Ibnu Muljam Modern

Tanggal 26 Januari 661 Ali bin Abi Thalib RA, khalifah keempat Kekhalifahan Rasyidin dan Imam Syi’ah pertama, sedang shalat Subuh di Masjid Agung Kufah. Tiba-tiba seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam menebaskan pedangnya yang sudah dilumuri racun ke arah kepala Sayidinna Ali.

Sebenarnya sabetan pedang itu hanya membuat luka kecil di kepala Ali, tetapi pedang itu beracun! Akibatnya dua hari setelah sabetan pedang itu, Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 28 Januari 661. Usianya sekitar 63 tahun.

Siapakah Ibnu Muljam?
Menurut Syamsuddin ad-Dzahabi (748 H) dalam kitabnya Tarikhul Islam wa Wafayati Masyahiril A’lam, Ibnu Muljam adalah seorang ahli Al-Quran dan ahli Fikih. Dia juga gemar beribadah. Ibnu Muljam belajar Al-Quran kepada seorang sahabat Rasul yang pernah dikirim ke Yaman, yaitu Muadz bin Jabal.

Ibnu Muljam pernah mengutus Shabig at-Tamimi untuk bertanya hal-hal yang berkaitan dengan Al-Quran kepada Umar. Berarti secara tidak langsung, ia juga berguru kepada Umar bin Khatab. Semasa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatab, Ibnu Muljam adalah seorang yang istimewa. Dia diberi kepercayaan oleh Umar bin Khatab untuk mengajar Al-Quran di masjid.

 Alasan Ibnu Muljam membunuh Ali
Sayidinna Ali menjadi khalifah, setelah terbunuhnya Utsman bin Affan pada tahun 656. Ali menghadapi tentangan dari berbagai faksi, termasuk Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Muawiyah tidak mau baiat kepada Ali, sebelum para pembunuh Utsman diadili. Ali tidak mau langsung memberi hukuman kepada pembunuh itu, karena akan menimbulkan pemberontakan yang semakin meluas.

Ali kemudian setuju untuk melakukan arbitrase dengan Muawiyah bin Abu Sufyan pada saat Pertempuran Shiffin (657). Setelah itu terjadi pemberontakan terhadap Ali, oleh beberapa anggota tentaranya, yang dikenal sebagai Khawarij (mereka yang keluar). Mereka membunuh beberapa pendukung Ali. Kemudian mereka dihancurkan oleh pasukan Ali di Pertempuran Nahrawan, bulan Juli 658.

Sementara itu Abdurrahman bin Muljam bertemu dengan dua orang Khawarij lainnya yaitu Al-Burak bin Abdillah dan Amru bin Bakr at-Tamimi di Mekkah. Mereka menyimpulkan bahwa situasi umat Islam pada saat itu, disebabkan oleh kesalahan Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Amru bin Ash, Gubernur Mesir.

Mereka memutuskan untuk membunuh mereka bertiga. Sekaligus sebagai balas dendam atas teman-temannya yang terbunuh di pertempuran Nahrawan. Abdurrahman bin Muljam kemudian menuju Kufah, dengan tujuan membunuh Ali.

Di sana dia jatuh cinta kepada Fitham seorang perempuan yang saudara dan ayahnya terbunuh dalam pertempuran di Nahrawan. Fitham mendendam kepada Ali. Dia setuju untuk menikah, apabila Ibnu Muljam mampu membunuh Ali.

 Ibnu Muljam Modern
Sekarang sudah lebih dari 13 abad sejak terbunuhnya Sayidinna Ali. Tetapi kelompok dan orang-orang dengan keyakinan seperti Abdurrahman bin Muljam masih terus ada. Mereka sangat memahami dan hafal Al-Qur’an, menguasai Fikih dengan sangat baik. Mengerjakan shalat, puasa dan semua ibadah secara ajeg, konsisten dan teratur. Semua dalam hal ibadah tanpa cela.

Hanya saja mereka tidak dapat menerima siapa saja yang melakukan ibadah yang tidak sama dengan keyakinan kelompok mereka. Mereka merasa berjuang untuk menegakkan Islam, tetapi Islam versi mereka.

Siapa saja yang berbeda dengan kelompok mereka disebut sebagai bid’ah, khurafat dan harus diperangi. Bahkan jika perlu harus dilenyapkan. Bukankah yang sahabat Nabi yang se-alim Sayidinna Ali pun dibunuh? Apalagi hanya orang awam yang biasa saja, kan?

Rasulullah telah meramalkan kelahiran generasi Ibnu Muljam ini:
Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Alquran dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari Islam seperti anak panah meluncur dari busurnya” (Shohih Muslim, hadits No.1068)

Mudah-mudahan ini memberi gambaran dan menyadarkan. Menjadi kewajiban kita untuk melindungi dan mempersiapkan generasi muda, agar mereka tidak disusupi, dipengaruhi dan diracuni oleh golongan Ibnu Muljam modern ini.

Akhirnya, marilah bersama menjaga dan memperbaiki perilaku agar mampu mewujudkan Islam yang benar-benar Rahmatan Lil Alamin. Islam yang sejuk, damai dan penuh kasih-sayang.

Bismillah ….

Mohon maaf jika salah.

KMO, Rebo Legi 27 Maret 2019
Ki Pandan Alas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *