Mengunjungi Gua Hira

Makkah, Kamis, 10 Maret 2011 jam 4 pagi menjelang Subuh. Sesuai janji Asep menjemput saya di hotel. Kami mencari taksi dan sepakat ongkosnya 20 real menuju ke Jabbal Nur dimana Gua Hira terletak. Jabbal Nur kira-kira 10 km dari Masjidil Haram. Sengaja memilih waktu pagi hari untuk mendaki ke Gua Hira. Dengan perhitungan, jika siang sedikit udara pasti akan sangat panas. Jalanan masih sangat sepi, tidak banyak kendaraan lalu lalang. Dalam waktu 20 menit, taksi sudah sampai di lokasi. Lalu bergerak menanjak perlahan kemudian berhenti pada titik awal pendakian ke Jabbal Nur.

Suasana masih gelap. Hanya ada lampu yang menerangi lapak-lapak yang berjualan souvenir dan tongkat, untuk membantu mendaki. Saya menaikkan kerah baju. Udara dingin pagi lebih dari sejuk, mengelus kulit. Tidak menyangka se pagi ini, ternyata sudah ada beberapa jamaah yang dari logat bicaranya tampaknya dari Turki.

Satu demi satu mereka berjalan beriringan. Beberapa dari mereka adalah nenek-nenek yang jalannya sudah setengah terbungkuk. Saya merasa salut kepada semangat mereka. Barangkali pembimbing umrahnya cukup kuat menyarankan agar mereka mendatangi Gua Hira. Sementara itu saya hanya sendirian, karena rekan-rekan tidak ada yang berminat untuk bersama-sama naik ke Jabbal Nur ini.

Menjelang titik awal pendakian, jalanan sudah mulai tegak. Saya membeli tongkat aluminium untuk membantu mendaki keatas. Harganya 10 real. Ini pasti berguna diatas sana nanti, ketika melalui tebing berbatu.

Jam 04.26 pendakian dimulai. Jalan naik berupa tangga yang di semen. Bismillah … Dari sini, jalan raya yang tadi dilewati tampak jauh dibawah, di depan mata Jabbal Nur masih gelap. Perlahan-lahan mulai menapaki satu demi satu jalan naik.

Setelah 45 menit mendaki jalan mulai sempit, berliku dan menanjak. Baju mulai basah dengan keringat dan nafas mulai pendek. Berhenti sejenak disini, tarik nafas. Di ufuk timur masih gelap. Ujung bukit yang berada di depan tidak nampak jelas, hanya remang-remang. Jalan raya dibawah kelihatan terang disinari lampu kanan kirinya. Dari atas sini tampak ada 2 buah jalan raya yang mengapit bukit Jabbal Nur ini.

Saya membayangkan 14 abad yang lalu ketika Muhammad Al Amin menaiki bukit ini, pasti gelap dimana-mana. Pada sekarang ini pun untuk naik kesini perlu kemauan, mental dan keberanian yang tersendiri. Subhanallah …

Di sebelah kanan, dari kejauhan ini Masjidil Haram tampak bersinar putih, tiang menaranya bersinar putih kehijauan. Indah dan artistik! Saya merenung, dan kembali membayangkan situasi 1400 tahun yang lalu.

Ada beberapa ekor kambing yang berkeliaran diatas bukit sini. Heran, makan apa kambing-kambing itu di tempat bebatuan gersang ini? Saya sengaja berhenti agak lama disini, dengan perhitungan akan Shalat Subuh diatas sana, dan melihat matahari yang akan terbit dari balik bukit.

Setelah cukup mengatur nafas, mulai melangkah lagi. Beberapa nenek-nenek tampak berjuang keras untuk naik. Ada yang sampai merangkak, pada tukikan jalan yang terjal. Luar biasa semangat mereka! Dan saya bersyukur sempat membeli tongkat dibawah, ternyata sangat berguna ketika harus menahan tubuh dan menjaga keseimbangan. Jalan naik yang mulai rumit dan terjal.

Pada beberapa titik yang berbahaya, di tepi jurang batu sudah ada pagar besi pengaman. Asep bilang kira-kira dua  tahun yang lalu, ketika dia naik ke sini belum ada pagar pengaman itu. Di beberapa tempat yang datar, ada tempat beristirahat dengan tempat berteduh.

Sepertiga jalan menjelang puncak, banyak pengemis yang cacat di sepanjang jalan. Mereka mengekspose cacat tubuhnya : tangan yang buntung, kaki yang tidak utuh sambil berteriak memelas meminta uang. Saya tidak punya uang kecil, tetapi pengemis itu bilang ada kembaliannya, mau memberi berapa? Dan jadilah seperti sebuah transaksi, pengemis itu memberi kembalian menjadi uang pecahan.

Anehnya, ketika proses transaksi itu terjadi, suaranya yang memelas tidak terdengar sama sekali. Benar-benar profesional. Beberapa pengemis  lain punya cara yang lebih canggih, mereka memperbaiki jalan yang rusak dengan semen kira-kira setengah meter persegi, kemudian meminta jasa “perbaikan” tersebut. Kreatif juga.

Jam 05.06 saya sampai di puncak Jabbal Nur. Perlahan-lahan puncak yang kira-kira hanya seluas 15×20 meter ini, dipenuhi jamaah dari Turki. Ada satu warung sederhana diatas sini, yang menjual souvenir dan minuman panas kopi atau teh. Penjualnya yang tampaknya berasal dari Bangladesh berteriak tanpa henti : “Sai … Sai (teh?) …two real, halal … halal …”

Sejenak kemudian, salah satu dari mereka ada yang adzan. Dan rombongan peziarah dari Turki shalat berjamaah. Saya ikut menjadi ma’mum. Selesai berdoa, saya mencoba segelas teh yang dijual si Bangladesh dengan sepotong kue. Duduk di tepi jurang terjal dan merasakan kehangatan teh. Alhamdulillah … Sungguh tidak menyangka sampai juga disini akhirnya. Di puncak tertinggi bukit Jabbal Nur + 600 meter.

Beristirahat sejenak sebelum melihat Gua Hira. Gua ini terletak di balik puncak bukit, 30 meter sedikit dibawah  puncak sini. Masih gelap, tunggu waktu sedikit lagi biar agak terang. Dari kejauhan sini, Masjidil Haram bersinar kehijauan tampak mungil. Diatasnya tampak menjulang Mecca Mean Time, jam besar dengan diameter 60 meter yang terletak diatas Gedung Makkah Tower.

Peziarah dari Turki mulai menuruni puncak menuju ke Gua Hira. Ribut dengan bahasa yang aneh di telinga. Sebentar kemudian saya mengikuti mereka. Sudah terang, hanya saja matahari belum terbit. Menuruni tangga batu yang diberi pagar besi di tepinya. Harus hati-hati salah-salah bisa tergelincir dan itu berarti fatal.

Beberapa saat kemudian, saya sampai di sebuah lorong, lebih tepat ceruk batu yang hanya pas untuk lewat satu orang, itu pun susah karena sempit. Seorang pria, sibuk berteriak mengatur orang yang akan masuk ke lokasi Gua Hira. Antrian panjang, sambil menunggu saya meng-observasi sekitar. Naik sedikit lagi, dan saya melihat ada celah, diantara bebatuan yang orang bisa menyelinap masuk. Nah, ini jalan lain masuk ke Gua Hira, selain “pintu” dimana orang-orang Turki itu antri satu per satu. Saya menyelinap melalui lubang ini, dan sudah berada di de[an pria yang mengatur pintu. Dia hanya terbengong melihat ulah ada orang yang bisa melewati dia, melalui atas. Selalu ada jalan lain ke Roma, kan?

Masuk di dalam “lorong batu” ini. Saya seperti masuk dalam suatu antrian. Semua orang berteriak. Bahasanya nggak ngerti. tetapi sepertinya mengingatkan agar saling berbagi waktu, agar bisa melihat gua dengan cepat dan bergantian. Lama juga menunggu giliran. Di pintu masuk gua, lagi-lagi ada pria setengah baya yang mengatur agar orang-orang masuk satu per satu bergiliran dan bergantian. Akhirnya setelah menunggu hampir 15 menit, tiba juga giliran saya.

Sejenak saya tertegun. Jadi inilah Gua Hira yang sangat terkenal itu. Tempat dimana Muhammad Al Amin menerima wahyu yang pertama kali. Tempat malaikat Jibril menampakkan wujudnya, memeluk dan menuntun Muhammad untuk membaca : “Iqra … Bacalah!”

Dan ditempat ini pula wahyu pertama turun yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5 yang artinya :

“Bacalah dengan (menyebut) Tuhanmu Yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Saya menyerukan takbir : Allahu akbar … Ditengah hiruk-pikuk orang-orang yang berteriak menunggu giliran, saya memasuki gua. Tidak seperti bayangan semula, gua ini tidak seperti gua yang pernah kita masuki di Indonesia, yang panjang dan berliku-liku itu.

Gua Hira hanya seperti sebuah ceruk di bukit Jabbal Nur, dalamnya kira-kira 2,5 meter menyempit ke dalam. Lebarnya kurang dari 1,5 meter. Jadi pintunya lebih lebar, dari pada ujung didalamnya. Tingginya kurang dari 2 meter. Saya harus membungkuk ketika masuk. Diatasnya ada 3-5 buah batu besar yang bertumpuk saling mengikat, sehingga menjadi semacam atapnya. Ada lantai sederhana dari keramik yang dipasang pada alasnya. Tidak ada yang tampak istimewa. Barangkali pemerintah Saudi Arabia memang tidak pernah mengistimewakan tempat-tempat semacam ini, karena ditakutkan membuat orang jadi memuja dan mengirim sesaji seperti di Jawa dan di Indonesia. Syirik!

Jadi disinilah 14 abad yang lalu, Muhammad Al-Amin menyingkir dari keramaian melakukan uzlah dan khalwat. Muhammad mencoba berhubungan dengan Sang Khalik dan meminta petunjuk untuk melakukan perbaikan moral masyarakat Arab pada zaman jahilliyah itu. Begitu sederhananya tempat ini. Saya masih merenung, ketika teriakan di luar makin keras meminta cepat-cepat. Apa boleh buat, berdoa sejenak membaca Al-Fatihah bagi Rasulullah Muhammad SAW. Semoga Allah Swt memberikan syafaat dan rakhmatNYA bagi beliau beserta keluarga dan sahabatnya. Amin Ya Rabbal Alamin,

Saya cepat-cepat keluar. Belum sempat keluar sudah ada yang menyerobot masuk. Pintu gua masih sangat dipenuhi puluhan orang! Kemudian saya merambat naik ke tempat yang tinggi dan lapang. Dari sini pandangan lepas ke semua arah. Sinar matahari pagi menyirami bukit Jabbal Nur.

Ada beberapa ekor kera yang berloncatan di dinding bukit menanti lemparan makanan dari para pengunjung. Saya mencari tempat tinggi yang tak terhalang. Duduk, merenung dan tafakur sejenak melangitkan doa kehadirat Illahi Rabbi. Bersyukur telah diberi kesehatan dan atas rakhmat-NYA sempat sampai disini. Sedikit ikut merasakan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW.

Masjidil Haram berada di depan mata kalau dalam garis lurus barangkali jaraknya berkisar 10-15 km dari sini. Mecca Mean Time tampak megah menjadi latar belakang Masjidil Haram.

Seorang perempuan muda duduk membaca Al Qur’an. Wajahnya yang khas Arab dengan jilbab, membentuk keindahan yang spesifik. Dengan latar belakang Masjdil Haram. Saya mengambil foto yang artistik ini. Perempuan muda itu tetap serius membaca, tidak peduli dan tampak tidak terusik. Suatu keindahan yang tidak terkatakan.

Beberapa saat saya duduk, menikmati keindahan yang sangat khas ini. Matahari bergerak naik. Jabbal Nur mulai hangat, rombongan dari Turki mulai turun. Setelah menyempatkan diri shalat Dhuha di puncak Jabbal Nur, segera ikut bergegas turun.

Selamat tinggal Jabbal Nur … semoga masih sempat kesini lagi lain kali.

Kemayoran, Selasa, 11 Sept 2018
Ditulis ulang untuk mengenang Gua Hira

One Reply to “Mengunjungi Gua Hira”

  1. Pak Heru, Subhanallah illustrasinya sama seperti saat saya menaiki Jabbal Nur ke gua Hira tahun 1997 siang hari. hanya saat itu tdk ada pagar pelindung. pejiarah rame sekali. turun ke gua Hira sangat sulit. yang sy tidak bisa bayangkan bgmn Rosullah saw menemui gua tersebut 1400 tahun yll, karena pandangan dari gua ke masjiddil Haram tidak terhalang sama sekali.salah satu lagi kebesaran Allah swt. beruntunglah bagi orang yang mendapat kesempatan. aamiin yra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *