Bandara Ngurah Rai Bali

Bandara I Gusti Ngurah Rai adalah pintu masuk ke Bali. Sekarang terus berbenah diri dalam segala aspek pelayanannya. Di pintu kedatangan setelah melalui Candi Bentar anda akan melihat tulisan biru The last paradise in the world. Berdiri sejenak disitu, energi positif menyeruak seperti mengucapkan selamat datang kepada anda di Bali. A little feeling of paradise seakan menyentuh perasaan dan membuat anda merasa sudah berada di tepinya Bali.

Melalui pintu masuk terminal, udara dingin dan segar menyentuh dan menurunkan emosi. Ornamen dan tata letak di terminal menarik perhatian dan sejenak menahan langkah sehingga tidak terburu-buru untuk mengambil bagasi. Beberapa orang sibuk mengulurkan handphone-nya dan temannya mengambil foto, mereka bergantian dan bergaya seperti lazimnya sambil mengangkat tangan dan menaikkan jempolya. Selamat datang di Bali. Dan sebentar lagi fotonya itu sudah pasti akan tersebar di WA group-nya. Terus berjalan ke arah pengambilan bagasi. Di suatu sudut dinding ada foto pantai dengan perahu yang sedang bersandar di tepinya, dan ada tulisan yang membuat penumpang yang baru datang kembali
bergantian foto di depannya : Welcome to Bali.

Menunggu sebentar dan bagasi pun keluar dari conveyor belt. Lalu berjalan ke luar terminal. Di depan pintu keluar terminal, puluhan guide berdiri di pagar pembatas stainless steel dengan memegang tulisan nama-nama tamu mereka. Deretan guide yang  berdiri  itu menghalangi pandangan ke luar terminal. Apa boleh buat. Sebenarnya jika mereka tidak berada disitu, pandangan ke luar ke sekeliling terminal dapat memberikan impresi tersendiri. Ini membuat perasaan yang semula sudah nyaman menjadi kemrungsung. Keluar dari pagar pembatas stainless steel itu, puluhan taksi seperti berebut menawarkan jasanya. Beberapa penumpang tampak menolak tawaran, mereka dan terus berjalan mencari jemputannya sendiri.

Saya beruntung bertemu teman-teman dan yang mengantarkan saya melihat lebih bandara yang cantik ini. Dan juga mendengar penjelasan mengenai Proyek Pengembangan Fasilitas Bandara Internasiona I Gusti Ngurah Rai. Dan ketika akhirnya harus mengakhiri kunjungan ke Bali, selalu merasa begitu cepat harus meninggalkan Bali, the last paradise in the world

Sore hari itu setelah turun dari mobil, langsung menuju ke pintu keberangkatan domestik. Dulu terminal ini digunakan untuk memproses keberangkatan internasional. Ada tersedia 3 Security Check Point 1 sehingga penumpang lebih leluasa memilih mana yang masih kosong. Walaupun demikian pada saat peak hours mereka sibuk sekali. Harus memeriksa dan mengawasi rata-rata lebih dari 30 ribuan orang dalam sehari.

Melewati SCP 1 para penumpang mencari check in counter-nya masing-masing. penumpang Garuda ke sisi sebelah kiri, lainnya ke sebelah kanan. Sistem untuk memproses penumpang yang dimiliki Garuda tidak dapat digunakan airline lain, bahkan Citilink yang anak perusahaan Garuda juga tidak dapat menggunakannya. Semuanya ada 19 counter check-in.

Sistem Altea yang digunakan Garuda bukanlah sistem multi-user, sehingga hanya dapat dipakai khusus oleh Garuda. Sore itu jumlah check-in counter yang disebelah sisi kanan, semuanya ada 42 counter dan sebagian besar terisi dan sibuk menangani penumpang yang sedang melakukan check-in. Sementara di sisi check-in counter Garuda, terlihat sepi.

Dari sisi penumpang dan pengelola bandara kondisi ini menimbulkan kesenjangan yang mesti dicari solusinya. Pada saat low hours memang tidak terlalu menimbulkan masalah, tetapi pada saat peak hours, berpotensi membuat crowded check-in area. Counter di sebelah sisi kanan dipenuhi banyak penumpang yang berjejal, sementara yang di sebelah kiri kosong. Pasti tidak mudah menjelaskan kepada penumpang yang tidak mengerti, mengapa di sebelah kanan penumpang berjejal di depan check-in counter, tetapi yang di sebelah kiri kosong. Jadi uraian ini mudah-mudahan dapat sedikit menjelaskan tentang itu.

Sekarang check-in di counter, antri sedikit tidak apalah. Semestinya di depan sebelum masuk ke terminal ada fasilitas self check-in. Salah sendiri tidak menggunakan fasilitas itu. Counter Citilink sore itu penuh ada 2 flight hampir bersamaan ke Jakarta. Saya iseng-iseng bertanya kepada petugas check-in, menurut dia rata-rata load factor-nya lebih dari 80%. Wah bagus sekali. Ternyata fasilitas  self check-in di luar sana masih sedikit sekali digunakan. Barangkali mesti diadakan sosialisasi lebih luas bagaimana menggunakannya, sehingga beban petugas di dalam terminal lebih berkurang. Dan proses penumpang bisa dilakukan lebih cepat. Sebentar menunggu, dan petugas check-in tersenyum manis sambil menyerahkan boarding-pass. Dia menyebut nomor boarding-gate dan waktu boarding, sambil berpesan agar jangan terlambat.  Baiklah.

Berjalan naik escalator ke lantai dua. Melalui pemeriksaan PSC, setelah itu melewati pemeriksaan boarding-pass dan mencocokkan identitas penumpang. Sesudah itu adalah pemeriksaan di Security Check Point 2. Semua benda yang mengandung logam harus di lepas tidak terkecuali ikat pinggang, kemudian dimasukkan mesin melalui X-Ray. Bagaimanapun diakui atau tidak, pemeriksanaan ini membuat penumpang kesal. Tetapi demi keamanan dan keselamatan, pemeriksaan security yang berlapis ini harus dilakukan dengan serius dan cermat. Apalagi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah pernah diaudit oleh Badan Dunia Transportation Security Agency (TSA) dan dinyatakan lulus. Harus diakui itu adalah sebuah reputasi tersendiri dapat lolos dari audit TSA.

Beres sudah melewati pemeriksaan security yang ketat. Para penumpang memasuki terminal penumpang. Dan terminal ini memberi banyak pilihan untuk menghabiskan waktu menunggu boarding. Banyak toko yang menyediakan berbagai macam pilihan untuk oleh-oleh, jika barangkali tidak sempat membeli di luar. Menuju ke boarding area, di tengahnya ada sebuah taman bunga yang segar. Bunga-bunganya segar dan tampak terpelihara dengan baik. Tentu saja taman ini menjadi sasaran berfoto dan berswa-foto.

Saya lebih suka melihat ke luar. Dari dinding kaca terminal pandangan luas. Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) tampak di kejauhan. GWK ini terletak si Bukit Ungasan dan telah diselesaikan, setelah 28 tahun sejak perancangan oleh pematungnya I Nyoman Nuarta (67). Presiden Joko Widodo meresmikan Patung GWK yang tingginya 121 meter ini pada tanggal 22 September 2018 yang lalu. Patung GWK adalah patung tembaga dan patung tertinggi ke tiga di dunia. Sayang saya tidak sempat melihat ke sana, karena bersamaan waktunya dengan penyelenggaraan Konferensi IMF, maka dengan alasan security GWK ditutup untuk umum.

Sebuah Tower baru tingginya lebih dari 30 meter, berdiri tegak dan megah di selatan runway. Dibelakangnya pantai jimbaran tampak biru, menyejukkan mata. Dan di seberang apron di tepi pantai di terminal di tepi pantai di sebelah runway, Proyek Pengembangan Fasilitas Bandara I Gusti Ngurah Rai tampak terus  berjalan.  Beberapa crane bergerak naik turun dan mobil pengangkut pasir tampak mondar-mandir. Proyek ini sedang melakukan reklamasi pantai Jerman. Yang sudah selesai sesuai target adalah tambahan 6 buah parking stand dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk parkir pesawat widebody milik negara-negara asing.

Tidak menunggu terlalu lama, dari PA system terdengar panggilan untuk boarding. Hanya saja boarding-gate-nya pindah dari 3 ke 5. Di pintu di cek kembali boarding-pass dan identitas penumpang. Lalu semua penumpang diangkut naik bus apron ke pesawat. Dan benar juga kata petugas check-in tadi, kursi terisi penuh tinggal beberapa saja yang kosong. Sebenta