Wotgaleh & Pangeran Purbaya

Print
Category: Places
Published Date Written by Ki Pandan Alas

Selasa siang 10 Mei 2016, saya berada di gerbong kedua terakhir kereta api Pramex dari Solo ke Jogya. Rekan saya Totok Suharto bercerita tentang Makam Wotgaleh. Saya pernah dengar nama itu, sekilas saja dari salah seorang teman. Lalu saya bilang ke Pak Totok, bagaimana kalau setelah sampai di Maguwo kita langsung ziarah kesana? Dan pak Totok pun setuju. Setengah jam kemudian kami sudah sampai di stasiun Maguwo didepan Bandara Adisutjipto. Lalu saya minta tolong rekan saya Dennis untuk mengantarkan kami ke Wotgaleh.

Makam WotGaleh terletak di Dusun Karangmoncol, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman. Letaknya di sebelah selatan Bandara Adisutjipto. Kami memasuki lokasi melalui gerbang dimana diatasnya ada tulisan melengkung Masjid Sulthoni Wotgaleh. Kami shalat dulu di Masjid Sulthoni Wotgaleh.

Masjid ini konon adalah peninggalan jaman yang dibangun pada tahun 1592 M. Bangunan Masjid Sulthoni panjangnya sekitar 20 meter dan lebar 10 meter. Ada 5 buah pintu yang terbuat dari kayu dengan cat keraton hjau dan kuning.. Tiga buah pintu menghadap ke timur, satu pintu menghadap ke arah selatan, dan satu buah menghadap ke arah utara.

Selesai shalat, saya menuju ke makam Pangeran Purbaya. Pintu makam terletak di sebelah kanan masjid. Di pintu masuk makam ada bangunan kecil yang dijaga oleh juru kunci atau penjaga makam. Kami mohon ijin untuk memasuki makam. Beberapa puluh meter ada lagi bangunan yang menjadi semacam gerbang pintu masuk. Kami terus berjalan. Dan setelah melalui beberapa pintu tersebut, barulah kami sampai pada makam utama. Makam Wotgaleh adalah makam putra Raja Mataram Panembahan Senopati, Pangeran Purbaya I, II, dan III beserta istrinya. Juga ibunda Pangeran Purbaya, Nyai Rembayung salah satu istri Panembahan Senopati, putri dari Ki Ageng Giring III.

Dibawah semacam pendopo kecil ditengah-tengah pemakaman ini, ada 5 buah makam yang ditutup dengan kain putih. Dua yang ditengah berdampingan, di sebelah utaranya ada satu makam yang sendiri. Dibelakang 2 makam utama ada dua makam yang bersampingan. Tulisan kaligrafi pada makam-makam itu berupa aksara Jawa. Kami kesulitan membacanya. Malu juga orang Jawa tetapi tidak bisa membaca aksara Jawa.

Setelah memperhatikan sekeliling makam, lalu kami pun duduk. Berdoa kepada Allah Swt, semoga para ahli kubur ini mendapatkan ridha dan rakhmat dari Allah Swt Amin Ya Rabbal Alamin. Al Fatihah ... Selesai berdoa kami mundur. Saya menyempatkan untuk memotret makam-makam utama itu. Makam para pejabat kerajaan Mataram yang dikenal memiliki kesaktian yang tidak biasa.

 

PANGERAN PURBAYA

Nama asli Pangeran Purbaya adalah Jaka Umbaran. Ia adalah putra Panembahan Senopati yang lahir dari putri Ki Ageng Giring.Babad Tanah Jawi mengisahkan, Ki Ageng Giring menemukan kelapa muda ajaib. Jika airnya diminum habis dalam sekali teguk, maka kerurunan dari yang meminumnya akan menjadi raja-raja tanah Jawa. Ki Ageng Pamanahan yang bertamu ke rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus, tanpa sengaja meminum air kelapa muda itu sampai habis.

Ki Ageng Pamanahan merasa bersalah setelah mengetahui khasiat air kelapa ajaib itu. Ia lalu menikahkan putranya, yaitu Sutawijaya dengan Rara Rembayung anak perempuan Ki Ageng Giring. Namun karena istrinya itu berwajah jelek, Sutawijaya pun pulang ke Mataram dan meninggalkannya dalam keadaan mengandung.

Putri Ki Ageng Giring kemudian melahirkan Jaka Umbaran, diumbar dalam bahasa Jawa artinya ditelantarkan. Setelah dewasa Jaka Umbaran pergi ke Mataram untuk mendapat pengakuan dari ayahnya. Saat itu Sutawijaya sudah bergelar Panembahan Senopati. Melalui perjuangan yang berat, Jaka Umbaran akhirnya berhasil mendapat pengakuan sebagai putra Mataram dengan gelar Pangeran Purbaya.

Naskah babad Jawa mengisahkan putra Panembahan Senopati yang paling sakti ada dua orang. Yang pertama adalah Raden Rangga yang wafat di usia masih muda. Dan yang kedua adalah Purbaya. Ia merupakan pelindung takhta Mataram pada saat dipimpin keponakannya, yaitu Sultan Agung (1613-1645).

Kisah babad Jawa mengisahkan, Raden Purbaya memakamkan ibundanya Rara Rembayung tepat ditempat jatuhnya wahyu. Setelah itu Pangeran Purbaya berkata kepada para pengiringnya, Gandheng papan kene ngemu rasa lan anggonku menggalihake wus suwe banget, ndak jenengke pasarean Wotgaleh. Besuk kanggo sejarah kawula kabeh (Oleh karena tempat ini mengandung makna rasa dan aku pun sudah lama memikirkan untuk meluhurkan pepunden ibuku, maka makam ini kuberi nama Wotgaleh. Kelak makam ini akan menjadi tempat ziarah orang banyak).

Pangeran Purbaya hidup sampai zaman pemerintahan Amangkurat I, putra Sultan Agung. Ia hampir saja menjadi korban ketika Amangkurat I menumpas tokoh-tokoh senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya. Untungnya, Purbaya saat itu mendapat perlindungan dari ibu suri, janda Sultan Agung.

Pangeran Purbaya wafat tahun 1676, pada saat ikut serta menghadapi pemberontakan Trunajaya. Amangkurat I mengirim pasukan besar yang dipimpin putranya Adipati Anom, untuk menghancurkan desa Demung dekat Besuki. Desa ini adalah markas orang-orang Makasar sekutu Trunajaya. Perang besar terjadi di desa Gogodog. Pangeran Purbaya yang sudah berusia lanjut gugur. Purbaya wafat pada hari Minggu Wage sore bulan Oktober tahun 1676 dan dimakamkan di Wotgaleh.

Wotgaleh dipercaya menyimpan kekuatan supranatural. Beberapa kali pesawat latih yang jatuh di sekitar Bandara Adisutjipto, konon disebabkan terbang melintas diatas makam itu. Walaupun pilotnya barangkali tidak sengaja terbang diatasnya.

Kecelakaan pesawat latih terjadi pada tgl 20 Desember 2015 yang lalu. Sebuah pesawat T-50 Golden Eagle mengalami kecelakaan dan jatuh pada waktu melakukan atraksi Gebyar Nusantara di Bandara Adisutjipto Jogjakarta. Dua pilotnya Letkol Penerbang Marda Sarjono dan Mayor penerbang Dwi Cahyono. Pesawat sedang melakukan atraksi loop, tetapi pesawat latih itu tidak mampu recover dan menghunjam ke tanah. Dua pilotnya tewas. Banyak yang menduga pilot itu melintas diatas Wotgaleh, tanpa pilot menyadarinya. Dan akibatnya terjadilah kecelakaan itu. Wallahu'alam.

Wotgaleh menyimpan sejarah masa lalu. Kisah Pangeran Purbaya melengkapi wawasan bagaimana dahulu Kerajaan Mataram membangun kebesarannya. Dan juga menyimpan retorika bagaimana kekuasaan diperjuangkan, diperoleh lalu dipertahankan.

Semua ada masanya dan kebesarannya. Pada saatnya semua kebesaran akan selesai juga pada waktunya. Dan mesti berakhir digantikan yang baru. Sederhana seperti itu.

Add comment


Security code
Refresh

Sunday the 18th. http://www.herulegowo.com. Joomla 3.0 templates. All rights reserved.