Islam Transnasional

Di Indonesia pada beberapa waktu yang lalu, kita semua melihat sekelompok ummat Islam mulai terasa berubah. Mereka menjadi lantang, garang dan menyerang. Situasi politik barangkali melatar-belakangi dan membawa mereka harus bersikap dan menunjukkan jati-dirinya seperti itu.

Banyak yang mengatakan mereka adalah Islam Garis Keras. Mereka tidak kenal kompromi dan begitu mudah berteriak dan bertindak dengan kekerasan juga mengkafirkan mereka yang tidak sama pemikiran dengan kelompoknya.

Jika kita membaca dari tulisan-tulisan, buku-buku dan literatur, sebenarnya Islam Garis Keras sudah lama memasuki bumi Nusantara. Mereka masuk dengan cara halus dan menyusup, tetapi juga dengan cara keras, kasar dan memaksa.

Secara garis besar mereka terdiri dari 3 aliran besar, yaitu : Wahabi, Ichwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Kita mengenalnya sebagai Islam Garis Keras, tetapi dalam lingkup internasional mereka disebut sebagai Islam Transnasional. Islam yang berkembang melewati batas-batas negara.

Siapakah mereka itu? Dengan membaca beberapa buku dan tulisan-tulisan para ahli, dapat diperoleh gambaran lebih jelas. Marilah mencoba membahasnya, dengan harapan agar kita mempunyai pegertian dan pemahaman yang lebih transparan. Dengan memahami dan mengerti, mudah-mudahan kita dapat menyikapi keberadaan Islam Garis Keras ini dengan lebih jelas dan dan matang.

Wahabi
Pendiri aliran Wahabi adalah seorang pemikir reformisme Islam, Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792). Lahir di Uyaynah-Najd sebelah timur Arab Saudi.. Dia beraliansi dengan Muhammad bin Saud (1710-1765) pangeran lokal di Najd, pendiri negara Saudi pertama pada 1744. Pada tahun 1819 negara ini dihancurkan oleh pasukan imperium Ottoman dari Mesir.

Wahabisme sebenarnya tetap marjinal sampai munculnya Abdul Aziz bin Saud, Raja Saudi pertama pada awal abad 20. Dengan didukung kekuatan dana dari harga minyak yang melonjak, Kerajaan Saudi membiayai aliran Wahabi ini dan disebar-luaskan ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

Pendukung aliran ini percaya mereka adalah gerakan reformasi Islam untuk kembali kepada ajaran Islam sesungguhnya, yang hanya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Hadist. Semua yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, mereka anggap sebagai bid’ah, syirik dan khurafat. Oleh sebab semua itu harus dibersihkan dan dilenyapkan. Dan mereka menganggap semua golongan atau aliran yang tidak sama dengan keyakinan mereka adalah kafir.

Paham Wahabi masuk pertama kali ke Indonesia pada tahun 1803 di Minangkabau Sumatra Barat. Tiga orang Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang baru pulang dari ibadah haji. Tiga orang haji tersebut terpengaruh oleh faham Wahabi ketika mereka berada Mekkah.

Mereka kemudian berusaha menyebarkan ajaran ini secara paksa di wilayah Minangkabau. Ke tiga haji itu dibantu oleh Tuanku Nan Renceh dan didukung kaum Paderi. Mereka memaklumkan jihad melawan kaum Muslim lain, yang tidak mau mengikuti ajaran mereka.

Yang mereka musuhi adalah adalah golongan Adat. Kaum Bangsawan Minang yang masih menjalankan praktik-praktik tradisional yang mereka anggap bertentangan dengan Islam. Akibatnya terjadilah perang saudara yang disebut sebagai Perang Paderi.

Peperangan semakin kisruh karena pada tahun 1821 Kaum Adat yang terdesak meminta bantuan Belanda. Perang Paderi itu baru berakhir pada penghujung 1830-an. Perang yang memakan korban begitu besar : jiwa, harta, persaudaran dan kebersamaan.

Di Indonesia  institusi  Salafisme adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Sebuah institusi pendidikan asing pertama di Indonesia, berdiri pada tahun 1980. Pengelolaannya ditangani langsung oleh Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud di Riyadh.

Ichwanul Muslimin
Hassan Ahmed Abdel Rahman Muhammed al-Banna lahir pada 14 Oktober 1906 di Mahmudiyya, sebuah desa delta Sungai Nil, barat daya Kairo. Ayahnya seorang imam, muazin, dan guru di masjid. Ayahnya itu yang mempengaruhi semangat Islam-nya. Selain pada kemurnian Islam ala mazhab Hambali, Banna muda juga terpengaruh pada ajaran Sufi dan sempat ikut perkumpulan Sufi bernama al-Hassafiya.

Pada bulan Maret 1928 Hassan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin di kota Ismailiyah, Mesir. Banna melahirkan bibit pemikiran tentang politisasi Islam dan peleburan ajarannya di dalam konstitusi sebuah negara modern. Hassan al Banna cenderung menolak nasionalisme. Bayangannya adalah persatuan muslim di seluruh dunia sebagai satu bangsa yang terjalin lintas negara atau beberapa analis menyebutnya “transnasional”.

Di Indonesia Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadikan Ichwanul Muslimin sebagai acuan gerakan politiknya. PKS mengadopsi pemikiran para pendiri termasuk Banna dan Qutb, manhaj dakwahnya, sampai dengan strategi meraih dukungan para pengikutnya.

Secara pemikiran antara Ikhwanul Muslimin dengan Wahabi sebenarnya saling bertolak belakang. Ikhwanul Muslimin berjuang melalui dalam wilayah politik, bahkan membentuk partai politik. Sedangkan Wahabi sebaliknya, mereka antipati terhadap partai politik.

Hizbut Tahrir
Syaikh Muhammad Taqiyuddin (1909-1977), lahir di Ijzim, Haifa dan meninggal di Beirut, 20 Desember 1977 adalah seorang ulama dari Yerusalem, pendiri partai politik Islam Hizbut Tahrir. Dia telah hafal Al Quran sebelum usia 13 tahun. Lulusan Al Azhar AsySyarif di Kairo Mesir. Namanya dinisbatkan kepada kabilah Bani Nabhan, yang termasuk orang Arab penghuni padang sahara di Palestina. Mereka bermukim di daerah Ijzim yang termasuk wilayah Haifa di Palestina Utara

Hizbut Tahrir bertujuan mengembalikan kaum muslimin untuk kembali taat kepada “hukum-hukum Allah” yakni “hukum Islam”, memperbaiki sistem perundangan dan hukum negara yang dinilai tidak “Islami”/”kufur” agar sesuai dengan tuntunan syariat Islam, serta membebaskan dari sistem hidup dan pengaruh negara barat.

Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk membangun kembali pemerintahan Islam warisan Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yakni “Khilafah Islamiyah” di dunia, sehingga hukum Islam dapat diberlakukan kembali.

Hizbut Tahrir sebagai gerakan Indonesia terjadi pertama kali pada tahun 1982-1983 melalui M. Mustofa, dan Abdurrahman Al-Baghdadi. M. Mustofa adalah putra pengasuh pondok pesantren Al-Ghazali Bogor, seorang ulama yang berpandangan modernis, dekat dengan DDII, Abdullah bin Nuh.

Mustofa adalah alumnus perguruan tinggi di Yordania. Sedangkan Abdurrahman berasal dari Libanon yang bermigrasi ke Australia yang kemudian tinggal di Indonesia. Selama ia belajar di Yordania, Mustofa ikut aktif dalam gerakan dakwah bawah tanah Hizbut Tahrir disana.

Pemerintah Indonesia secara resmi telah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia pada tanggal 19 Juli 2017. Pembubaran HTI dilandasi atas ideologi yang mereka bawa, pendirian negara syariah, dinilai tidak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Organisasi radikal HTI dianggap mengancam eksistensi demokrasi Indonesia.

Islam Garis Keras ini terorganisasi dengan baik dan didukung dengan dana besar dari luar. Mereka memasuki hampir semua kehidupan masyarakat. Melalui sekolah, pendidikan, kampus, organisasi dan politik. Juga melalui media pengajian-pengajian, masjid, pesantren, pelatihan dan training yag diadakan khusus. Termasuk pemberian bea-siswa untuk belajar Islam, di negara-negara Timur Tengah.

Dengan sistem tertutup mereka dengan perlahan tetapi pasti memasuki dan mengubah pandangan para pengikutnya. Dan yang lebih membahayakan adalah mereka berhasil mengubah akidah. Begitu halus caranya, sehingga tanpa sadar perlahan-lahan dan tidak terasa sudah menjadi bagian dari mereka.

Islam Nusantara
Sementara itu, kelompok tradisional merasa dan mengamati bahwa gerakan Islam Garis Keras ini berbahaya, karena tujuan akhirnya adalah mengubah Negara agar sepenuhnya dilenggarakan berdasarkan Islam, Khilafah Islamiah. Tidak ada toleransi bagi siapa saja yang yang tidak sama dengan keyakinan mereka, bahkan sesama muslim sekalipun!

Jika ini terjadi maka Perang Paderi dalam skala lebih besar dan masif bakal terjadi. Mengerikan sekali.

Padahal sejarah mengatakan bahwa Islam ketika masuk ke Indonesia adalah melalui jalan damai, bukan dengan kekerasan. Islam masuk dengan mengakomodasi budaya dan tradisi masyarakat setempat. Meskipun begitu tetapi akidah tetap tidak berubah, tetap Islam.

Sejarah mengatakan bahwa Islam mulai masuk sekira abad ke13. Dan ternyata Islam baru benar-benar berhasil memasuki hampir semua kehidupan masyarakat setelah 2 abad kemudian, pada jamannya wali-wali Allah. Wali-wali Allah menyebarkan Islam melalui pendekatan yang persuasif bukan konfrontatif.

Sunan Kudus melarang ummatnya menyembelih sapi, demi menghargai masyarakat Hindu pada waktu itu. Sunan Kalijaga membuat wayang dan membuat cerita carangan cerita-cerita wayang kulit dengan menyisipkanan pelajatan mengenai Islam.

Sunan Kalijaga membuat cerita bawa Puntadewa memiliki senjata yang sangat ampuh yaitu jimat Kalimasada. Jimat pamungkas yang dapat menyelesaikan masalah, setelah semua senjata tidak mempan. Anda tahu kan? Kalimasada sebenarnya adalah Kalimat Syahadat!

Berdasarkan kenyataan itulah kemudian diyakini diterima sebagai Islam yang damai, sejuk dan mencerahkan sebagaimana yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat di  Indonesia. Itu adalah Islam Nusantara. Imam Masjid Istiqlal mengatakan sebenarnya istilah yang tepat adalah Islam di Nusantara. Artinya Islam yang dianut dan dipraktekkan dengan cara-cara Nusantara.

Bukan Islam yang tidak mengenal kompromi, beringas, garang, marah, menggertak dan menakutkan. Tetapi Islam yang penuh toleransi, saling meng-hormati, saling mengasihi. Islam yang benar-benar rahmatan lil alamin dengan sesungguhnya.

Secara tidak langsung itu juga salah satu cara untuk membendung dan menetralisir pengaruh Islam Garis Keras di Indonesia. Jika tidak, pada suatu saat Indonesia bukan tidak mungkin akan terjadi chaos dan dilanda perang saudara seperti yang kita saksikan di negara-negara dimana aliran Islam Tansnasional ini memegang kendali pemerintahan.

Wallahu’alam bi sawwab.
Mohon maaf jika salah.

KMO : 14 Mar 2019

Sumber :
1.   Illusi Negara Islam : The Wahid Institute
2.  Wahabbisme, Sebuah Tinjauan Kritis : Hamid Algar
3.  Ikhwanul Muslimin di Empat Masa Kepresidenan Mesir : Chalfan Chairil
4.  Gerakan dan Pemikiran Hizbut Tahrir Indonesia : Azman
5.  Wahabisme, Transnasionalisme dan Gerakan-Gerakan Radikal Islam di Indonesia : Zaenal Abidin
6.  Konsep Khilafah Islamiyyah Hizbut Tahrir Indonesia : Nilda Hayati
7.  Wikipedia Ensiklopedia Bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *