MRT : Era Baru Transportasi di Jakarta

Kamis siang 28 Maret 2019. Saya menghadiri undangan Capt. Ali Nahdi. Mengikuti FGD yang diselenggarakan oleh Federasi Pilot Indonesia di Perpustakaan Nasional Indonesia.

Selesai FGD saya mencoba moda transportasi baru yang sedang heboh Mass Rapid Transport (MRT), atau Moda Raya Terpadu. Nggak tahu apakah kepanjangan singkatan MRT yang itu, apa sudah resmi apa belum? Saya sengaja mencoba menggunakan angkutan umum eh public transport. Pakai bahasa Inggris deh. Biar agak keren sedikit.

Dari depan Perpustakan Nasional saya naik bus berwarna orange ke arah Hotel Indonesia. Ternyata gratis. Saya nggak yakin dan memeriksa tiket yang diberikan. Bener juga tulisannya : Gratis.

Di dekat bundaran HI saya turun. Lalu berbalik arah. Jalan sedikit sekitar 200 meter ke pintu masuk stasiun MRT. Memasuki shelter MRT, saya tanya kepada security, Dedi namanya. Bagaimana caranya naik MRT? Dedi malah  bertanya : “Usia bapak berapa?” Asem! Berarti sudah tampak tua dong ya? Ketika dia tahu saya sudah lewat sweet, dia bilang: “Langsung saja pak. Nanti masuk dengan menunjukkan KTP”! Wah sip!

Saya menurun tangga yang cukup curam. Beberapa orang sedang mengantri sedang mengurus tiket. Saya terus berjalan dan melewati security lagi. Saya melihat sekeliling. Semua rapi, bersih dan enak dilihat. Tiba-tiba saya merasa seperti di negeri lain. Ternyata kita bisa juga ya?

Sambil menuruni tangga satu lagi, menuju ke jalur kereta MRT saya berdoa atau berharap. Mudah-mudahan mereka para penumpang itu, bisa menggunakan dan menjaga fasilitas transportasi masal yang canggih dan modern ini, dengan baik dan bertanggung-jawab. Rasanya perlu disosialisasikan lebih banyak lagi, dalam usaha mengubah perilaku dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi.

Lalu saya menunggu di depan pintu masuk ke gerbong kereta. Oh ya tidak seperti KRL dan kereta lain. Khusus MRT, di stasiun selalu ada pagar pembatas antara penumpang dan gerbong MRT. Di stasiun besar Bundaran HI, pagar pembatas itu menutup semua rangkaian gerbong MRT. Jadi dari luar, pagar yang panjang itu sekilas jadi tampak seperti rangkaian gerbong MRT! Keretanya sendiri tidak kelihatan.

Beberapa menit menunggu, kemudian pintu terbuka. Setelah penumpang turun, saya naik di gerbong ke 4. Beberapa ibu-ibu membawa anak-anaknya. Selain mencoba yang pertama kalinya, juga barangkali mumpung masih gratis ya? Penumpang penuh. Dan beberapa kali masinis melalui pengeras suara, mengingatkan agar penumpang pindah ke gerbong lain yang masih kosong.

Sebentar kemudian pintu ditutup dan kereta mulai bergerak. Akselerasinya halus tapi cepat. Bagi yang berdiri mesti agak kuat berpegangan menjaga keseimbangan, karena daya ayunan awal ke depan cukup kuat. Di kiri dan kanan dinding pembatas seakan bergerak dengan cepat. Menimbulkan suara gemerisik yang khas kereta bawah tanah.

Suasananya mengingatkan ketika saya dulu sering naik kereta semacam ini di Belanda. Ketika mengikuti Airport Management Training. Hampir selama 3 bulan, bolak-balik dari Central Station ke Amsterdam-Schiphol. Ternyata setelah lebih dari 25 tahun, baru bisa merasakan kereta semacam itu di Indonesia. Lama banget ya?

Kereta MRT  bergerak semakin cepat. Suhu di dalam kereta 21 derajat. Sepuluh menit kemudian, kereta keluar dari liangnya dibawah tanah dan naik  ke permukaan, memasuki jalur Elevated Track. Tingginya sekitar 15 meteran dari permukaan tanah. Panjang jalur kereta dibawah tanah adalah 6 km dan di jalur layang (elevated) 10 km.

Di elevated track terasa tidak istimewa. Seperti naik KRL biasa, hanya lebih tinggi. Kota jakata berada dibawah sana. Jadi ingat ketika dulu pernah naik kereta di elevated track di Berlin. Masjid Al-Azhar tampak megah di sebelah kiri kereta. Kereta berhent hair setiap 2-3 menit. Dan di setiap stasiun berhenti 30-60 detik, tergantung kepadatan penumpang.

Ada 6 stasiun yang berada dibawah tanah : Bundaran HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, Senayan. Dan yang diatas ada 7 stasiun : Sisingamangaraja, Blok M, Blok A, Haji Nawi, Cipete Raya, Fatmawati dan Lebak Bulus.

Dalam 28 menit rangkaian kereta sampai di stasiun akhir Lebak Bulus. Dua menit lebih cepat dari seharusnya 30 menit. Saya mengambil beberapa foto penting dari moment of truth ini. Maklumlah segala sesuatu yang pertama dan awal mesti menarik dan mengundang rasa ingin tau. Apalagi saya termasuk orang yang curious, Kepo. Selalu ingin tahu segala sesuatu yang baru.

Perjalanan pulang ke Bunderan HI hampir sama. Jumlah penumpang semakin banyak. Tetapi waktu tempuh masih 28 menit. RT menadi erasa sebagai sesuatu banget. Apalagi ketika MRT melintas diatas jalan tol Lebak Bulus yang padat-merayap. Benar-benar sangat terasa manfaat dan keberadaan MRT ini.

Tarif MRT ditetapkan sebesar Rp. 1.000.-/km. Untuk tarif paling jauh adalah Rp. 14.000.- dan paling dekat Rp. 3.000.- Pemda DKI Jakarta memberi subsidi sekitar Rp. 675 Milyar per tahun. Investasi pembangunan MRT baru akan kembali setelah 48 tahun. Waduh lama sekali!

Akhirnya, setelah perjalanan panjang MRT akhirnya terwujud. Dicetuskan pertama kali oleh BJ. Habibi tahun 1985. Kemudian tahun 2005 ditetapkan oleh Presiden SBY sebagai proyek nasional. Dan pada tanggal 24 Maret 2019 yang lalu, Presiden Jokowi meremikan penggunaan MRT ini. Ternyata membutuhkan waktu lebih dari 30 tahun sejak awal dicetuskannya, sampai terwujud sekarang ini. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang dan tidak mudah.

Sekarang tinggal bagaimana kita menjaga dan merawatnya. Di bagian ini biasanya kita lemah. Pandai mengadakan, tetapi sulit ketika harus memelihara. Yang jelas masyarakat bakal mengalam sedikit gegar budaya, cultural shock. MRT akan mengubah paradigma dan perilaku masyarakat. MRT bakal menjadi sarana untuk mejadi sarana melatih budaya tepat waktu, antri, akurat, bersih, teratur, tidak egois, peduli  kepentingan orang lain dan menjaga fasilitas umum.

Biaya kemacetan yang dialami Jakarta menurut data adalah sebesar Rp. 65 Trilyun per tahun, atau lebih Rp. 175 Milyar per hari. Luar basa. Alangkah borosnya kemacetan.

Bahan bakar terbuang sia-sia, orang-orang menjadi stress dan emosinya tinggi, karena itu membuat kinerjanya menjadi tidak optimal. Akibatnya, jam kerja terpengaruh. Polusi udara semakin parah. Sungguh banyak sekali dampak dari suatu kemacetan dan dampak ikutannya.

Mudah-mudahan MRT menjadi sarana membantu Jakarta semakin teratur dan kemacetan semakin berkurang. Marilah menggunakan dan menjaga fasilitas publik ini dengan baik.

KMO, Sabtu 30 Maret 2019
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *