Check Your Six

Print
Category: Opinion
Published Date Written by Heru Legowo

Membaca buku Never Fly Solo, sungguh sarat dengan inspirasi. Buku itu ditulis oleh Letnan Kolonel Rob “Waldo” Waldman seorang pilot pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat dan sekaligus seorang bisnisman yang sukses. Dia lulus dari Akademi Angkatan Udara Amerika dan juga mendapat ijazah MBA bidang perilaku organisasi. Buku itu menguraikan pengalaman Waldo selama 11 tahun sebagai seorang pilot pesawat tempur dan pernah terlibat langsung dalam Operation Dessert Storm di Irak. 

Dia kemudian menggambarkan dan mengaplikasikan setiap situasi yang dialaminya, ke dalam perspektif manajemen dan leadership. Sebuah buku yang sungguh inspiratif dengan contoh-contoh yang nyata yang dialaminya sendiri secara langsung.

Pada chapter 3 di bukunya Waldo menguraikan mengenai Check Six Wingmen : They Have Your Back and You Have Theirs. Saya mencoba memahaminya dan sharing kepada pembaca semuanya. Begini katanya :

Check six adalah terminologi pilot pesawat tempur untuk mengamati punggung rekan sesama pilot. Ini sesuai posisi jam 6 pada dunia penerbangan, yang berarti posisi persis lurus di belakang. Posisi jam 6 adalah pilot’s blind spot. Dimana pilot tidak dapat melihat posisi itu dari cockpit-nya. Dalam setiap misi tempur, masing-masing pilot mempercayakan blind spot di belakangnya kepada pengamatan rekan-rekannya. Blind spot tidak dapat dilihat dan dikontrol sendiri. Jadi semua pilot dalam satu tim harus selalu saling melihat, mengamati dan memberi tahu rekannya situasi posisi 6 dibelakangnya. 

Waldo mengalami sendiri situasi ini. Ketika terbang dalam misi tempur di Irak, 3 buah rudal darat ke udara SAM (Surface to Air Missile) milik Irak, mengejar pesawat F-16 yang diterbangkannya. Rekan pilot yang terbang sebagai wingman, melihat SAM mengarah kepada Waldo. Dia segera berteriak : “Break Right ... Break Right ... !!!” Tanpa berfikir dua kali, Waldo segera menarik stik ke belakang dan ke kanan secara penuh. Pesawat F-16 nya naik dengan tajam dan belok ke kanan. Dan 3 buah SAM pun lewat disebelah kiri bawahnya!

Waldo pun selamat! Dari atas dia melihat 3 buah SAM itu kemudian meledak, saling menghantam sendiri. Anda dapat membayangkan jika Waldo tidak mendapat warning dari temannya? Barangkali dia tewas. Jika pun sempat keluar dengan kursi lontar, dia akan jatuh di daerah musuh dan nasibnya menjadi tidak jelas!

MANAJEMEN

Begitu juga analoginya dalam sebuah perusahaan. Adakalanya pemimpin atau siapa pun juga dalam organisasi, tidak tahu posisi jam 6-nya. Dia tidak tahu blind spot-nya! Pada saat semacam itulah dia membutuhkan seseorang untuk memberitahu kepadanya situasi blind spot dibelakangnya. Jika tidak mendapat masukan dan saran dari rekannya, dia bisa mendapat masalah atau bahkan musibah yang tidak disadarinya akan menimpa dirinya.

Tampaknya sederhana seperti itu, tetapi pada prakteknya tidak mudah. Para pemimpin, para boss biasanya sangat percaya diri agak gengsi kalau orang melihat blind-spot-nya. Pada umumnya mereka merasa semuanya berjalan sesuai rencana dan baik-baik saja. Tidak mudah memang memberitahu seseorang mengenai situasi di belakangnya, yang tidak mampu dia lihat sendiri.

BEBERAPA SYARAT

Oleh sebab itu lalu ada beberapa hal yang dilakukan agar proses mengetahui blind-spot ini dapat berjalan dengan baik. Pertama, harus ada trust. Saling percaya! Tanpa ada trust semuanya tidak akan terjadi. Kita saling percaya kepada teman-teman untuk membaca dan memberitahu tentang posisi jam 6 kita. Tentu saja teman-teman itu adalah teman yang terpilih. Tidak dapat hanya sembarang teman, karena masukannya bisa tidak real dan bisa saja masukan yang ada pamrihnya. Teman-teman terpilih itu adalah wingman kita.

Ke dua, adalah komunikasi yang efektif. Komunikasi yang jelas dan tidak bias. Loud and clear! Tidak garble yang dapat membuat salah pengertian. Komunikasi selain dengan dengan kata-kata, kalimat dan intonasi suara juga saran yang terkandung didalamnya. Bagaimana yang hendak kita sampaikan itu dapat diterima dengan benar dan tidak malah membuat salah persepsi. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama.

Ke tiga, masukan yang jujur dan apa adanya. Memberitahu tentang sesuatu yang terjadi di tempat yang tidak kita ketahui, harus datang dari teman yang kita percayai. Selain itu apa yang dikatakan mestilah disampaikan dengan jujur, apa adanya demi kebaikan dan kepentingan yang bersangkutan. Pada akhirnya masukan itu juga akan  bermuara kepada kepentingan bersama.

Ke empat, saling mendukung. Ini sangat penting apa pun yang kita berikan sebagai masukan adalah dalam rangka mencapai misi bersama. Seperti pada kasus diatas dimana Waldo yang mendapat warning dari rekannya, suatu saat gantian kita yang harus memberi masukan bagi rekan yang lain. Saatnya kita juga harus memberi masukan dengan jujur dan apa adanya, demi keberhasilan rekan kita. Jangan membiarkan rekan kita mendapat masalah, jika kita tahu sebabnya. Semestinya kita lalu memberi saran kepadanya, untuk menghindari masalah tersebut.

Demikianlah yang dapat saya fahami dan saya petik dari sebagian buku itu, mohon maaf jika salah ...

Kemayoran, 14 Januari 2018
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Add comment


Security code
Refresh

Sunday the 18th. http://www.herulegowo.com. Joomla 3.0 templates. All rights reserved.