NYIA Mengejar Target

Sebuah pernyataan resmi dari PT. Angkasa Pura I (Persero) bahwa terhitung tanggal 1 April 2019 semua penerbangan internasional akan pindah dari Bandar Udara Adisutjipto ke bandar udara baru New Yogya International Airport (NYIA). Di Temon – Kulonprogo. Sekarang ini ada 4 penerbangan internasional dari Adisutjipto ke Singapura dan Malaysia. Garuda Indonesia, Air Asia, Silk Air terbang ke Singapura dan Air Asia ke Kuala Lumpur.

Pernyataan resmi tersebut rasanya mengundang pertanyaan, apakah benar NYIA akan siap untuk melayani penerbangan internasional pada tanggal 1 April 2019 yang akan datang. Praktis hanya tinggal 4-5 bulan lagi. Dan itu pasti sangat berat dan ketat untuk dapat merealisasikan target itu.

Dan saya beruntung diajak teman-teman dari PT. Gapura Angkasa untuk melihat secara langsung ke bandara baru tersebut pada hari Kamis sore 15 November 2018. Butuh waktu + 2 jam lebih dari Jogja sebelum mobil yang mengantar memasuki Kantor Proyek Pengembangan Bandara Internasioal Jogjakarta (PPBIJ) milik PT. PP. Lokasinya berdekatan dengan bandara baru.

Sebuah kantor atau lebih tepatnya kompleks perkantoran proyek yang cantik. Di depan pintu masuk ada patung berbentuk tangan kanan mengacung dengan telapak terkepal. Ditengahnya ada Ruang Arjuna tampaknya khusus disediakan untuk para tamu yang akan mengunjungi proyek pembangunan bandara. Disi si kiri ada sebuah masjid yang mampu menampung sekitar 200 jemaah lebih. Petugas penerima tamu mempersilahkan kami masuk ke ruangan Arjuna, sambil menunggu petugas yang akan mengantarkan kami ke lapangan.

Dan tidak lama kemudian datang Pak Danang Wijanarko karyawan PT. PP, asli dari Klaten. Orangnya ramah, banyak bicara dan mencoba cepat kenal dengan para tamunya. Setelah briefing ringkas, mengisi formulir pernyataan, memakai helm pengaman dan rompi, Pak Danang lalu mengantarkan kami melihat langsung pekerjaan proyek di lapangan. Sambil menyetir dia bercerita segala hal mengenai PPBIJ.

Kami melalui pintu masuk proyek dan diatas gerbangnya tertulis : Proyek Pembangunan Infrastruktur Bandara Baru Di Kulonprogo. Ada logo PT. Angkasa Pura KSO Ciriajasa BlueVisions dan logo PP.

Beberapa ratus meter dari gerbang di sebelah kiri jalan, ada kompleks pekerja proyek yang mampu menampung 4.000-5.000 orang pekerja. Ditengahnya ada sebuah masjid. Lengkap deh. Beberapa kendaraan berat dan truk melintas lalu-lalang. Dari kejauhan puluhan crane tampak menjulang di ujung pamdangan. “Setiap hari rata-rata 60-an borpile berdiri dan 2.000 M3-an adukan semen yang diproduksi” begitu kata Pak Danang sambil menyopir mobil menghindari lubang-lubang di jalanan tanah yang diperkeras.

Jalan jalur pantai selatan yang disebut Jalan Daendels terpotong oleh bandara baru ini. Sebagai alternatif nantinya jalan ini akan menjadi terowongan sepanjang 1,2 km. Terowongan ini akan  memotong dan berada di bawah jalan masuk ke bandar udara. Mungkin jalan ini akan menjadi terowongan terpanjang, jika selesai nanti.

Urugan tanah untuk proyek ini diperoleh dari memotong bukit-bukit di Kulonprogo dan Purworejo. Beberapa rumah tampak baru dibangun dan berada cukup dekat dengan pagar perimeter bandara. Padahal elevasi tanah bandara yang sekarang, akan bertambah tinggi sekitar 2 meteran lagi. Pasti akan muncul masalah jika musim hujan nanti. Air akan melimpah dan bakal menjadi masalah baru dengan penduduk yang berdekatan dengan pagar bandara.

Pak Danang membawa kami menyusuri jalan akses yang sejajar dengan pagar perimeter. Untunglah beberapa lokasi sakral dan mistis lokasinya berada di luar pagar, yaitu Gunung Lanang dan Sumur Jolotundo. Beberapa makam yang berada di dalam pagar sudah di relokasi. Sedikit masalah ketika harus menggusur Gunung Wadon. Pak Danang bercerita pada waktu proses perataan tanah di situ, 3 escavator yang masih baru rusak dan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya. Sekarang tampaknya sudah dapat selesai.

Kemudian kami memasuki runway baru. Pondasi dan sub-base nya selesai. Masih ada beberapa lapisan lagi diatasnya, baru digelar aspal diatasnya. Jadi runway baru nanti akan lebih tinggi lagi 75 cm dari yang sekarang ini. Runway 11-29 ini memiliki panjang 3.250 X 45 M. Rencananya nanti akan diperpanjang menjadi 3.600 M. Apakah dalam 4-5 bulan yang akan datang, runway ini akan selesai dibangun? Pelaksana proyek kelihatannya optimis dan dapat menyelesaikan pada waktunya.

Beberapa lama kami berada di runway. Saya membayangkan tempat dimana kami berdiri sekarang adalah touch down zone pesawat Boeing B737-800 yang akan mendarat perdana pada tanggal 1 April 2019. Di kejauhan rencana terminal penumpang hanya tampak beberapa crane yang sedang memasang tiang pancang. Di tepi laut masih tampak puluhan tambak ikan yang di kelola masyarakat.

Kemudian Pak Danang menjalankan mobil double cabin-nya menyusuri runway. Setelah setengah dari panjang runway kami keluar dan meneruskan menyusuri sepanjang taxiway. Taxiway juga tampaknya seperti runway, sudah siap untuk diselesaikan dengan lapisan-lapisan diatasnya.

Kami berhenti di tepi saluran drainage di seberang rencana terminal penumpang. Saluran drainage kelihatan sedang di semen di dasarnya. Di atasnya nanti akan dipasang beton selokan yang berbentuk huruf U, yang sudah siap di sisi saluran. Saluran drainage ini ke arah kanan bermuara di Sungai Bogowonto, yang ke kiri ke Sungai Serang. Yang ke arah Sungai Serang di ujung saluran ini masih ada masalah pembebasan tanahnya, sehingga kemungkinan belum bisa tembus ke Sungai Serang. Mudah-mudahan pada saatnya bisa diselesaikan.

Cukup lama kami berdiri di sini. Matahari yang akan terbenam mewarnai langit di ufuk barat. Sayangnya sekumpulan awan menyelimutinya, sehingga sunset-nya tidak sempurna. Sebentar kemudian temaram senja menyelimuti bandar udara baru ini. Walaupun demikian kegiatan proyek tidak berhenti dan terus berjalan selama 24 jam tanpa berhenti. Semua pekerja bekerja sesuai shift-nya masing-masing. Sebuah usaha dan kerja keras, untuk mewujudkan sebuah rencana besar.

Pak Danang membawa kami kembali ke kantornya. Sudah senja dan mulai gelap, tetapi lalu lalang kendaraan proyek justru semakin sering. NYIA mengejar targetnya sendiri. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.

Pembangunan sebuah bandara selalu terkesan terburu-buru. Dikejar waktu agar selesai disebabkan hal-hal non teknis. Selain targetnya yang sangat ketat, hal lain yang bakal menjadi masalah adalah transportasi antar moda. Jarak NYIA ke Jogjakarta membutuhkan waktu tempuh 2 jam lebih. Padahal akses menuju ke bandara masih bergabung dengan jalan provinsi Purworejo-Jogjakarta. Hal ini akan membuat jalan yang sekarang sudah padat akan semakin padat. Akibatnya waktu tempuhnya akan semakin lama dan sudah pasti berpotensi delay. Sudah pasti alternatifnya sudah ada dalam rencana induk, hanya saja tampaknya pembangunannya baru akan dilaksanakan belakangan.

Akhirnya, mudah-mudahan Proyek Pembangunan NYIA akan berjalan lancar dan selesai sesuai targetnya. Pengalamanan dari BIJB Kertajati rasanya juga bakal menjadi fenomena, yang akan dialami oleh NYIA. Keika BIJB bererasi dan Husen Sastra negara masih beroperasi, maka BIJB tidak optomal. Pada saatnya nanti ketika NYIA beroperasi dan jika Adisutjipto masih beroperasi, maka NYIA juga bakal kurang optimal.

Semoga saja tidak begitu …

KMO : Selasa, 20 Nov 2018
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *