Outlook Aviasi 2019

Menatap tahun 2019 akan segera kita jalani. Seperti halnya bisnis yang lain, bisnis dunia penerbangan juga menghadapi situasi yang berkembang sesuai kondisi perekonomian di tahun politik. Semua bakal menunggu, bagaimana setelah April nanti, karena keputusan politik akan menentukan banyak hal.

Yang pasti, demand transportasi pasti berkembang. Masyarakat pengguna jasa bandara semakin mencari transportasi yang aman, nyaman cepat dan selamat. Dan ini sebuah tantangan yang akan terus ada dan menuntut untuk dipenuhi oleh dunia penerbangan. Marilah kita mencoba mengira-kira apa yang akan dilakukan para pelaku dunia penerbangan pada tahun 2019 ini.

AIRPORT

Pertama dari sisi bandar udara. Pemerintah dan BUMN berusaha keras untuk dapat membangun bandar udara, agar tidak ada lagi kekuragan kapasitas lack of capacity. Tetapi pada kenyataannya beberapa bandara  malah tidak dimanfaatkan dengan baik, alias under capacity. Dua hal ini membutuhkan pemecahan yang cermat dan akurat.

Sebuah bandara akan menjadi akses masuk ke wilayah dan menjadi pintu masuknya kegiatan ekonomi dan pariwisata. Ternyata menemukan matching antara demand dan supply bukanlah usaha yang mudah.

Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) – Kertajati menjadi kasus yang menarik. Setelah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2018 yang lalu, sampai sekarang belum menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Beberapa kondisi disebutkan yang menyebabkan BIJB, belum dapat beroperasi dengan optimal. Yang paling sering disebut adalah karena Bandara Husein Sastranegara masih tetap beroperasi, sehingga para penumpang dan pengguna jasa bandara enggan beralih ke BIJB. Padahal salah satu yang mendorong dibangunnya BIJB adalah menggantikan Bandara Husein Sastranegara.

Mengapa penumpang tidak beralih ke BIJB? Alasannya masuk akal. Selain BIJB jauh, juga semua kemudahan dan places of interest yang menarik berada di Bandung, sehingga lebih dekat dan mudah dijangkau. Untuk menikmatinya membutuhkan waktu lebih lama, jika mendarat di BIJB.

Hal yang serupa juga terjadi di Kalimantan Timur. Bandar Udara APT Pranoto sekitar 30 km di timur laut Samarinda, juga sudah diresmikan Presiden pada tanggal 25 Oktober 2018. Sampai sekarang belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh airline. Garuda sudah mengantongi ijin terbang dari Bandara Soekarno-Hatta langsung ke Bandara APT Pranoto, semoga saja ada penerbangan yang rutin ke sana. Akses ke bandara ini bersatu dengan jalan trans Kalimantan yang menuju ke Bontang, dan beberapa waktu mengalami banjir yang cukup parah.

Pengaruh dengan beroperasinya bandara baru ini, membuat Bandara SAMS Sepinggan mesti bersiap-siap berbagi porsi dengan Bandara APT Pranoto. Sebagian penerbangannya akan beralih ke sana, padahal sampai sekarang Sepinggan juga belum optimal. Setelah pembangunan terminal baru, kapasitasnya berlebih dan belum dimanfaatkan sepenuhnya. Sementara hampir semua bandara di Jawa sudah mengalami over capacity, Sepinggan justru masih under capacity.

Dari fenomena tersebut tampaknya PT. Angksa Pura I mesti lebih berhati-hati dengan Bandara Baru Kulonprogo New Yogyakarta International Airport (NYIA). Bandara baru ini sedang dalam proses pembangunan dan direncanakan akan beroperasi pada bulan April 2019 mendatang. Bagaimana agar pada saatnya nanti NYIA tidak mengalami hal yang sama seperti BIJB-Kertajati. Jika Bandar Udara Adisutjipto nantinya tetap beroperasi, maka NYIA akan mengalami hal yang sama dengan BIJB-Kertajati. Mudah-mudahan saja tidak begitu.

Dahulu ada konsep mengenai penataan operasional bandar udara, yang disebut sebagai hub and spoke. Ada bandara pengumpan, bandara pengumpul dan bandara hub. Sekarang rasanya konsep hub and spoke itu sudah tidak diberlakukan dengan konsisten. Masing-masing daerah seakan berlomba membangun bandara. Lalu berusaha dan menuntut agar bandaranya menjadi bandara internasional.

Akibat dari itu Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tidak lagi berfungsi sebagai hub. Sekarang dari masing-masing kota besar daerah ada penerbangan langsung ke Singapura. Dengan kondisi semacam itu bukan Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi hub. Malah secara tidak langsung Bandar Udara Changi berfungsi menjadi hub dari bandara-bandara di Indonesia. Jadi yang menangguk keuntungan adalah Bandara Changi Singapura, bukan Soekarno-Hatta. Apaboleh buat.

Dari sisi bandara yang membanggakan hati adalah penghargaan internasional yang diterima beberapa bandara Indonesia. Penghargaan itu hasil dari survei yang dilakukan oleh Airport Council International pada 2017. Seluruhnya ada 317 bandara yang turut serta dalam penilaian Airport Service Quality itu.

Bandara I Gusti Ngurah Rai mendapat penghargaan The world best airport untuk bandara berpenumpang 15-25 juta per tahun. Bandara Juanda memperoleh penghargaan sebagai  The 3rd world best airport kategori bandara dengan penumpang 15-25 juta.

Bandara SAMS Sepinggan mendapat penghargaan sebagai The 2nd best airport by size untuk kategori bandara dengan penumpang 5-15 juta per tahun. Dan Bandara Husein Sastranegara memperoleh The 3rd world best airport by size, dari total 60 bandara dalam kategori Best Airport by Size dalam survei Airport Service Quality.

Dari sisi manajemen pengelolaan bandar udara, PT. Angkasa Pura I menetapkan visi baru 2023 : Connecting The World beyond Airport Operator with Indonesian Experience. Ini adalah visi yang cukup spektakuler. Itu berarti PT. Angkasa Pura I mengambil risiko dengan berencana akan melakukan investasi jauh lebih besar. Tujuannya agar tidak ada lagi bandara yang tertinggal, no airport left behind dan menghindari kekurangan kapasitas.

Menurut Faik Fahmi Direktur Utama PT. Angksa Pura I itu merupakan happy problem. Bagaimana agar semua bandara mampu menampung peningkatan pertumbuhan traffic.

Selain itu PT. Angkasa Pura II juga berhasil meraih tiga penghargaan pada Stevie Awards 2018 yang merupakan ajang penghargaan bisnis tertinggi di dunia. Melalui inovasi serta digitalisasi layanan, PT. Angkasa Pura II berhasil meraih Gold Stevie Winner untuk aplikasi digital internal dalam kategori Best New Product or Services Of The Year-Content Media and Monitoring Solution.

Penghargaan ini semoga menjadi pemacu dan pemicu untuk bekerja lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa bandara, pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

Direktur Utama PT. Angkasa Pura II Awaluddin, menjelaskan bahwa penghargaan Stevie Awards 2018 semakin mempertegas kapabilitas AP II sebagai World Class Airport Operator.

Pertaruhannya adalah dalam pembangunan runway ke tiga Bandara Soekarno-Hatta. Itu bukan pekerjaan mudah. Membebaskan tanah yang sudah dipadati penduduk, sungguh masalah pelik. Ini juga termasuk happy problem juga barangkali. Runway ke tiga begitu dinantikan, sebagai antisipasi untuk mengurai kepadatan lalu lintas pesawat di darat dan di udara. Pembangunannya sudah dimulai, mudah-mudahan tidak ada rintangan yang berarti sehingga dapat beroperasi untuk mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas udara.

AIRLINE

Dari sisi airline kecelakaan Lion Air JT-610 yang lalu telah mencoreng wajah dunia penerbangan Indonesia. Dan sudah semestinya menjadi bahan evaluasi bagi semua fihak yang berkaitan dengan hal itu.

Data Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT 2012-2018, menunjukkan keselamatan penerbangan di Indonesia sebenarnya semakin baik, seperti tampak pada tabel ini.

Sementara itu dari sisi konektivitas, hampir seluruh penjuru tanah air sudah dapat diterbangi dengan baik, oleh semua pesawat berjadwal maupun charter. Connectivity berjalan dengan baik langsung point to point, tidak perlu harus banyak transit.

Penerbangan internasional juga mulai meningkat, ditandai dengan dengan banyaknya penrvanga charter baik dari dari ke China juga ke Arab Saudi dalam penerbangan umroh dan Haji.

Kemudian dari sisi manajemen, peristiwa Sriwijaya yang beralih dan berada dibawah manajemen Garuda Indonesia merupakan fenomena yang menarik. Pada tanggal 9 November 2018 Citilink, anak perusahaan Garuda Indonesia, ditugasi untuk memegang kendali operasional Sriwijaya Air Group yang terdiri dari Sriwijaya Air dan NAM Air. Aliansi itu diwujudkan dalam bentuk Kerja Sama Operasi (KSO), yang waktunya belum ditentukan sampai kapan berakhirya.

Di Indonesia ada 5 airline utama melayani rute penerbangan domestik yakni Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, dan Sriwijaya Air. Data
tahun 2017 dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, menyatakan pangsa pasar Lion Air adalah sebesar 34%, Garuda Indonesia 20%, Citilink 13%, Batik Air 10%, dan Sriwijaya Air 10%.

Bergabungnya Sriwijaya ke dalam Kerjasama Operasi dengan Garuda Group semoga akan membuat pelayanan kepada penumpang semakin baik. Dampak lanjutannya penjualan tiket yang murah, diprediksi akan menjadi berkurang.

AIRNAV

Kemudian mengenai Runway occupancy time. Semua usaha sedang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas runway. Direncanakan Bandara Soekarno-Hatta akan mencapai angka 80 gerakan pesawat take off dan atau mendarat per jam. Ini pasti bukan menjadi concern Airnav semata. Kolaborasi dengan pihak bandara, airline dan ground operations menjadi syarat agar angka itu dapat direalisasikan.

Dan program besar yang sedang akan berlangsung adalah rencana Airnav untuk memodernisasikan sistem pengelolaan lalu lintas udara. Proyek Indonesia Modernization of Air Navigation Services (IMANS) segera akan berjalan. Dengan IMANS direncanakan akan meningkatkan kapabilitas dan kualitas pengendalian lalu lintas udara.

Ini juga menunjukkan bahwa Indonesia cukup bersiap mengambil alih dari Singapura pengendalian lalu lintas udara di sektor A, B dan C; bila watunya nanti tiba. Jakarta Air Traffic Service Control sudah mampu untuk mengambil alih. Terbukti sekarang ini semua penerbangan internasional yang melintas wilayah kita dapat dilayani Airnav dengan baik.

Selain itu juga memungkinkan collaborative decision antara Airnav dan Airline, misalnya kapan pemberian push back release time, start engine clearance disesuaikan dengan kepadatan traffic. Ini penting untuk menghindari delay kepanjangan karena padatnya lalu lintas pesawat.

OTORITAS PENERBANGAN

Dengan semakin kompleksnya masalah dunia penerbangan, kiranya perlu didukung dengan regulasi yang lebih ketat dan akurat. Yang paling nyata dibutuhkan adalah keberadaan para inspector yang mesti mengawasi semua pelaksanaan peraturan dan SOP. Begitu banyaknya masalah, sehingga secara jumlah dirasakan jumlah inspector ini dirasakan sangat kurang.

Menjalankan fungsi sebagai inspector ini membutuhan waktu, sedangkan mereka juga masih harus bekerja pada bidang tugasnya masing-masing. Padahal untuk mencetak inspector yang mempunyai kualifikasi yang cukup juga butuh waktu yang tidak sebentar.

Mantan KSAU Marsekal (Purn) Chappy Hakim pada acara peluncurana bukunya yang ditulis bersama DR. Supri Abu  tanggal 17 Desember yang lalu, mengusulkan untuk membentuk Dewan Penerbangan dan Antariksa atau Menteri Koordinator Penerbangan. Memperhatikan begitu kompleksnya masalah penerbangan, rasanya usulan beliau ini mulai menemukan esensinya. Hal ini mengingat begitu besar masalah penerbangan yang harus dikerjakan secara komprehensif dan terpadu.

Mudah-mudahan dunia penerbangan semakin baik, spesifik, laik dan apik. Tentu saja sangat disadari begitu banyak yang harus diselesaikan, tetapi dengan konsistensi dan komitmen bersama mudah-mudahan semua para pemangku kepentingan bekerja semakin professional. Dan semoga tahun 2019 memberi harapan yang lebih baik bagi kita semua.

KMO : Senin Kliwon 24 Des 2018
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *