Memaknai Nyepi

Hari ini umat Hindu Bali merayakan Hari Raya Nyepi. Peristiwa yang langka. Di seluruh dunia hanya ada di Bali. Sungguh suasana yang luar biasa. Saya beruntung pernah mengalami suasana itu. Tiba-tiba saja dalam sehari semalam, Bali yang selalu sibuk dan heboh itu, menjadi seperti mati. Tidak ada suara apa pun, dari alat buatan manusia. Sunyi … senyap!

Suasana yang begitu hening itu mirip seperti ketika berada di ketinggian di puncak-puncak gunung di sana. Angin yang bertiup membuat suara daun-daun pepohon gemerasak. Dan suara burung-burung yang berloncatan di ranting-ranting, pohon begitu jelas terdengar. Luar biasa …

Dalam makna lain menyepi berarti menyingkir dari kehiduan duniawi. Dan ternyata menyepi sudah dilakukan sejak dulu kala. Menyepi adalah cara manusia untuk mengenal diri dan mengenal Rabb-nya.

Nyepi dalam Islam lebih luas lagi maknanya. Bukan hanya sekedar sepi dari semua kegiatan duniawi, tetapi lebih dalam lagi. Islam mengenal khalwat dan uzlah.

Khalwat adalah mengosongkan hati dari segala hal selain Allah, dan yang melalaikan dari menghadap kepada-NYA. Sedangkan Uzlah, ialah menyingkirkan hati dari nafsu dan apa yang menjadi ajakan nafsu. Dua hal ini jauh lebih berat daripada hanya sekedar nyepi saja.

GUA HIRA

Pada tahun 610 seorang pria pilihan Allah, menjalankan uzlah dan khalwat di gua Hira di puncak Jabal Nur, jaraknya sekitar 6 kilometer dari Masjidil Haram. Pria itu bernama Muhammad. Beliau menyingkir dari kehidupan duniawi, merenung, kontemplasi dan mencari solusi atas keruntuhan moral yang sangat mengkhawatirkan di Makkah.

Saya membayangkan bagaimana kondisi Gua Hira itu ketika pada tahun 610 M? Sedangkan pada tahun 2011 saja, saya harus berjuang cukup keras untuk dapat naik Jabal Nur dan memasuki gua yang fenomenal itu. Bagaimana lagi situasinya pada tahun 610? Sungguh Muhammad benar-benar seorang lelaki pilihan Allah yang luar biasa.

Di tengah perenungan itu pada suatu malam 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610, Muhammad yang berusia 40 tahun; dikejutkan oleh turunnya wahyu yang pertama yang disampaikan oleh Malaikat Jibril :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS.  Al-Alaq ayat 1-5).

Sejak saaat itulah Muhammad diangkat menjadi utusan Allah Swt, dengan sebutan Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.

Khalwat dan uzlah adalah sarana untuk mencapai pencerahan spiritual tingkat tertinggi. Mudah diucapkan tetapi tidak semua orang mampu melakukannya.

Sebagai manusia biasa, barangkali memang sulit melakukan itu. Secara badaniah susah. Secara spiritual apalagi. Sangat lebih sulit. Mengapa sulit? Mari kita baca lagi definisi khalwat : “mengosongkan hati dari segala hal selain Allah, dan yang melalaikan dari menghadap kepada-NYA”! Berat!

Yang jelas segala sesuatu yang luar biasa, selalu diperoleh ketika seseorang menyingkir dari kegiatan duniawi dan mencari jati diri sendiri. Mencari ke dalam dirinya sendiri. Merenung, kontemplasi, semadi, dan mencari ke dalam ke Baitullah.

Baitullah bukan rumah Allah secara fisik yang berada di Masjidil Haram sana, melainkan rumah Allah yang berada di dalam hati. Yang paling dekat dengan kita, tetapi begitu jarang kita tengok dan masuki!

Astaghfirullah …
Mohon maaf jika salah.

KMO, 7 Maret 2019
KPA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *