Kaleidoskop Penerbangan 2018

T ahun 2018 berlalu. Rasanya begitu banyak catatan menarik dalam dunia penerbangan. Mencermatinya sebagai sebuah kilas balik, dapat menjadi sebuah evaluasi apa saja yang harus menjadi perhatian dan prioritas untuk menjadikannya lebih baik pada tahun mendatang. Beberapa kejadian penting di tahun 2018 menjadi bahan berharga untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja. Marilah kita mencoba mengamatinya satu per satu.

AIRPORT

Pertama dari sisi bandar udara. Pemerintah dan BUMN telah berusaha keras untuk dapat membangun bandar udara. Bandara akan menjadi akses masuk ke wilayah dan menjadi pintu masuknya kegiatan ekonomi dan pariwisata. Ternyata menemukan matching antara demand dan supply bukanlah usaha yang mudah. Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) – Kertajati menjadi kasus yang menarik. Setelah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2018, sampai sekarang belum menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan.

Beberapa kondisi disebutkan yang menyebabkan BIJB, belum dapat beroperasi dengan optimal. Yang paling sering disebut adalah karena Bandara Husein Sastranegara masih tetap beroperasi, sehingga para penumpang dan pengguna jasa bandara enggan beralih ke BIJB. Padahal salah satu yang mendorong dibangunnya BIJB adalah menggantikan Bandara Husein Sastranegara. Mengapa penumpang tidak beralih ke BIJB? Alasannya masuk akal. Selain BIJB jauh, juga semua kemudahan dan places of interest yang menarik masih berada di Bandung, sehingga lebih dekat dan mudah dijangkau. Untuk menikmatinya membutuhkan waktu lebih lama, jika mendarat di BIJB.

Hal yang serupa juga terjadi di Kalimantan Timur. Bandar Udara APT Pranoto sekitar 30 km di timur laut Samarinda, juga sudah diresmikan Presiden pada tanggal 25 Oktober 2018. Sampai sekarang belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh airline. Garuda sudah mengantongi ijin terbang dari Bandara Soekarno-Hatta langsung ke Bandara APT Pranoto, semoga saja ada penerbangan yang rutin ke sana. Akses ke bandara ini bersatu dengan jalan trans Kalimantan yang menuju ke Bontang, dan beberapa waktu mengalami banjir yang cukup parah.

Dengan beroperasinya bandara baru ini, Bandar Udara Internasional SAMS Sepinggan mesti bersiap-siap berbagi porsi dengan Bandar Udara APT Pranoto. Sebagian penerbangannya akan beralih ke sana, padahal sampai sekarang Sepinggan juga belum optimal. Setelah pembangunan terminal baru, kapasitasnya berlebih dan belum dimanfaatkan sepenuhnya. Sementara di Jawa hampir semua bandara over capacity, Sepinggan justru masih under capacity.

Dari fenomena tersebut tampaknya PT. Angkasa Pura I mesti lebih berhati-hati dengan Bandara Baru Kulonprogo New Yogyakarta International Airport (NYIA), yang sedang dalam proses pembangunan. Bagaimana agar pada saatnya nanti NYIA tidak mengalami hal yang sama seperti BIJB-Kertajati. Jika Bandar Udara Adisutjipto nantinya tetap beroperasi, maka NYIA akan mengalami hal yang sama dengan BIJB-Kertajati. Mudah-mudahan saja tidak begitu.

Dahulu ada konsep mengenai penataan operasional bandar udara, yang disebut sebagai hub and spoke. Ada bandara pengumpan, bandara pengumpul dan bandara hub. Sekarang rasanya konsep hub and spoke itu sudah tidak diberlakukan dengan konsisten. Masing-masing daerah seakan berlomba membangun bandara. Lalu berusaha dan menuntut agar bandaranya menjadi bandara internasional.

Akibat lanjutannya Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tidak lagi berfungsi sebagai hub, karena dari masing-masing daerah ada airline yang terbang langsung ke Singapura.

Dengan kondisi semacam itu bukan Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi hub, malah secara tidak langsung Bandar Udara Changi berfungsi menjadi hub dari bandara-bandara di Indonesia. Jadi yang menangguk keuntungan adalah Bandara Changi Singapura. Apaboleh buat.

Dari sisi bandar udara hal membanggakan hati adalah penghargaan internasional yang diterima beberapa bandara Indonesia. Penghargaan itu hasil dari survei yang dilakukan oleh Airport Council International pada 2017. Seluruhnya ada 317 bandara yang turut serta dalam penilaian Airport Service Quality itu.

Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai mendapat 3 penghargaan sekaligus antara lain : The world best airport untuk bandara berpenumpang 15-25 juta per tahun. The 2nd Asia – Pacific Best Airport kategori bandara berpenumpang di atas 2 juta per tahun dan The Best Airport by Size & Region in Asia-Pacific untuk kategori bandara berpenumpang 15-25 juta orang per tahun. Juga Bandar Udara Internasional Juanda menjadi  The 3rd world best airport kategori bandara dengan penumpang antara 15-25 juta.

Bandar Udara SAMS Sepinggan mendapat penghargaan sebagai The 2nd best airport by size untuk kategori bandara dengan penumpang 5-15 juta per tahun. Kemudian Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara memperoleh The 3rd world best airport by size, dari total 60 bandara dalam kategori Best Airport by Size dalam survei Airport Service Quality (ASQ).

Dari sisi manajemen pengelolaan bandar udara, PT. Angkasa Pura I menetapkan visi baru 2023: “Connecting The World beyond Airport Operator with Indonesian Experience”. Ini adalah perubahan visi setelah bertahan sekitar 8 Tahun. Visi yang cukup spektakuler, karena PT. Angkasa Pura I mengambil risiko dengan berencana akan melakukan investasi jauh lebih besar, sehingga tidak ada lagi bandara yang tertinggal, no airport left behind dan lack of capacity.

Menurut Faik Fahmi Direktur Utama PT. Angksa Pura I itu merupakan happy problem. Bagaimana agar semua bandar udara mampu menampung peningkatan pertumbuhan traffic.

Pada sisi lain PT. Angkasa Pura II juga berhasil meraih tiga penghargaan pada ajang Stevie Awards 2018 yang merupakan ajang penghargaan bisnis tertinggi di dunia. Melalui inovasi serta digitalisasi layanan, PT. Angkasa Pura II berhasil meraih Gold Stevie Winner untuk aplikasi digital internal dalam kategori Best New Product or Services Of The Year-Content Media and Monitoring Solution.

Direktur Utama PT. Angasa Pura II Awaluddin, menjelaskan bahwa penghargaan Stevie Awards 2018 semakin mempertegas kapabilitas AP II sebagai World Class Airport Operator.

Penghargaan yang kedua adalah Bronze Stevie Winner untuk platform  Services Of The Year-Business To Business Category. Aplikasi yang dapat diunduh secara bebas oleh para pengguna jasa bandara. Ada sejumlah layanan yang memudahkan penggunanya memperoleh informasi pelayanan di bandara-bandara yang dikelola oleh AP II, antara lain FIDS untuk melihat jadwal penerbangan sampai dengan untuk reservasi taksi bandara.

AIRLINE

Dari sisi airline kejadian paling memprihatinkan adalah musibah yang dialami oleh Lion Air JT-610 PK-LQP pada tanggal 29 Oktober 2018. Pesawat yang masih sangat baru Boeing B-737 Max dengan Captain Bhevja Suneja dan FO Harvino itu, baru 13 menit terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Bandara Depati Amir Pangkal Pinang.

Ini musibah terbesar bagi dunia penerbangan Indonesia. Penyebab kecelakaan masih dalam dalam investigasi. Walaupun begitu sesuai warning dari Boeing ditengarai ada masalah dalam hal angle of attack (AOA). Secara umum dari pemberitaan media, telah terjadi semacam adu kuat antara komputer MCAS yang salah membaca input sehingga membuat pesawat terus turun. Di sisi lain dengan Captain Suneja mencoba mempertahankan agar pesawat naik.

Pada posisi sekitar 15 km dari Tanjung Karawang, pesawat kehilangan kontrol dan menukik lalu menghunjam ke permukaan laut dengan kecepatan 400 knots. Seluruh 189 penumpang dan crew pesawat tidak ada yang selamat. Dunia penerbangan Indonesia berduka.

Kecelakaan Lion Air ini sudah pasti mencoreng wajah dunia penerbangan Indonesia. Dan sudah semestinya menjadi bahan evaluasi bagi semua yang berhubungan dengan hal itu.

Dari data Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT 2012-2018, menunjukkan bahwa keselamatan penerbangan di Indonesia sebenarnya semakin baik. Sayang kecelakaan JT-610 mencoreng dunia penerbangan Indonesia.

Dari sisi konektivitas, hampir seluruh penjuru tanah air sudah dapat diterbangi dengan baik, oleh semua pesawat berjadwal maupun charter. Connectivity berjalan dengan baik langsung point to point, tidak perlu harus banyak transit. Penerbangan internasional juga mulai meningkat, ditandai dengan dengan banyaknya penerbangan charter baik dari dari ke China juga ke Arab Saudi dalam penerbangan umroh dan Haji.

Kemudian dari sisi manajemen, peristiwa Sriwijaya yang beralih dan berada dibawah manajemen Garuda Indonesia merupakan fenomena yang menarik. Pada tanggal 9 November 2018 Citilink, anak perusahaan Garuda Indonesia, ditugasi untuk memegang kendali operasional Sriwijaya Air Group yang terdiri dari Sriwijaya Air dan NAM Air. Aliansi itu diwujudkan dalam bentuk Kerja Sama Operasi, yang waktunya belum ditentukan sampai kapan berakhirya.

Di Indonesia ada 5 airline utama melayani rute penerbangan domestik yakni Lion Air, Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, dan Sriwijaya Air. Data
tahun 2017 dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, menyatakan pangsa pasar Lion Air adalah sebesar 34%, Garuda Indonesia 20%, Citilink 13%, Batik Air 10%, dan Sriwijaya Air 10%. Bergabungnya Sriwijaya ke dalam Kerjasama Operasi dengan Garuda Group semoga akan membuat pelayanan kepada penumpang semakin baik. Dampak lanjutannya penjualan tiket yang murah, diprediksi akan menjadi berkurang.

AIRNAV

Yang ke tiga dari sisi Airnav. Gempa bumi Donggala dan Palu berkekuatan 7,4 SR pada tanggal 28 September 2018 meninggalkan duka yang mendalam. Salah satu karyawan ATC Airnav Antonius Agung Gunawan yang sedang bertugas di Tower Bandara Sys Al Jufrie Palu, terpaksa melompat dari Tower karena gempa meruntuhkan atap Tower. Akibatnya Agung meninggal dunia.

Keluarga besar Airnav berduka sedalam-dalamnya. Agung kemudian ditetapkan sebagai pahlawan Airnav. Menteri Perhubungan memberi penghargaan dan berhasil mengusahakan Agung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Makassar. Selamat jalan pahlawan.

Gempa Palu yang meruntuhkan atap Tower menjadi bahan evaluasi Airnav. Berdasarkan kasus itu Airnav membuat standar desain pembangunan Tower yang tahan gempa. Selain hal itu mesti difikirkan juga, bagaimana melakukan evakuasi seandainya keadaan seperti itu terjadi lagi.

Kemudian mengenai Runway occupancy time. Semua usaha sedang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas runway, dan direncanakan Bandara Soekarno-Hatta akan mencapai angka 80 gerakan pesawat take off dan atau mendarat per jam. Ini pasti bukan menjadi concern Airnav semata. Kolaborasi dengan pihak bandara, airline dan ground operations menjadi syarat agar angka itu dapat direalisasikan.

Dan program besar yang sedang akan berlangsung adalah rencana Airnav untuk memodernisasikan sistem pengelolaan lalu lintas udara. Proyek Indonesia Modernization of Air Navigation Services (IMANS) segera akan berjalan. Dengan IMANS direncanakan akan meningkatkan kapabilitas dan kualitas pengendalian lalu lintas udara.

Ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bersiap mengambil alih dari Singapura pengendalian lalu lintas udara di sektor A, B dan C; bila watunya nanti tiba. Jakarta Air Traffic Service Control sudah mampu untuk mengambil alih. Terbukti sekarag ini semua penerbangan internasional yang melintas wilayah kita dapat dilayani Airnav dengan baik.

Selain itu juga memungkinkan collaborative decision antara Airnav dan Airline, misalnya kapan pemberian push back release time, start engine clearance disesuaikan dengan kepadatan traffic. Ini penting untuk menghindari delay kepanjangan karena padatnya lalu lintas pesawat.

Yang terakhir dari sisi otoritas penerbangan, Menteri Perhubungan melantik Polana Banguningsih Pramesti menjadi Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Ini adalah sejarah. Pertama kalinya seorang Direktur Jenderal dijabat oleh  seorang wanita. Ibu yang cantik ini, dilantik pada tangggal 12 November 2018.

Dan seabreg tugas berat menanti beliau. Diantaranya adalah pengambil-alihan Sektor A,B, C dan keanggotaan Indonesia di ICAO Council. Dan kasus terakhir musibah Lion Jt-610, yang berpotensi menjadi kasus internasional. Semoga sukses ibu …

Menatap tahun 2019 yang akan datang, semoga dunia penerbangan semakin baik, spesifik, laik dan apik. Tentu saja sangat disadari begitu banyak yang harus diselesaikan, tetapi dengan konsistensi dan komitmen bersama mudah-mudahan semua para pemangku kepentingan bekerja semakin professional

KMO : Rabu, 19 Des 2018
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *