Buku Chappy Hakim & Supri Abu

Menghadiri peluncuran buku Chappy Hakim di Auditorium Perpustakaan Nasional, Senin 17 Desember 2018 sangat menarik. Selain mendengarkan udpate mengenai dunia penerbangan dan bertemu teman-teman lama; juga sekaligus mendapat buku gratis yang ditanda-tangani oleh penulisnya langsung.

Peluncuran buku yang ditulis bersama oleh Chappy Hakim dan Kolonel Penerbang  DR. Supri Abu berlangsung Auditorium Perpustakaan Nasional. Di belakang panggung, di layar back-drop ada foto Pak Chappy dengan 23 buku yang sudah ditulisnya. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun Pak Chappy Hakim. Selamat ya pak, semoga tetap terus menulis dan menjadi inspirasi generasi muda.

Dan DR. Supri Abu adalah Doktor Hukum Udara lulus dari Universitas Trisakti tahun 2018. Lahir di Parepare, 19 Januari 1966 dan mengawali karirnya di TNI-AU, setelah lulus sekolah Penerbang IDP Angkatan III, tahun 1986.

Di deretan tamu undangan hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafei Djamal, Wakil KSAU, Prof. Salim Said, Jenderal (Purn) A.M. Hendro Priyono, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Suryo Pratomo dan lainnya.

Chappy Hakim mengawali acara dengan  memberikan presentasi secara umum yang menggambarkan keberhasilan Indonesia di dunia penerbangan dalam 10 tahun terakhir. Beberapa diantaranya adalah disyahkannya UU Penerbangan No. 1 Tahun 2009, Indonesia Single ATS Provider, Pencabutan pelarangan terbang dari Uni Eropa dan USOAP enilai keselamatan penerbangan Indonesia memperoleh angka diatas rata-rata dunia!

Sayangnya kemudian terjadi kecelakaan Lion Air JT-610 pada tanggal 29 Oktober 2018 yang lalu. Musibah itu telah mencoreng kredibillitas penerbangan Indonesia.

Buku yang ditulis bersama itu, berjudul : Penegakan Kedaulatan Negara di Udara. Isinya terasa berbeda dengan buku-buku Pak Chappy yang sudah ada, buku ini isinya sangat teknis. Ini mengisyaratkan penulis utamanya barangkali adalah DR. Supri Abu.

Memperhatikan begitu kompleksnya masalah di dunia penerbangan, Chappy Halim mengusulkan agar dibentuk suatu  Dewan Penerbangan atau Menko Penerbangan yang akan menangani masalah yang begitu kompleks itu.

Pada presentasi berikutnya DR. Supri Abu menguraikan bagaimana seyogyanya penegakan kedaulatan udara dilakukan.  Dan ada hal yang menarik, beliau mengatakan ada suatu wilayah udara di selatan Natuna yang di claim Singapura sebagai Traditional Training AreaDan wilayah udara di situ, tidak boleh ada pesawat terbang memasuki atau melintas diatasnya.

Padahal jelas-jelas Singapura tidak memiliki hak atas wilayah udara disitu. Bagaimana mungkin melarang memasuki daerah yang bukan wilayahnya? Kok enak?

Supri Abu mengatakan jika beliau bukan seorang penerbang, maka dia pun tidak akan tahu ada wilayah yang di claim sebagai Traditional Training Area itu.

Ibu Susi Pudjiastuti ketika memberikan sambutan, ternyata juga menyebut hal yang sama seperti yang dikatakan DR. Supri Abu. Di laut sebelah utara Natuna oleh para nelayan asing, wilayah laut itu juga disebut sebagai Traditional Fishing Ground. Lho kok enak banget? Wilayah negara lain, dianggap sebagai wilayah mancingnya sendiri!

Artinya Indonesia yang begitu luas dan terdiri dari kepulauan ini, memang mesti menjaga dengan teritorial baik di laut dan udaranya. Agar kekayaan alamnya tidak dicuri orang-orang asing itu. Ini salah satu syarat untuk menjaga Indonesia sebagai negara yang berwibawa di mata dunia.

Menteri Perhubungan hanya sebentar hadir, karena ada acara berikutnya. Beliau mengapresiasi buku-buku yang ditulis Pak Chappy juga pemikirannya tentang dunia penerbangan Indonesia. Malah beliau bermaksud membuat forum di televisi untuk acara semacam Talk Show dan meminta Pak Suryo Pratomo untuk merealisasikannya.

Mantan Menhub Jusman Syafei Djamal ketika memberikan sambutan mengatakan bahwa pemerintah berani menyatakan bahwa transportasi menjadi tanggungjawab Menteri Perhubungan. Oleh sebab itu sebagai konsekuensinya Menteri Perbubungan mempunyai kewenangan besar untu me-“regulate” dan merencanakan infrastruktur pendukung transportasi.

Keputusan itu mendapat apresiasi dunia aviasi internasional. Dan sekarang untuk kembali mendapatkan dukungan itu, Indonesia sedang berusaha untuk kembali menjadi anggota council ICAO.

Saya beruntung ikut hadir, sehingga sempat bertemu teman-teman lama DR. Ninok Leksono yang dulu saya kenal sebagai wartawan Kompas. Sekarang beliau masih di Kompas dalam rangka proses regenerasi. Dan beliau juga sibuk sebagai Rektor Universitas Multimedia Nasional (UMN) di Serpong.

Juga Pak Dudi Sudibyo wartawan aviasi senior yang sudah malang-melintang baik dalam tulisan jurnalistik dan melakukan kunjungan jurnalistik. Beliau salah satu dari sedikit wartawan di dunia yang setiap tahun menjadi tamu undangan resmi Boeing dan Airbus. Dan selalu diundang jika ke dua perusahaan pembuat pesawat terbang itu meluncurkan produk barunya. Sebelum masyarakat umum tahu, Pak Dudi Sudibyo lebih duluan tahu jika ada pesawat yang akan diproduksi baik oleh Boeing maupun Airbus. Luar biasa.  Sekarang pun beliau masih tampak sehat dan terus aktif.

Juga Captain Nababan, mantan Ketua Asosiasi Pilot Garuda sekarang sudah berusia 71 tahun. Masih tampak gagah sehat dan segar. Beliau memberi nasehat agar banyak-banyak minum agar tidak kekuarangan air. Jika tubuh kekurangan air, maka akan mengambil dari bagian tubuh yang banyak menyimpan air. Salah satunya otak. Jika otak kurang air bisa kena stroke! Waduh … Baiklah Capt.

Oh iya satu lagi … Pak  Chappy Hakim mengatakan tahun depan pada setiap Rabu hari pertama bertempat di Perpustakaan Nasional, akan diadakan semacam pertemuan antara pemangku kepentingan, pejabat dan para pemerhati penerbangan. Forum ini akan membahas hal-hal  tentang dunia penerbangan dan menemukan solusi bersama untuk dapat diterapkan di lapangan. Semoga ide ini dapat diwujudkan dengan baik.

Akhirnya sekali lagi selamat ulang tahun Pak Chappy Hakim, terus berkarya dan menginspirasi generasi muda, penerus cita-cita negara Indonesia tercinta, negeri tanah air dan pusaka.

Dan juga selamat  kepada Kolonel Penerbang DR. Supri Abu, semoga segera meraih bintang, sehingga dapat bersinar lebih terang lagi! Kelak semoga mengikuti jejak seniornya, saya doakan  … Amin Ya Rabbal Alamin ...

KMO, Selasa Pahing – 18 Des 2018
herulegowo@gmail.com

 

One Reply to “Buku Chappy Hakim & Supri Abu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *