ASEAN SAM

ASEAN Single Aviation Market (ASEAN-SAM) dimaksudkan untuk meningkatkan konektivitas domestik & regional, dengan mengintegrasikan jaringan produksi dan memperbesar perdagangan regional. Dengan cara memberi ijin airline anggota ASEAN untuk terbang bebas di dalam wilayah ASEAN, melalui liberalisasi pelayanan dalam suatu pasar transportasi tunggal yang beraneka ini.

Yang menjadi topik dan concern pada ASEAN SAM adalah freedom of the air ke 3, 4, 5 dan 7 yang ilustrasinya adalah sebagai berikut :

Melihat gambar tersebut, wajarlah jika connectivity menjadi hal penting. Connectivity berarti ketersediaan armada pesawat dan crew bersama dengan semua pendukungnya. Siapa yang siap, maka dialah yang akan menjadi pilihan pada penumpang pengguna jasanya. Media untuk kompetisi airline adalah kualitas pelayanan dan harga tiket.

Airline dengan pelayanan yang baik dan harga tiket yang terjangkau pasti akan menjadi pilihan. Pertanyaannya adalah mampukah airline kita bersaing dengan airline dari negara-negara ASEAN? Menurut INACA pangsa pasar domestik kita 4X lipat dari pasar Internasional. Oleh sebab itu airline mesti memikirkan dengan seksama bagaimana mempertahankan pasar domestik, dan sekaligus bersaing dengan airline asing untuk berbagi pasar internasional.

Di tengah tahun politik ini, perhitungan mesti cermat. Rencana Lion Air untuk membeli pesawat-pesawat baru adalah dalam rangka — salah satunya — untuk bersaing salam pasar regional ini.

Jika airline kita tidak siap dan tidak memiliki armada yang memadai, sudah barang tentu bakal kalah bersaing. Lalu kita harus rela ketika bandara-bandara kita menjadi pasar yang empuk. Bandara kita menjadi ladang menangguk keuntungan dari airline regional.

Dari sisi bandar udara, pemerintah sebenarnya sudah menetapkan 5 bandara untuk mengahadapi open sky policy ini. Ke 5 bandara itu adalah : Kualanamu, Soekarno-Hatta, Juanda, I Gusti Ngurah Rai dan Sultan Hasanudin-Makassar. Secara kualitas dan pelayanan ke lima bandara itu siap untuk menampung airline regional.

Tetapi sekarang beberapa daerah membangun bandar udara. Lalu meminta agar bandar udara di wilayahnya dan ditetapkan sebagai bandara internasional, contoh : Silangit, Banyuwangi, Radin Inten Lampung. Akibatnya konsep Hub & Spoke, yang semestinya terdiri dari Bandara Pengumpan, Bandara Pengumpul dan Bandara Hub; tidak diberlakukan lagi dengan konsisten.

Sekarang dari bandara yang sebenarnya bandara pengumpan, dapat langsung dapat terbang ke Singapura, tanpa harus melalui Soekarno-Hatta. Istilahnya point to point. Lama-kelamaan Bandara Soekarno-Hatta tidak lagi menjadi Bandara Hub. Justru malah Bandar Udara Changi di Singapura yang berfungsi sebagai Hub-nya bandara-bandara di Indonesia.

Semestinya jangan terlalu banyak bandara kita yang melayani pe-nerbangan internasional. Jika airline kita tidak cukup mampu untuk bersaing, maka bandara-bandara itu menjadi sasaran empuk. Dan yang menikmati kue pasar penumpang itu adalah airline regional. Airline kita jika tidak siap, bakal hanya dapat gigit jari saja.

Dari sisi lalu lintas udara Airnav sedang akan dalam proses mengerjakan proyek IMANS Indonesia Modernization Air Navigation System. Ini dalah peningkatan dan kualitas sistem pengendalian lalu lintas udara, dalam rangka mengantisipasi  pertambahan jumlah penerbangan dan membuat ruang udara dapat digunakan lebih efektif dan efisien.

Selain itu meningkatkan Runway Capacity melalui peningkatan Runway Occupancy Time. Dua hal itu akan meningkatkan penggunaan ruang udara lebih optimal, sekaligus juga meningkatkan jumlah pergerakan pesawat udara di bandar udara.

Semoga para pemangku kepentingan segera memersiapkan diri dan bekerja optimal untuk menjadi bagian dari ASEAN SAM ini.

KMO, Feb 2019
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *