Pertarungan Komputer dan Manusia

Musibah Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 yang lalu telah membawa semua korban yang berada di pesawat itu. Musibah itu meninggalkan duka nestapa dan rasa penasaran yang belum juga terpecahkan. Semua pihak sekarang sibuk membuat analisis dan mencoba mencari penyebabnya. KNKT, Lion Air, Boeing  dan semua pihak yang terkait terus berusaha menemukan faktor-faktor penyebab musibah yang mengerikan itu.

Saya mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Seperti yang kita lihat pada film-film tentang kemajuan teknologi yang sudah sangat canggih. Pada suatu ketika komputer begitu canggih dan mampu menirukan kecerdasan manusia dan bahkan mengalahkan kecerdasan manusia.

Buktinya? Pada tanggal 11 Mei 1997 Garry Kasparov juara dunia catur, harus mengakui kecanggihan Deep Blue sebuah komputer buatan IBM yang mampu menganalisa 200 juta langkah per detik. Akhirnya Deep Blue mengalahkan Kasparov 3,5 – 2,5 dan membawa hadiah USD 700.000.

Begitu juga dengan musibah Lion air kali ini. Membaca dan mencermati semua analisis KNKT dan berita-berita yang berkaitan dengan itu, mengarah pada  kesimpulan telah terjadi pertarungan adu kuat antara komputer dan manusia.

Dimulai dari Manouevring Characteristic Augmentation System (MCAS) yang “salah” membaca input data. MCAS menerima masukan angle of attack (AOA) begitu besar. Ini mengindikasikan bahwa pesawat akan stall. Untuk menghindari kemungkinan stall itu, secara otomatis MCAS memerintahkan horizontal stabilizer trim untuk membuat hidung pesawat menurun. Oleh sebab itu pesawat pun descend, menurun dari ketinggiannya.

Mengetahui perilaku pesawatnya yang menurun diluar controlnya, Captain pilot mencoba menaikkan ketinggian pesawat dengan cara mendongakkan hidung pesawat. Caranya dengan mematikan MCAS. Tetapi ternyata pesawat terus menurun. Disinilah terjadi adu kuat antara MCAS yang menurunkan pesawat dan  pilot yang mencoba tetap mempertahankan agar pesawat tidak terus menurun.  Pertarungan ini membuat pesawat terbang seperti roller coaster naik dan turun tidak beraturan.

Pilot terus berusaha dengan sekuat tenaga menjaga agar pesawat tidak terus menurun. Tetapi tidak berhasil! Dan pesawat terus menurun. Kemudian dengan kecepatan sekitar 400 knots, pesawat menghantam permukaan air laut. Membawa serta semua 189 orang di dalamnya ke dasar laut, sekitar 15 km di utara Tanjung Karawang. Dunia penerbangan pun berduka.

Begitulah kira-kira gambaran terjadinya musibah Lion Air Jt-610 ini, menurut yang saya fahami. Hanya saja, bukan itu yang akan menjadi inti dari pembahasan kali ini. Ternyata benar sekali adagium yang mengatakan bahwa pada setiap kehebatan dan kecanggihan, disitu jugalah letak kesalahan dan kelemahannya.

MCAS pasti dirancang dan dibuat agar menyelamatkan pesawat, jika terjadi sesuatu yang salah dan membuat pesawat dapat mengalami stall. Itu pasti sangat bermanfaat, ketika pilot karena sesuatu hal tidak menyadari bahwa pesawat sedang atau akan mengalami stall. MCAS dengan otomatis akan menetralkan hidung pesawat sedemikin rupa, sehingga tidak terjadi stall. Begitulah rancangan teknis MCAS ini.

RENUNGAN

Musibah ini mengantarkan saya kepada sebuah renungan. Bahwa setiap yang terjadi di alam semesti ini, tidak ada yang terjadi tanpa sepengetahuan-NYA. Allah Swt sungguh maha mengetahui dan maha segalanya. Teknologi boleh saja begitu hebat dan dibuat begitu canggih.

Sistem keamanan juga dibuat berlapis-lapis, untuk menjaga keselamatan, keamanan dan juga kenyamanan. Tetapi sedikit saja ada sesuatu yang salah, walaupun pada celah sekecil apapun; maka akibatnya begitu fatal. Kesalahan kecil itu — yang sedang dicari sebabnya karena apa– ternyata mengakibatkan musibah yang luar biasa. Semoga segera dapat ditemukan penyebabnya dan solusinya, sehingga itu tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Dalam kasus musibah Lion Air Jt-610 ini, entah mengapa MCAS menerima input data yang buruk; sehingga seakan-akan pesawat akan stall. Sederhana seperti itu. Tetapi akibatnya sungguh sangat fatal. Semua yang berada di dalam pesawat pun pulang mendahului kita semua.

Innalillahi wa inailaihi rojiun

KMO – Ahad Legi, 2 Des 2018
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *