Perjalanan ke Baitullah

Isra Mi’raj diperingati umat Islam dengan khidmat dan penuh makna yang dalam. Itu adalah kisah fenomenal tentang Rasulullah Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah Swt dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kisah yang sangat fenomenal bagi kaum muslimin. Sebab setelah peristiwa itu, lalu datang perintah shalat. Bagaimana Rasulullah melakukan perjalanan itu pada malam hari dan melewati langit lapis ke tujuh untuk “bertemu” dengan Allah Swt.

Berbeda dengan yang selama ini difahami, secara hakikat Isra-Mi’raj bukanlah perjalanan fisik. Pada suatu pengajian, Kang Iip Syafif Hidayatullah menjelaskan Isra-Mi’raj dari sisi hakikat. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan dalam memahami, saya mencoba menuliskannya. Semoga Allah Yang Maha Mengetahui, meridhai pemahaman “baru” ini. Amin.

Yang pertama harus difahami bahwa Isra-Mi’raj adalah perjalanan spiritual, perjalanan ruhani. Bukan perjalanan fisik. Oleh karena itu sulit atau tidak mudah dicerna dengan nalar dan logika biasa. Memahaminya mesti dari sisi ruhaniah juga. Perjalanan dari Masjidil Al-Haram ke Masjidil Aqsa, memiliki arti dalam metafora yang sangat dalam. Bukan perjalanan biasa dari satu masjid ke masjid yang lain.

Masjidil Haram adalah baitullah. Baitullah adalah rumah Allah. Dan baitullah terletak di dalam hati manusia. Dalam hal yang satu ini saja, banyak orang yang tidak menyadarinya. Dimanakah sebenarnya letak baitullah? Lha bagaimana mau menuju ke rumah Allah, jika tempatnya saja tidak tahu?

Dan tujuan perjalanan ruhani itu adalah Masjidil Aqsa. Apakah Masjidil Aqsa itu? Aqsa secara harfiah artinya jauh. Jadi Masjidil Aqsa adalah ada suatu tempat yang jauh. Sangat jauh! Begitu jauh, sehingga untuk mencapainya orang tidak akan mampu. Kecuali dibantu! Dimana tempat itu berada? Tempat yang jauh itu adalah : masa lalu! Suatu masa yang sudah lewat. Baik yang baru saja lewat atau masa yang sudah lampau ribuan tahun yang lalu.

Isra-Mi’raj adalah anugerah dari Allah Swt, bagi siapa saja yang siap dan mau. Mereka yang menyiapkan dirinya dengan sebenar-benarnya dan mau. Walaupun begitu, perjalanan itu tidak dapat dilakukan sendiri. Harus dibantu dan seijin Allah. Oleh sebab itu dalam Isra-Mi’raj hamba-NYA “diperjalankan” (QS 17:1). Dan bukan berjalan sendiri.

Syaratnya sebelum melakukan perjalanan, hati mesti bersih atau suci lebih dulu. Bersih adalah kondisi fisik, untuk kondisi batin adalah suci. Hati yang kotor mesti dibersihkan lebih dulu. Dan sarana untuk membersihkannya salah satunya adalah dengan zakat (QS 9:103). Setelah usahanya untuk membersihkan hatinya menjadi suci, barulah manusia dapat melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa.

Dengan ijin-NYA manusia dapat melihat masa lalu. Dalam bahasa syariat, prosesnya adalah dengan melewati tujuh lapis langit. Pada setiap lapisan langit, Rasulullah bertemu dengan nabi dan rasul dari tiap-tiap masanya masing-masing. Masa yang sudah lewat.

Apa manfaatnya melihat masa lalu? Manusia dapat belajar dari pengalaman masa lalu. Pengalaman itu dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas hidup. Rasulullah diperjalankan dalam peristiwa Isra-Mi’raj, satu tahun sebelum hijrah ke Madinah. Dan sesudah itu Rasulullah mampu membangun Yathrib, menjadi pusat kekhalifahan Islam. Yathrib kemudian berubah menjadi Madinah Manuwarah (kota yang bercahaya).

Metafora Jawa

Para wali di Jawa dulu sangat canggih menjelaskan Islam dalam bingkai tradisional. Melalui cerita dan wayang, para wali menyebarkan agama Islam. Dalam versi cerita pewayangan, barangkali Isra-Mi’raj adalah proses ketika Bima bertemu dengan Dewa Ruci.

Bima melakukan perjalanan untuk mencari Tirta Amertha. Setelah melakukan perjalanan jauh dan sukar, membunuh raksasa-raksasa yang sakti dan melewati laut yang bergelombang tinggi. (Itu adalah metafora dari proses “pembersihan” diri sendiri, sebelum bertemu Sang Khalik). Bima akhirnya bertemu lokasi dimana Tirta Amertha berada.

Ketika sampai disitu, Bima kaget bertemu dengan Dewa Ruci yang menyerupai dirinya. Persis sama! Hanya badannya jauh kecil dari dirinya. Kemudian Dewa Ruci memerintahkan Bima untuk masuk ke tubuhnya. Melalui telinganya! Tentu saja Bima tidak percaya. Bagaimana mungkin badannya yang puluhan kali lebih besar dari Dewa Ruci, kok disuruh masuk melalui telinganya?

Kemudian Bima masuk. Ternyata setelah masuk bukan hanya Bima yang dapat tertampung didalamnya, seluruh alam semesta berada didalamnya! Bima baru sadar, betapa amat sangat besarnya Sang “Dewa Ruci” itu. Dan dalam cerita, hanya Bima-lah yang mampu mendapatkan Tirta Amertha. Bima adalah metafora bagi mereka yang siap dan mau menempuh jalan sulit untuk menemui Rabb-nya.

Kisah diatas barangkali adalah manifestasi dari kalimat sabda Rasulullah Muhammad SAW yang sangat inspiratif : “Man arrafa nafsahu, faqad arrafa rabbahu”. Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Rabb-nya.

Wallahu’alam bissawab.
Mohon maaf jika salah …

KMO, Isra-Mi’raj – Rabu Pon 3 Maret 219
Ki Pandan Alas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *