Business Challenges 2019

Harian Bisnis Indonesia mengadakan Seminar Business Challenges 2019 pada Senin 26 November 2018 pukul 12.00-17.00 WIB, di Hotel Raffles Jakarta. Saya beruntung diundang oleh Pemred-nya Mas Herry Trianto. Seminar Business Challenges disebut sebagai Ministerial Session, pembicara utamanya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri ESDM Ignatius Jonan. Moderatornya adalah Hariyadi Sukamdani komisaris Bisnis Indonesia, juga Ketua Umum Apindo.

Acara dimulai dengan presentasi Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Prof. Suahasil Nazara, membahas tantangan perekonomian tahun 2019. Doktor lulusan University of Illionis tahun 2003, dan guru besar FEUI tahun 2009 ini menjelaskan dengan jernih dan cermat angka-angka dan parameter perekonomian Indonesia. Saya merasa  semestinya para pejabat negeri ini seperti beliau, memahami dengan benar bidang tugasnya dan mahir dalam menjelaskannya.

Beliau mengatakan insentif pajak yang sudah diberikan pemerintah adalah sebesar Rp. 154,4 T atau senilai dengan 1% PDB Indonesia. Menurut beliau tidak akan ada jenis pajak baru. Harapannya mudah-mudahan compliance untuk membayar pajak akan semakin baik pada tahun-tahun mendatang, sehingga pendapatan pajak akan meningkat.

Menjawab pertanyaan mengenai tax code yang rumit, beliau berkilah yang dianggap rumit pun masih ada yang mencoba menghindarinya; apalagi jika dibuat sederhana. Yang penting adalah bagaimana enforcement-nya, agar tidak banyak terjadi tax avoidance. Selanjutnya dijelaskan mengenai kemungkinan bahwa produk plastik akan dikenakan cukai. Ini masih menunggu analisis dari fihak-fihak terkait seperti dari segi industri dan lingkungan, baru setelah itu dikonsultasikan kepada DPR-RI.

Yang mengemuka dalam diskusi adalah usulan agar Direktur Jenderal Pajak tetap berada dibawah Kementerian Keuangan. Jika berdiri sebagai Badan sendiri, dunia usaha merasa khawatir, karena hal tersebut dapat dipolitisasi, sehingga berpotensi mengganggu dunia usaha. Pak Suahasil Nazara mengatakan bahwa itu sudah diusulkan ke DPR-RI dan masih membutuhkan pembahasan panjang sebelum diundangkan. Jika ada keberatan barangkali masih bisa disampaikan.

Pada sesi berikutnya Menteri Perhubungan menjelaskan keberhasilan dalam pembangunan infrastruktur dan sarana transportasi. Itu menjadi sarana mutlak tercapainya konektivitas, yang memberi manfaat ekonomis bagi masyarakat terutama di daerah terpencil. Pembangunan stasiun kereta api, pelabuhan, bandara baru, pembangunan prasarana, dermaga penyeberangan, kapal pendukung tol laut, pengadaan pesawat latih dan sebagainya.

Penerbangan di wilayah Papua jelas telah berhasil menembus isolasi daerah terpencil. Dan Kementerian Perhubungan terus berusaha untuk menjaga konektivitas itu. Sebenarnya sayang Menteri Pariwisata tidak jadi hadir dalam seminar ini. Padahal semestinya dapat menjadi partner diskusi dalam mencari solusi bersama dengan Kementerian Perhubungan.

Selanjutnya dijelaskan bahwa seluruh biaya pembangunan infrastruktur itu membutuhkan dana Rp.1.283 Trilyun, padahal yang tersedia hanya Rp. 491 Trilyun. Itulah mengapa Kementerian Perhubungan mengajak swasta untuk ikut serta, dalam pembangunan infrastruktur ini, melalui Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership (PPP).

Giliran berikutnya Menteri ESDM Ignatius Jonan menguraikan mengenai energi. Dengan lugas beliau menjelaskan angka-angka teknis, foto-foto yang ekspresif dan film-film pendek yang membanggakan sekaligus juga mengharukan.

Saya ikut terharu ketika melihat di layar lebar bagaimana saudara kita di Papua sana, melihat lampu listrik bertenaga surya yang pertama kalinya di dalam Honai-nya! Itu adalah benar-benar sebuah miracle. Dahulu mungkin dalam mimpi pun, mereka belum pernah membayangkan hal itu dapat terwujud. Dan sekarang anak-anak mereka dapat belajar pada malam hari. Sungguh luar biasa,

Juga foto puluhan kincir angin Pusat Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di sebuah perbukitan di Sidrap, begitu indah dan pasti memberi manfaat banyak.

Hal yang menarik Menteri ESDM mengatakan tidak ada eksplorasi besar yang baru, di bidang perminyakan. Eksplorasi terakhir adalah Blok Jatibarang yang ditemukan pada sekitar 1964, berarti lebih setengah abad yang lalu. Lama sekali. Sudah pasti dengan berjalannya waktu produksi dari sumur-sumur minyak itu menurun. Wajar saja.

Pertamina sekarang menjalankan operasional WK Mahakam yang diambil alih dari Total Indonesie dan WK Rokan dari Chevron. Menurut beliau ada lebih dari 100 Wilayah Kerja Operasi yang dicabut ijinnya, karena perusahaan yang ditunjuk sebgai pengelola tidak melakukan kegiatan operasionl sebagaimana yang sudah disetujui bersama. Ini adalah kerugian bagi negara.

Dan sebelum sesi tanya-jawab, Menteri ESDM mengatakan masih ada subsidi sekitar Rp. 150 Trilyun, untuk Listrik, BBM dan LPG. Subsidi listrik akan dipertahankan sampai akhir tahun 2019. Jadi  … kita mesti bersiap-siap akan ada  kenaikan harga BBM. Dan sudah pasti bakalan ada efek kenaikan harga-harga barang lain yang beruntun, setelah itu.

Pada akhir acara Master Feng Shui Yulius Fang mengatakan tahun 2019 adalah tahun Babi Tanah. Ada dua elemen yg bertentangan, yaitu air besar yang menaungi babi dan tanah kecil. Menurut prediksinya akan ada penipuan, pemalsuan, dan kesulitan berpikir jernih pada tahun Babi Tanah 2019. Sayang sekali sebagian besar para peserta, sudah meninggalkan ruangan. 

Menurut Fang : “Dari luar kelihatannya stabil, lambat dan santai, tetapi di dalamnya ada sedikit pertumbuhan, dinamisme dengan risiko tantangan dan kegelisahan”. Meskipun begitu, masih terdapat bidang usaha yang berpotensi mendapatkan keuntungan, antara lain : terobosan ilmu pengetahuan, elektronik, industri olahraga, mainan, medis, otomotif, serta penggalian.

Nah, penggalian ini barangkali cocok dengan usaha Kementerian ESDM untuk mengeksplorasi dan mendapatkan minyak semakin banyak.
Mudah-mudahan …

KMO, Selasa 27 Nov 2018
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *