Mencegah Musibah

Dunia penerbangan sedang begitu sibuk dan berkonsentrasi penuh atas musibah Lion Air JT-610 yang mengalami musibah. Pesawat Lion Air Boeing B-737 Max dalam penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Depati Amir Tanjung Pinang, telah jatuh 15 km di utara Tanjung Karawang hari Senin 29 Oktober 2018 sekitar jam 06.30 WIB. Pesawat generasi baru ini mengangkut 181 penumpang dan 8 crew pesawat. Sampai tulisan ini selesai belum ditemukan body pesawat dan para korbannya.

Musibah ini jelas kembali mencoreng dunia aviasi Indonesia. Padahal sebelumnya sudah berhasil mendapatkan angka penilaian tinggi Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP) dari ICAO. Sungguh tidak mudah mendapatkan penilaian  yang tinggi USOAP ini, karena  begitu banyak faktor yang dinilai.

Berkali-kali Indonesia gagal mendapatkan nilai yang baik dan baru pada tanggal 10-18 Oktober 2017 yang lalu  Indonesia mendapatkan angka 81,15% penilaian yang melonjak cukup drastis. Sebagai pembanding rata-rata dunia adalah 62%.  Pencapaian itu membuat Indonesia berada di peringkat 2 setelah Singapura di ASEAN. Sedangkan di Asia Pasifk Indonesia berada pada peringkat ke 51, sebelumnya berada di peringkat 151.

Hampir setahun setelah penilaian yang membaanggakan itu,  terjadilah musibah Lion Air JT-610. Kejadian musibah Lion Air ini, sudah pasti akan menurunkan nilai peringkat tinggi yang sudah diperoleh dengan susah payah.

ICAO melalui  USOAP menetapkan 8 kriteria dalam menilai kondisi penerbangan di suatu negara, terdiri dari :

  1. Primary Aviation Legislation and associated civil aviation regulations
  2. Civil Aviation Organizational structure
  3. Personnel Licencing activities
  4. Aircraft Operations
  5. Airworthiness of civil aircraft
  6. Aerodromes
  7. Air Navigation Services
  8. Accident and Serious incident investigations

Musibah yang dialami Lion Air terasuk dalam kategori  nomor 8, tetapi jika ditelusuri dan dicermati barangkali akan melibatkan beberapa faktor lainnya. Setiap kejadian, musibah dan kecelakaan mesti disebabkan oleh beberapa faktor, yang ikut andil terjadinya kejadian atau musibah tersebut. Faktor-faktor lenyebab ini disebut sebagai contributing factors.

Boeing Corporation memiliki metode untuk mencari penyebab dan memberikan alternatif solusi dari setiap kejadian, yang disebut sebagai Ramp Error Decision Aid (REDA). Memang metode ini hanya untuk kebiatan dan operasional di ramp, tetapi metode ini rasanya mudah dimengerti dan dapat diterapkan pada beberapa kegiatan operasional. Metode ini disebut sebagai socio-technical methode, karena tidak semata-mata melihat dan menganalisis hala-hal yang bersifat teknis saja tetapi juga yang berhubungan dengan manusia. Metode ini jika diterapkan dengan komitmen dan konsisten dapat menurunkan resiko kejadian, menghindari kecelakaan dan mengurangi kemungkinan terjadinya musibah.

 

REDA menjekaskan suatu faktor penyebab atau contributing factor dapat mengakibatkan suatu error (kesalahan), juga dapat menimbulkan violation (pelanggaran). Apa bedanya error dan violation? Error adalah tindakan yang dilakukan dengan tidak sengaja, dalam mengerjakan suatu tugas tertentu. Sedangkan violation adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja, dalam mengerjakan suatu tugas tertentu. Kedua hal tersebut atau salah satunya, akan menimbulkan system failure. Dan akibat selanjutnya adalah terjadinya suatu kejadian, kecelakaan atau musibah.

Urutan kejadian tersebut, dalam diagram akan tampak seperti pada gambar.  Suatu musibah mesti disebabkan oleh system failure. Dan system failure ini dapat disebabkan oleh suatu kesalahan atau pelanggaran atau kedua-duanya. Adapun yang menyebabkan terjadinya kesalahan atau pelanggaran adalah faktor penyebab atau contributing factors.

Dalam hal contributing factors ternyata juga tidak selalu tunggal atau single factor. Ada beberapa faktor baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, dapat menimbulkan terjadinya suatu kesalahan atau pelanggaran. Petugas yang melaksanakan pekerjaan mesti dibekali dengan kompetensi yang memadai dalam hal keahlian, pengetahuan dan perilakunya. Dan juga memiliki kesehatan yang baik dan persyaratan fisik untuk melakukan pekerjaan.

Faktor lingkungan di sekelilingnya juga berpengaruh. Faktor ini dapat berupa : fasilitas, cuaca, tekanan waktu, kerjasama, komunikasi, dan praktek bekerja. Si lapangan kerja yang menungut akurasi tinggi, fasilitas dan perakatan kerja mesti dalam kondisi dan terpelihara baik. Jika ada masalah misalnya dengan rem, karena olie-nya kurang jelas dapat menimbulkan kesalahan dan pelanggaran berupa senggolan kendaraan atau tabrakan. Faktor supervisi juga memegang berperan penting. Petugas bekerja mengikuti prosedur dan  arahan supervisor. Jika terjadi irregularities arahan supervisor sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.

Berikutnya adalah peran manajemen. Bagaimana kebijaksanaan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan. Ini justru sangat penting dan sentral, karena semua kebijakan dibawahnya menginduk kepada manajemen. Ibarat bandul, getakan sedikit saja diatas akan menimbulkan swing yang begitu lebar pada level dibawahnya apalagi pada level paling bawah. Begitulah metode REDA yang seyogyanya dapat kita adopsi untuk memperbaiki kinerja operasional di lapangan.

Akhirnya, mudah-mudahan dengan memahami Metode REDA dari Boeing Corporation ini dan menerapkannya dalam kebiatan operasional, dapat sedikit meredakan kemungkinan terjadinya kejadian, mengurangi kecelakaan dan menghindari musibah.

KMO : Jumat Legi, 2 Nov 208
herulegowo@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *