang adalah para pebisnis, turis, pemegang konsesi dan para pejabat yang melakukan perjalanan dinas.

Masyarakat bawah akan beralih memakai transportasi darat. Toh jalan tol sudah lebar dan lancar, bus mudah, kereta api sekarang sudah nyaman dan gampang mendapatkan tiketnya.

Ah iya … satu lagi. Harga tiket yang mahal ini memicu akibat lanjutan yang berurutan. Airline akan menutup rute-rute penerbangan yang merugi, karena penumpangnya sedikit. Bandara mengalami penurunan jumlah penumpang. Daerah wisata dan places of interest berkurang pengunjungnya. Lalu berikutnya ini akan mempengaruhi travel agent dan tingkat hunian hotel. Para pedagang buah tangan dan toko souvenir juga akan terkena imbasnya, dan sebagainya. Banyak deh …

Now … NOT everybody can fly. Apaboleh buat. Habis tiketnya mahal sih, bagaimana dong?

 

KMO : Senin kliwon, 20 Mei 2019
HL

One Reply to “Tiket Mahal”

  1. Tksh pak Heru artokelnya yg renyah dan kekinian. Menarik u/ disimak u/ tambah2 pengetahuan.
    Selamat dan sukssa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *