De Tjolomadoe

Senin 20 Januari 2019. Saya ikut rombongan yang dengan penuh semangat ingin melihat kembali bekas Pabrik Gula Colomadu di Kartasura. Bekas pabrik gula ini sekarang sudah direvitalisasi dan menjadi De Tjolomadoe. Dan kini menjadi destinasi wisata favorit bagi yang berkunjung ke Surakarta.

Kami datang bersama rombongan dengan naik bus dan penuh dengan semangat, ternyata harus kecele. Hari Senin De Tjolomadu tutup. Sungguh menjengkelkan! Tetapi ya salah sendiri, mengapa nggak mencari informasi lebih dulu.

Untuk mengobati kecewa mengintip saja dari kaca pintu dan jendela, berusaha melihat dalamnya. Lalu berfoto-ria dari luar bangunan bekas pabrik gula. Kesannya megah dan gagah, apalagi jika melihat angka di dinding bangunan, pabrik gula ini dibangun tahun 1861. Luar biasa …

Sebab penasaran lalu saya browsing mencari informasi tentang Colomadu. Pabrik Gula Colomadu ini berdiri atas inisiatif KGPAA Mangkunegara IV. Ketika itu Mangkunegaran tidak mampu mendapatkan kembali perkebunan yang telah disewa oleh pengusaha Eropa. Mangkunegara IV lalu berpikir untuk mengganti sistem tanah lungguh para abdi dalem dan pejabatnya, dengan sistem gaji.

Tanah lungguh itu dikembangkan menjadi perkebunan yang ditanami tanaman komoditas ekspor. Salah satunya menanam tebu dan mendirikan pabrik gula. Ini sungguh pemikiran yang ahead of time, sebuah quantum leap dari KGPAA Mangkunegara IV.

Tahun 1861 Mangkunegara IV minta ijin kepada Residen Surakarta Niuwenhuysen, untuk mendirikan pabrik gula. Setelah disetujui Mangkunegara IV meminta R. Kampf seorang Jerman untuk mengepalai pendirian pabrik gula. Biayanya f 400.000 diperoleh dari hasil perkebunan Mangkunegaran. Lokasinya di Desa Krambilan distrik Malang Jiwan di sebelah utara Kartasura.

Pada hari Minggu 8 Desember 1861 peletakan batu pertama oleh R. Kampf. Pabrik gula itu diberi nama Colomadu, artinya gunung madu. Nama itu mengandung harapan agar butiran gula pasir dalam jumlah besar, sehingga menyerupai gunung dan menjadi simpanan kekayaan Mangkunegaran.

Pabrik Gula Colomadu terus berproduksi dengan baik dan menghasilkan pendapatan yang baik. Dengan keberhasilan PG Colomadu, Mangkunegara IV berencana membangun pabrik gula yang lain.

Pada tahun 1871, berdirilah Pabrik Gula Tasikmadu. Pabrik ini berada di daerah Tasikmadu, Karanganyar. Jadi ada dua pabrik gula yang menopang perekonomian Mangkunegaran.

Pada 1942, Jepang masuk ke Indonesia. Sistemnya berubah. Rakyat diharuskan menanam dan mengembangkan padi. Produksi tanaman tebu berkurang drastis. Dan pasokan tebu ke pabrik gula berkurang. Kemudian PG Colomadu diambil alih oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Oleh karena berkurangnya pasokan tebu, Colomadu tidak dapat bertahan dan tidak mampu mempertahankan produktivitas.

Tahun 1998 resmi Pabrik Gula Colomadu berhenti beroperasi. Kemudian produksinya dilimpahkan ke Pabrik Gula Tasikmadu, yang masih beroperasi sampai dengan saat ini.

Setelah 136 tahun beroperasi (bekas bangunan) Pabrik Gula Colomadu itu, sekarang menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Surakarta. Namanya pun diubah menjadi De Tjolomadoe. Di sini para pengunjung diajak mengenang kembali perjalanan panjang pabrik gula di Jawa Tengah itu. Sayang saya belum sempat masuk ke dalamnya. Lain kali saya akan berusaha untuk datang kembali.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara (1853-1881) adalah master mind dari semua keberhasilan itu. Pada masanya Pura Mangkunegaran mengalami kejayaan. KGPAA Mangkunegara IV nama kecilnya R.M. Sudira adalah seorang yang cerdas. Tidak pernah mendapat pendidikan formal. Ayahandanya melatih dan memberi pelajaran non formal. Guru asuhnya adalah DR. J.F.C Gericke dan C.F. Winter yang diminta ayahandanya untuk menjadi gurunya. Barangkali dari mereka pemikirannya berkembang luas dan tidak biasa.
KGPAA Mangkunegara IV menulis Serat Wedhatama. Beliau juga membuat komposisi gamelan. Salah salah satu karyanya adalah Ketawang Puspawarna. Pada tahun 1977 komposisi gamelan Ketawang Puspawarna, dibawa pesawat tak berawak Voyager ke luar angkasa.
KGPAA Mangkunegara IV wafat pada tahun 1881 dan dimakamkan di Girilayu.

 

     

Serat Wedhatama  :  Pangkur

Mingkar mingkuring angkara
Menghindar dari angkara
Akarana karenan mardi siwi
Bila akan mendidik putera
Sinawung resmining kidung
Dikemas dalam keindahan syair
Sinuba sinukarta
Dihias agar tampak indah
Mrih kretarta pakartining ngèlmu luhung
Agar tujuan ilmu  luhur tercapai
Kang tumrap ning tanah Jawa
Yang berlaku di tanah Jawa
Agama ageming aji
Agama pegangan para pemimpin

Serat Wedhatama  :  Pucung

Ngèlmu iku kalakoné  kanthi laku
Ilmu itu bermanfaat bila dilaksanakan
Lekasé lawan kas
Dimulai dengan kemauan
Tegesé kas nyantosani
Tekad menyejahterakan sesama
Setya budya pangekesé  
dur angkara
Tabah mengembangkan menaklukkan angkara

                                              

KMO : Ahad Pahing, 27 Jan 2019
[] herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *