Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati

Kamis 14 Februari 2019 saya sempat berkunjung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB)-Kertajati. Melalui Tol Cipali jaraknya sekitar 160 km dari Jakarta, dan membutuhkan waktu sekitar 3 jam 15 menit. Dari pintu exit Tol Kertajati sampai ke pintu gerbang masuk BIJB jaraknya sekitar 10 km.

Melewati pintu gerbang bandara dan memasuki bandara melalui jalan masuk utama, terasa bandara ini sungguh sangat luas. Walaupun memang belum ada bangunan di kiri dan kanan jalan, tetapi bandara ini memiliki cukup lahan untuk dikembangkan lebih pada suatu saat nanti.

Bandara yang megah ini diresmikan Presiden Joko Widodo pada tanggal 24 Mei 2017. Sejak dai awal pembangunanannya BIJB-Kertajati direncanakan untuk menggantikan Bandara Husein Sastranegara-Bandung. Bandara ini memiliki lahan seluas 873 Ha dan masih dapat dikembangkan untuk Aero-City sampai dengan 1.800 Hektar. Sangat luas.

Konsep Burung Merak menjadi tema Terminal. Lengkungan atap diibaratkan seperti bulu burung Merak. Diujung-ujungnya atapnya ada 10 lubang penerangan yang berupa mata ekor Merak, yang menempel di atap terminal. Mata merak itu menjadi sumber cahaya penerangan terminal.

Tarian Burung Merak, adalah tarian ucapan selamat datang. Begitulah BIJB Kertajati, sebenarnya diharapkan dapat menjadi pintu keluar dan masuk Propinsi Jawa Barat.

Bandara cantik ini sudah memiliki fasilitas lengkap. Memasuki Terminal Penumpang, fasilitasnya sangat memadai dan siap beroperasi penuh. BIJB sekarang sedang menyiapkan commissioning perpanjangan runway. Panjang runwaynya sudah 3.000 meter dan lebarnya 60 meter, siap untuk melayani penerbangan jarak jauh.

Terminal penumpangnya terdiri dari 3 lantai dan luasnya 92.000 M2 mampu menampung 5-6 juta penumpang. Pak Arif Budiman Sekretaris Perusahaan mengantarkan kami dan menjelskan segala sesuatu mengenai BIJB-Kertajati. Runway sekarang sudah diperpanjang menjadi 3.000 meter. Dan menunggu approval dari Dirjen Perhubungan Udara.

Dengan runway sepanjang 3.000 meter itu BIJB-Kertajati akan mampu melayani penerbangan umroh dan haji. Rencananya pada bulan April penerbangan itu akan segera direalisasikan.

Tower pengendali lalu lintas udaranya tingginya 60 m, tampak ramping. Tetapi ruangan ATC diatasnya cukup lega dan luas. View-nya bagus ke segala penjuru. Dari atas sini Runway 24 tampak dalam tahap penyelesaian perpanjanganannya, menjadi 3.000 meter! Lebarnya 60 meter.

Dan sekarang BIJB sedang berjuang keras, bagaimana menarik penumpang dan airline agar datang melalui Kertajati. Beberapa maskapai sudah mulai menerbangi BIJB Kertajati, hanya saja masih sering tidak ada penerbangannya. Dua flight Citilink berjadwal dari Surabaya dan Medan, sering batal. Juga dari Bandara Radin Inten Bandar Lampung dan Bandara Sepinggan Balikpapan. Wings Air terbang setiap Rabu dan Jumat dari Bandara Adisutjipto ke Kertajati.

Dari sisi teori sebuah bandara akan dapat berkembang dengan baik jika ada 3 unsur di sekitarnya, yaitu : Perdagangan, Pariwisata dan Investasi. Ke tiga unsur itulah yang akan menggerakkan perekonomian daerah. Selanjutnya bakal tercipta pertumbuhan ekonomi. Dan pertumbuhan ekonomi akan menggerakkan banyak sektor, salah satunya adalah akan membutuhkan transportasi sebagai daya dukungnya.

Pada saat saat ini ke tiga unsur tersebut tidak ada atau belum begitu kuat berada di sekitar BIJB-Kertajati. Dibangunnya BJB-Kertajati merupakan perwujudan dari adagium the ship follow the trade or the trade follow the ship. Perdagangan nantinya akan terbentuk setelah sebuah bandara dibangun. Dan inilah saatnya, semua fihak memikirkan bagaimana itu bisa terjadi. Sebab tidak mungkin itu hanya dilakukan oleh BIJB-Kertajati sendiri.

PARIWISATA

Sedangkan dari sisi Pariwisata, suatu daerah akan menarik wisatawan untuk datang berkunjung sangat dipengaruhi oleh 4A, yaitu Attraction, Accesibility, Amenities dan Ancilliary.

Yang pertama attraction atau atraksi adalah produk utama sebuah daerah atau destinasi wisata. Atraksi berkaitan erat dengan apa yang akan dilihat (what to see) dan apa yang akan dikerjakan (what to do). Apa yang menarik dari suatu daerah, sehingga wisatawan ingin melihat dan melakukan sesuatu di situ.

Sebagian besar atraksi ini berupa keindahan dan keunikan alam, budaya masyarakat setempat, peninggalan bangunan kuno, bangunan bersejarah, dan atraksi yang memang sengaja diciptakan misalnya : sarana permainan dan hiburan. Sebaiknya sebuah atraksi harus mempunyai nilai diferensiasi yang tinggi, unik dan berbeda dari daerah atau wilayah lainnya.

Ke dua adalah accessibility atau aksesibilitas adalah sarana dan infra-struktur untuk menuju destinasi. Ini dapat berupa akses jalan raya, kereta api, ketersediaan sarana transportasi dan fasilitas pendukungnya.

Ke tiga adalah amenity atau amenitas. Itu adalah fasilitas pendukung yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Amenitas berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi untuk menginap, hotel, motel dan juga restoran atau warung untuk makan dan minum. Termasuk dalam hal ini adalah fasilitas umum seperti  toilet, rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah dan sebagainya.

Yang ke empat adalah ancilliary. Ini  berkaitan dengan ketersediaan suatu organisasi atau petugas yang mengurus destinasi tersebut. Hal yang tampak sepele, tapi penting. Meskipun destinasi sudah mempunyai atraksi, aksesibilitas dan amenitas yang baik, tapi jika tidak ada organisasi atau personil yang mengatur dan mengurus, akibatnya para wisatawan kurang begitu antusias. Pada akhirnya destinasi itu akan terbengkalai dan tidak terurus dengan baik.

Dari sisi pariwisata sangat diaadari bahwa Kertajati dan sekitarnya masih langka dalam hal 4A tersebut diatas. Attraction, Accessibility, Amenities dan Ancilliary masih belum sepenuhnya ada. Hal ini pasti sudah menjadi perhatian pemerintah daerah, jika ingin menjadikan BIJB benar-benar menjadi pintu masuk Jawa Barat.

Yang sudah nyata dikerjakan untuk memberi aksesibilitas ini Pemerintah tengah menyelesaikan Proyek Jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Jalan tol sepanjang 60-an km ini akan menjadi penunjang BIJB-Kertajati.

Proyek ini dijadwalkan akan selesai pada akhir tahun 2019, atau paling lambat tahun 2020. Pada saatnya nanti Tol Cisumdawu ini akan menjadi akses penting BIBJ-Kertajati ini ke Bandung dan Cirebon.

Jalan Tol Cisumdawu akan membuat transportasi darat menuju ke BIJB-Kertajati akan semakin mudah dan cepat. Sekarang kota terdekat Majalengka jaraknya 30 km. Dari BIJB ke Cirebon = 65 km (1 jam). Ke Bandung = 175 km (2,5 jam). Ke Jakarta = 160 km (3 jam). Ke Tasikmalaya = 115 km (3 jam 15 menit).

Pemerintah daerah mesti bekerja keras bagaimana menciptakan attraction. Bagaimana membuat wilayah di sekitar Kertajati menjadi unik dan menarik sehingga memiliki daya tarik yang membuat orang-orang berdatangan untuk mengunjunginya. Jika ini terjadi, amenitas dan ancilliary akan secara oroatis mengikuti.

HUSEIN SASTRANEGARA

BJB-Kertajati dahulu dibangun dengan tujuan menggantikan Bandara Husein Sastranegara yang sudah tidak memadai lagi, karena letaknya sudah berada ditengah kota, di tengah kepadatan kota dan penduduk.

Dan sekarang Bandara Husein Sastranegara masih beroperasi penuh. Jika masih begitu, rasanya BIJB-Kertajati akan sulit menjadi pilihan untuk menggantikan bandara yang walaupun kecil namun sangat strategis di Bandung itu.

Sebab semua 4A attraction, accessibility, amenities & ancilliary  sangat mudah diperoleh di Bandung. Sudah tentu para wisatawan, pelancong dan pebisnis lebih suka menggunakan Bandara Husein Sastranegara, daripada BIJB-Kertajati.

Jika hanya mengandalkan mekanisme pasar, rasanya BIJB-Kertajati akan sulit mengambil alih Husein Sastranegara. Harus ada keputusan strategis untuk mengalihkan Bandara Husein Sastranegara ke BIJB-Kertajati. Jika mau total, Bandara Husein Sastranegara mesti ditutup sepenuhnya! Kemudian semua penerbangan sipilnya dialihkan ke BIJB-Kertajati. Jika tidak ya sebagian demi sebagian, penerbangannya mulai dialihkan, sebelum pada saatnya nanti semua dialihkan.

BIJB Kertajati barangkali akan menjadi contoh bagaimana sebuah bandara baru dibangun yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh wilayah dimana bandara itu berada. Dan juga pengaruhnya dan atau dipengaruhi oleh bandara pengumpan (feeder) yang berada di dekatnya.

Ini menjadi kasus seperti halnya Bandara baru APT. Pranoto di sebelah utara Samarinda yang mempengaruhi Bandara SAMS Sepinggan-Balikpapan, dan juga Bandara baru NYIA-Kulonprogo terhadap Adisutjipto-Yogyakarta.

Menarik memperhatikan bagaimana bandara-bandara itu secara tidak langsung saling berebut penumpang dan airline, agar mereka mau terbang ke bandaranya.

BIJB-Kertajati menunggu dan berusaha menciptakan aksesibilitas. Kertajati tidak mungkin sendiri, butuh pemikiran dan kerja bersama dari semua yang fihak bekepentingan. BIJB-Kertajati seperti setengah hati. Tidak ingin mematikan Husein Sastranegara, tetapi juga tidak bisa hidup jika tidak ada pesawat yang datang ke sana. Sebuah dilema yang mesti diputuskan pada waktu yang tepat.

Mudah2an bandara cantik ini tidak akan merana, justru akan semakin cantik dan menarik. BIJB-Kertajati masih membutuhkan dukungan dan pemikiran untuk menjaga eksistensi …

Heru Legowo
Mantan GM Ngurah Rai Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *