Keraton Solo & Jaka Tingkir

Print
Category: Places
Published Date Written by Ki Ageng Pandan Alas

Desa Butuh Sragen menyimpan sejarah yang penting. Disitu dimakamkan raja Pajang pertama yaitu Sultan Hadiwijaya. Pada masa mudanya dikenal sebagai Mas Karebet atau Jaka Tingkir. Raja ini digambarkan humoris, agak nakal dan suka wanita cantik, suka berguru dan sekaligus juga sakti. Para pembaca dan pencinta cerita silat pasti mengenal tokoh ini, Putut Karang Tunggal anak Ki Kebo Kenanga dalam buku cerita "Nagasasra & Sabuk Inten". Dalam buku itu, SH. Mintareja dengan sangat impresif  menggambarkan sosok pemuda yang sakti dan nyentrik ini.

Anak saya paling kecil yang masih sekolah di SMP kelas II ikut membaca buku itu. Saya sendiri cukup surprise Adella Sekar Kinasih membaca dan tahu jalan cerita buku itu. Anak-anak jaman sekarang yang lebih suka bermain gadget dan idola mereka adalah tokoh-tokoh animasi dari komik Manga Jepang seperti : Dora Emon, Naruto, One Piece, Avatar the legend of Ang, dsbnya. Saya bersyukur anak saya ikut membaca dan memahami sejarah Indonesia. Itu menjadi bagian penting dari pembangunan jati diri bangsa. Nah, untuk memberi gambaran yang lebih kuat dari buku yang dibacanya, saya mengajak anak-anak melihat on the spot dan mendatangi secara visual tempat-tempat pada kejadian masa lalu.

 

Keraton Solo

Memasuki keraton Solo dari jalan Slamet Riyadi memberi kesan bahwa jaman dahulu Mataram memang sebuah kerajaan yang besar, berkuasa dan kaya-raya. Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana resmi Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura yang porak-poranda, akibat Geger Pecinan 1743.

Kasunanan Surakarta telah menjadi bagian Republik Indonesia sejak tahun 1945, tetapi kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Dari segi bangunan, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.

Kilas Balik Sejarah

Pada tahun 1677 Kasunanan Mataram kacau akibat pemberontakan Trunajaya. Amangkurat II memindahkan ibukota ke Kartasura. Pada masa Susuhunan Pakubuwana II memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742. Mataram yang berpusat di Kartasura saat itu, mengalami keruntuhannya.

Kota Kartasura berhasil direbut kembali, berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat sekutu VOC, tetapi keadaannya sudah rusak parah. Bangunan Keraton Kartasura hancur dan dianggap sudah tercemar. Susuhunan Pakubuwana II menyingkir ke Ponorogo. Kemudian beliau memutuskan membangun istana baru di desa Sala sebagai ibukota Mataram yang baru. Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, diperintahkan mencari lokasi ibu kota/keraton baru. Selanjutnya dibangun keraton baru berjarak 20 km tenggara dari Kartasura. Tepatnya di desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo.

Setelah istana selesai dibangun, desa Sala kemudian diubah namanya menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.

Keraton Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi, yang kelak bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Beliau juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu, pola dasar tata ruang keraton Yogyakarta dan Surakarta, banyak memiliki persamaan.

Keraton Surakarta tidak dibangun serentak pada 1744-1745, tetapi dibangun secara bertahap. Pembangunan dikerjakan dengan tetap mempertahankan pola dasar tata ruang yang sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwana X (1893-1939). Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitektur gaya campuran Jawa-Eropa.

Menyusuri istana Solo, masih memberi kesan kemegahan di masa silam. Saya membayangkan, bagaimana dahulu Raja Jawa mempertahankan legitimasinya. Melihat luasnya dan keunikan didalamnya, biaya pemeliharaannya pasti besar sekali.

Menyusuri bagian demi bagian Keraton Solo ternyata memberi imajinasi tersendiri bagi anak saya terkecil. Sebagai pembaca cerita Nagasasara & Sabuk Inten membuat Adella dapat membayangkan bagaimana ketika Lawa Ijo muridnya Sima Rodra dari Lodaya bertarung dengan Mahesa Jenar atau Rangga Tohjaya perwira wiratamtama Demak. Dalam bayangan dan imajinasinya ketika berada di dalam istana Solo, Lawa Ijo melayang meloncat masuk melalui atap keraton dan Mahesa Jenar menunggu sambil bersembunyi dibalik pintu. Dan terjadilah pertarungan seperti dalam bukunya SH. Mintareja. Keren!

Dari imajinasi dan visualisasi Adella, saya lalu mengajak dia sekalian untuk melihat makam Raja Pajang, Hadiwijaya. Adella lebih mengenalnya sebagai Jaka Tingkir, Putut Karang Tunggal. Sebenarnya sudah sore dan waktunya sangat terbatas untuk kesana. Lagipula belum pernah kesana. Jadi kami hanya mengandalkan GPS & google map. Ternyata yang paling ampuh adalah bertanya kepada orang!

Makam Jaka Tingkir

Kami sampai di makam Jaka Tingkir jam 5 sore hari, setelah bertanya beberapa kali, karena ternyata GPS tidak dapat menjelaskan secara rinci. Jaraknya hanya 18,5 km dari kota Solo. Makam itu terletak di samping Masjid Butuh, desa Gedongan, Plupuh, Sragen. Tampak biasa saja, jauh dari bayangan saya semula. Yang menandai bahwa itu bukan makam biasa, hanyalah lambang mahkota dan tulisan PB X di atas gerbang masuk makam. Selebihnya tampak biasa saja.

Kompleks makam Jaka Tingkir sangat sederhana untuk ukuran seorang raja besar yang pernah berkuasa. Barangkali karena Jaka Tingkir selain murid Sunan Kalijaga, juga anak Ki Kebo Kenanga murid dari Syech Siti Jenar. Seorang wali yang mengajarkan tentang Wihdatul Wujud, yang di Jawa dikenal sebagai manunggaling Kawula-Gusti. Walau bagaimanapun, keyakinan itu pasti diturunkan atau diajarkan oleh Ki Kebo Kenanga kepada anaknya, Jaka Tingkir.

Di bagian luar kiri depan bangunan makam, ada print-out berwarna yang menjelaskan “9 Alam Yang Dilalui Manusia” yag terdiri dari : Alam Tajalli, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Kubur, Alam Kyamat, Alam Mahsyar, Alam Shiratal Mustaqim, Alam Mizan dan Alam Surga & Neraka. Ajaran Ki Kebo Kenanga sebagai Buyut Plupuh pasti mengajarkan keyakinan itu. Saya yakin, bahwa faham dan keyakinan itu merasuk pada masyarakat di sekelilingnya.

Sesuai keyakinan itu yang percaya bahwa pada dasarnya hidup ini adalah alam kematian dan baru “hidup” setelah mati nanti. Saya menduga itulah yang membuat makam yang tidak begitu luas ini menjadi tampak biasa, sangat sederhana.

Di sebelah kiri bangunan makam agak kedepan sedikit ada potonan kayu, yang konon bagian dari “gethek” atau rakit yang digunakan Jaka Tingkir. Sudah menjadi legenda Jaka Tingkir seorang anak muda yang sakti. Ketika menyusuri Bengawan Solo menggunakan “gethek” ada puluhan buaya yang menyerangnya. Alih-alih dimakan buaya, 40 buaya-baya itu justru malah mendorong dan mengawal “gethek” Sang Jaka Tingkir. Tembangnya Megatruh, syairnya dari babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura, kira-kira begini :

Kami memasuki makam dipandu oleh juru kunci yang masih muda. Pak Aziz adalah keturunan dari kakek dan ayahnya yang menjadi juru kunci makam tersebut. Makam ini adalah makam keluarga besar Ki Pengging Sepuh atau Pangeran Handayaningrat. Semua keturunan Ki Ageng dimakamkan dikompleks itu. Makam Sultan Hadiwijaya berada ditengah-tengah cungkup. Makam yang paling besar dan paling panjang diantara makam yang ada. Setelah membacakan Al-Fatihah dan memanjatkan doa bagi beliau-beliau semuanya, kami segera mundur, keluar dan kembali ke Solo.

Pada perjalanan pulang saya membayangkan bagaimana dulu Jaka Tingkir atau Mas Karebet berjuang sampai menjadi Raja dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Ziarah tadi mengembangkan imajinasi bagaimana dahulu para raja berjuang mencari takhta dan legitimasi. Lalu bagaimana mereka mempertahankan kekuasaannya. Sudah pasti banyak intrik dan trik, baik yang fair maupun yang licik. Selalu menarik mengamati dan membaca sejarah, bagaimana perjuangan Raja Besar dalam meraih cita-citanya.

Yang jelas Adella memperoleh visualisasi dimana Putu Karang Tunggal itu dimakamkan. Putut Karang Tunggal yang pada akhir cerita Nagasasra Sabuk Inten membawa pergi Endang Widuri adik sepupunya. Akibatnya ia harus bertanding satu lawan satu dan menahan serangan Sasra Bhirawa dari Arya Salaka dengan ilmunya Lembu Sekilan.

Anak sekarang pasti sudah tidak tahu kisah itu, kan? 

Minggu, 31 Ags 2015
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Comments   

 
0 #3 Johny Jackson 2018-01-22 02:10
Simply want to say your article is as astounding.
The clearness for your put up is simply nice and i can suppose you are a professional
in this subject. Well together with your permission allow
me to grasp your RSS feed to stay up to date with approaching
post. Thanks 1,000,000 and please continue the rewarding work.


Have a look at my site Johny Jackson: http://bit.ly/2EWLfYx
Quote
 
 
0 #2 Dimas haryo pamungka 2017-08-20 11:46
Bagus mbak catatannya. Boleh japri ?
Quote
 
 
0 #1 m h Dewanto 2017-04-21 12:14
Banyak klirunya pak, laws ijo itu murid pasingsingan bukan sima rodra, trus pertarungan lawa ijo Dan mahesa jenar di keraton demak bukan keraton solo, terima kasih
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Sunday the 18th. http://www.herulegowo.com. Joomla 3.0 templates. All rights reserved.